AMS 2018 Leaderboard
Finance

Alami, Startup yang Bantu Digitalisasi Perbankan Syariah

Perusahaan aggregator syariah di Indonesia PT Alami Teknologi Sharia (Alami) meluncurkan platform digital yang menjadi wadah bagi pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) dalam mengakses pembiayaan ke lembaga keuangan syariah tanah air.

Dima Djani, CEO & Founder Alami, mengatakan pihaknya optimistis menjadi katalis yang merevolusi wajah industri keuangan syariah di Indonesia melalui digitalisasi proses pembiayaan.

“Kolaborasi antara perbankan syariah dan perusahaan teknologi informasi seperti Alami akan memberikan dampak signifikan dalam aspek perekonomian, sekaligus menata kembali wajah industri keuangan syariah,” ucap Dima saat memimpin diskusi panel “Islamic Banking 4.0: The Rise of Technology and Sharing Economy”.

Secara spesifik, Dima menyebutkan bahwa sektor perbankan syariah di Indonesia masih belum memiliki teknologi memadai layaknya perbankan konvensional yang telah memudahkan nasabah dalam mengakses berbagai layanannya.

Dia berujar, kolaborasi menjadi jalan keluar yang efisien dari segi biaya dan waktu yang mana perbankan syariah bisa memanfaatkan inovasi dari perusahaan fintech. “Alami sebagai contoh, telah berhasil menerapkan kolaborasi ini bersama beberapa rekanan institusi keuangan syariah sejak 2017,” terangnya.

Industri keuangan syariah di Indonesia pada dasarnya sangat beragam dari sisi penyedia jasa dan layanan. Industri ini telah mengejewantah mulai dari perbankan, asuransi, multifinance, dana pensiun sampai manajemen investasi. Secara khusus, pemerintah bahkan telah menyiapkan peta jalan yang tertuang dalam kerangka Roadmap Pengembangan Keuangan Syariah Indonesia 2017-2019.

Sampai dengan tahun 2017, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat aset keuangan bank syariah di Indonesia mencapai Rp 897,1 triliun. Nilai aset ini belum termasuk saham dengan proporsi industri perbankan syariah mencapai sebesar Rp 355,9 triliun.

Dalam diskusi yang juga turut mengundang pakar ekonomi syariah dan teknologi itu, didapat hasil bahwa Indonesia membutuhkan inisiatif yang lebih agresif bagi pelaku industri keuangan syariah jika ingin meningkatkan daya saingnya di pasar.

Adiwarman Karim, CEO Karim Consulting memberikan pendapat bahwa butuh waktu lama dan biaya yang besar bagi perbankan syariah agar dapat mengejar ketertinggalannya dari perbankan konvensional. Karenanya, salah satu solusi yang paling efektif adalah dengan memanfaatkan layanan digital yang dimiliki oleh perusahaan fintech.

Head of Investor Relations and Engagement Tryb Group Herston Powers menambahkan, kolaborasi perbankan dengan tekfin pada dasarnya sudah banyak dilakukan oleh banyak negara di dunia. Secara spesifik dalam mengembangkan layanan terhadap pasar yang belum tergarap sebagai inklusi keuangan.

“Ini merupakan hal yang umum di negara mapan maupun negara berkembang,” ujar dia.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top