Grapeshot Leaderboard
Career

Alasan China Jadi Primadona Pelajar Asia Tenggara

Photo Credits: The Irish Times

China kian menjadi primadona bagi pelajar kawasan Asia Tenggara (SEA). Bagaimana tidak, data China University and College Admission System (CUCAS) menunjukkan, 80.000 pelajar SEA pada tahun 2016 mendominasi universitas China dibandingkan pelajar Korea Selatan dan Amerika Serikat (AS). Lalu, apa yang menyebabkan hal ini terjadi?

Jumlah pelajar kawasan SEA di China terus meningkat dibandingkan negara lain. Data CUCAS menunjukkan, jumlah pelajar SEA yang mendaftarkan diri di berbagai universitas China meningkat 15%, dari 69.138 pada 2014 menjadi 80.000 pada tahun 2016. Jumlah ini mengalahkan Korea Selatan yang pada tahun 2016 mencapai 70.540 pelajar. Sementara jumlah pelajar AS justru sedikit menurun dari 24.203 menjadi 23.838 pelajar pada tahun 2016.

China education bar chat

Source: China University and College Admission System

Menurut sejumlah pengamat, hal ini tak terlepas dari inisiatif Belt & Road yang memungkinkan China menjadi negara adidaya di masa depan. Kedekatan kawasan SEA dengan China pun diyakini memperkuat peningkatan jumlah pelajar SEA di China.

Kementerian Komunikasi dan Informatika bahkan telah memberhentikan program beasiswa yang mereka berikan setiap tahun ke berbagai negara di luar Indonesia. Kini, beasiswa yang diberikan hanya terfokus pada dua negara, yakni India dan China.

“Kita tidak lagi bicara sejarah, kita bicara siapa yang akan menjadi masa depan,” kata Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara di Jakarta, Rabu (15/03/2018).

Inisiatif Belt & Road akan berperan dalam hubungan geopolitik dan ekonomi global, termasuk kawasan SEA. Hubungan ekonomi China dan negara kawasan SEA yang pada dasarnya telah terbangun erat akan memperbesar prospek kerjasama di masa depan.

“China semakin kuat dan perekonomian mereka semakin besar. Ada begitu banyak orang China di negeri saya. Belajar di China dapat memberikan saya prospek yang lebih baik di masa depan,” kata salah satu pelajar asal Myanmar, Ko Ko Kyaw kepada Channel News Asia.

Hal ini kian didorong dengan support pemerintah China yang memberikan sekitar 50.400 beasiwa pada tahun 2016. Tak tanggung-tanggung, beasiswa ini mencakup biaya kuliah, akomodasi, dan biaya hidup bulanan. Dengan cara ini, China telah menginvestasi begitu banyak sumber daya untuk mendukung inisiatif Belt & Road.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top