Mshop-leaderboard-mobile
Finance

Asuransi Jiwa Pada Tahun 2018, Masih Prospektif

asuransi digital
Ilustrasi: 123rf

Berdasarkan data yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri asuransi jiwa tumbuh naik dua digit hingga kuartal ketiga 2017. Secara total, pertumbuhan premi asuransi jiwa sampai dengan September 2017 tumbuh sebesar 37,76% menjadi Rp 131,84 triliun.

Sementara itu, dari sisi hasil investasi tahun 2017, industri asuransi jiwa telah mencatatkan pertumbuhan sebesar 32,85% atau Rp 30,73 triliun. Dari sisi aset, industri asuransi jiwa mencatat kenaikan sebesar 26,28% menjadi Rp 486,5 triliun hingga kuartal ketiga 2017.

“Selain membaiknya kondisi perekonomian Indonesia secara makro, pertumbuhan kinerja industri asuransi dipengaruhi juga oleh program dari regulator (OJK) yang salah satunya adalah gerakan inklusi keuangan yang memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai informasi, produk dan layanan keuangan dimana salah satunya adalah asuransi,” ucap Hendrisman Rahim, Ketua Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI).

Proyeksi industri asuransi jiwa di Indonesia menjanjikan prospek yang sangat baik ke depannya. Pengalaman selama ini membuktikan bahwa dalam kondisi perekonomian yang biasa saja, industri asuransi jiwa tetap tumbuh. Adapun estimasi pertumbuhannya sendiri berkisar di angka antara 10% hingga 30%.

“Dalam 10 tahun terakhir, pertumbuhan industri asuransi jiwa di Indonesia selalu meningkat dalam kisaran 10% hingga 30%. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 255 juta, hanya sekitar 7,5% yang memiliki asuransi. Jelas bahwa pasar asuransi jiwa di Indonesia masih terbuka luas,” ucap pria yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Jiwasraya (Persero) ini.

Hendrisman mengakui kondisi itu menjadi peluang sekaligus tantangan bagi pelaku industri asuransi jiwa termasuk juga Jiwasraya. Karenanya, Jiwasraya berupaya untuk dapat meningkatkan penetrasi pasar dengan cara meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya berasuransi.

Tahun depan, Kepala Departemen Kode Etik dan Best Practices Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) Adi Purnomo Wijaya memperkirakan, perolehan total premi di industri ini bisa mencapai Rp 223,27 triliun. Dengan kata lain, tumbuh 15,57% dibanding proyeksi pencapaian sepanjang tahun ini yang sebesar Rp 193,19 triliun.

Meski begitu, proyeksi untuk tahun depan 2018 masih lebih rendah dari proyeksi pertumbuhan hingga akhir tahun 2017. Adi memperkirakan, pertumbuhan total premi untuk tahun 2017 bisa menembus 16,2% dibanding capaian tahun 2016. Menurutnya, konsumen berpotensi wait and see dalam mengonsumsi produk asuransi.

Namun, bukan berarti tidak ada peluang. Menurutnya, perusahaan yang mampu berinovasi di tengah kemajuan teknologi bisa meraup kue yang cukup besar. Hal ini juga disetujui oleh FWD Life sebagai salah satu pemain di dalamnya. Kehadiran teknologi di industri ini, memberikan warna tersendiri dan peluang bagi para pemain di dalamnya. Termasuk kehadiran para pelaku financial technology atau jamak dikenal sebagai fintech.

“Kami masih optimistis untuk tahun depan karena sudah ada rencana akan menghadirkan berbagai inovasi baru dan target kami pun dipatok semakin besar lagi. Asuransi jiwa ini tumbuh cukup baik. Begitu juga untuk tahun depan. Kami melihat mungkin tahun depan, pertumbuhannya kurang lebih sama. Kondisi ini terpicu karena masyarakat sudah mulai teredukasi akan pentingnya asuransi,” ujar Rudi Kamdani, Wakil Presiden Direktur PT FWD Life Indonesia.

Rudi menyebutkan, salah satu poin sukses industri ini adalah tingkat literasi keuangan masyarakat. Pasalnya, masyarakat yang telah paham akan literasi keuangan ini semakin selektif dalam melakukan konsumsinya dan melarikan pendapatan yang siap dibelanjakan (disposable income) untuk saving juga investasi, termasuk ke produk asuransi. Dengan kehadiran teknologi, masyarakat pun semakin mudah melakukan pengaturan keuangan mereka.

Selain itu, para pemain yang bisa menghadirkan produk yang memudahkan konsumen juga akan memiliki daya jual tersendiri. Kemudahan dalam mengakses produk keuangan juga menjadi konsentrasi OJK dalam meningkatkan inklusi keuangan masyarakat. Lagi-lagi, permasalahan ini bisa terjawab melalui teknologi.

“Strategi FWD pun mengarah ke sana. Soal aksesibilitas, saat ini masyarakat tidak perlu ke kantor cabang atau kantor pemasaran untuk mendapatkan produk kami. Tapi pekerjaan rumah kami untuk tahun depan masih soal edukasi mengenai literasi keuangan. Tanpa edukasi, kerja keras kami akan bertambah lebih keras lagi. Karena produk asuransi ini belum menjadi kebutuhan utama dari masyrakat,” jelas Rudi.

AAJI melihat, saluran distribusi pemasaran melalui bancassurance masih menjadi unggulan bagi perusahaan asuransi dalam memasarkan produk dan meningkatkan pendapatan premi. Menurut catatan mereka, kanal pemasaran distribusi melalui bancassurance ini berkontribusi sebesar 43,2% dari pendapatan premi atau meningkat sebesar 33,7% secara year-on-year.

Selain itu, perluasan distribusi pemasaran juga dilakukan oleh perusahaan asuransi melalui penerapan fintech menjadi salah satu faktor yang mendorong pertumbuhan kinerja industri asuransi.

Most Popular








To Top