Consumer Goods

80% Orang Indonesia Diet Ketat, Ini Peluang Pemasar

80% Orang Indonesia Diet Ketat, Ini Peluang Pemasar 35145499_xl
Photo Credit: 123rf.com

Konsumen Indonesia kian hari kian bervariatif. Jika dulu ada ungkapan “Makan tak makan, asal ngumpul”. Kini, makan saja tak bisa sembarang makan. Loh, mengapa? Berdasaran Nielsen’s new Global Health and Ingredient-Sentiment Survey, konsumen Indonesia semakin ogah makan banyak dan memilih diet khusus yang sesuai dengan keinginan mereka.

Konsumen saat ini mulai tertarik mengkonsumsi bahan-bahan organik, rendah lemak, rendah karbohidrat, atau bahkan tidak mengkonsumsi bahan-bahan tertentu, baik itu karena alergi terhadap makanan/minuman ataupun kepercayaan pribadi.

Sebanyak 80% responden mengatakan bahwa mereka menjalankan diet yang membatasi atau melarang mengkonsumsi makanan/minuman. Hampir dua pertiga konsumen (64%) mengatakan mereka bersedia membayar lebih untuk makanan/minuman yang tidak mengandung bahan-bahan yang tidak mereka diinginkan.

“Konsumen kini lebih sadar akan pola makan sehat. Karena itu, mereka ingin menerapkan pola makan yang dapat mengatasi masalah-masalah kesehatan,” ujar Yudi Suryanata, Executive Director Consumer Insights Nielsen Indonesia.

Yudi melanjutkan, kondisi ini dapat menjadi peluang bagi produsen makanan maupun peritel. Produsen bisa menawarkan produk-produk yang diformulasikan khusus untuk mereka yang memiliki sensitivitas terhadap makanan/minuman ataupun mereka yang menjalani diet khusus.

“Sementara itu, di sisi peritel, mereka dapat membantu dengan cara menyediakan variasi produk-produk makanan/minuman yang dapat memenuni berbagai kebutuhan konsumen di toko mereka,” tutur Yudi,

Kendati demikian, menciptakan produk bukan lah satu-satunya pendekatan untuk menggaet segmen konsumen unik ini. Lebih lanjut, produsen dan peritel perlu mengidentifikasi segmen-segmen yang punya potensi, bagaimana mendekati konsumen tersebut, lalu kemudian menyesuaikan pesan dengan produk yang mereka inginkan.

Adapun, hasil riset ini menyatakan, ada tiga pendorong utama terbentuknya tren pola makan khusus ini. Pertama, meningkatnya sensitivitas terhadap makanan/minuman. Hampir setengah (48%) dari responden Indonesia mengatakan bahwa mereka atau anggota keluarga mereka memiliki alergi terhadap satu atau lebih makanan/minuman.

“Alergi terhadap kerang-kerangan adalah yang tertinggi, dilaporkan oleh 17% responden, disusul oleh telur (15%) dan ikan (13%),” tulis laporan tersebut.

Kedua, preferensi diet. Delapan dari sepuluh (80%) responden mengikuti diet khusus yang membatasi konsumsi makanan/minuman tertentu. Halal merupakan faktor yang paling banyak disebut oleh responden (50%). Responden juga mengurangi makanan/minuman yang tinggi lemak (37%), gula (30%) dan karbohidrat (22%).

Ketiga, adanya bahan-bahan makanan yang dihindari. Konsumen Indonesia tidak menyukai bahan-bahan tiruan. Tujuh dari sepuluh (74%) konsumen mengatakan bahwa mereka menghindari pengawet buatan, diikuti oleh perasa buatan (72%) dan pewarna buatan (71%).

Hasil survei di Indonesia itu tak jauh beda jka disandingkan dengan hasil survei serupa secara global. Alergi terhadap produk olahan susu atau laktosa dan kerang-kerangan merupakan yang terbanyak dilaporkan responden global, masing-masing oleh 12% responden.

Sekitar dua pertiga (64%) responden mengatakan mereka mengikuti diet yang membatasi atau melarang konsumsi beberapa makanan/minuman. Yang mana, tren ini tertinggi terjadi di Afrika dan Timur Tengah (84%), serta Asia Pasifik (72%).

Dua pertiga konsumen global (68%) mengatakan mereka bersedia membayar lebih untuk makanan/minuman yang tidak mengandung bahan-bahan yang tidak mereka inginkan.

“70% responden global mengatakan bahwa mereka membuat pilihan diet secara aktif untuk menghindari masalah-masalah kesehatan, seperti obesitas, diabetes, kolesterol tinggi atau hipertensi,” sebut laporan itu.

Menurut WHO, penyakit kronis seperti diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular dan kanker diperkirakan menyebabkan 73% kematian secara global pada tahun 2020, meningkat dari perkiraan kasar sebesar 60% di 2001.

Temuan dalam survei ini didasarkan hasil pilihan responden secara online yang tersebar di 63 negara. Walau metodologi survei online dapat mencapai skala yang sangat besar dan jangkauan global, namun metodologi ini hanya memberikan perspektif atas kebiasaan pengguna internet, bukan total populasi.

Sebagai tambahan, respons survei ini berdasarkan perilaku yang diklaim responden, bukan data yang diukur secara aktual. Perbedaan budaya dalam melaporkan sentimen sangat mungkin menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pandangan konsumen di semua negara.

Editor: Sigit Kurniawan

Most Popular








To Top