Mshop-leaderboard-mobile
Retail & Property

Alfamart: Marketeer Diuji Ketika Industri Melambat

alfamart
Kredit foto: Ryan Alfons Kaloh

Perusahaan offline harus berbenah di tengah pasar yang penuh disrupsi. Meski offline, proses bisnis di belakangnya harus serba digital sehingga mampu menawarkan produk yang tepat kepada konsumen. Itulah yang dilakukan oleh Alfamart.

Ada sekitar 4,2 juta transaksi yang tercatat di sekitar 13.300 gerai Alfamart setiap harinya. Jumlah member peritel ini pun mencapai sembilan juta. Setiap hari data tersebut berputar dan menyimpan banyak informasi berharga seputar kebiasaan konsumen. Daripada mengendap lama di server, perilaku itu lebih baik digunakan dan dianalisis.

“Dari tahun 2016 sampai 2020, kami sudah punya roadmap transformasi bisnis. Salah satunya adalah memanfaatkan database besar untuk menganalisis behaviour konsumen agar produk yang ditawarkan tepat sasaran berdasarkan historinya ketika berbelanja di Alfamart selama ini. Kami gunakan data digital agar semakin relevan dengan keinginan konsumen,” ujar Ryan Alfons Kaloh, Marketing Director PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Alfamart).

Data historis tersebut membentuk pola sehingga bisa diketahui apa yang akan dibeli konsumen ketika masuk ke Alfamart. Sehingga, penawaran promo produk tepat sasaran sesuai kebiasaan. Mudahnya, tidak lagi ada istilah konsumen pria mendapatkan promosi produk kosmetik ketika masuk ke Alfamart.

“Analisis data berbasis CRM (Customer Relationship Management) itu memang khusus untuk member. Namun, dengan penawaran produk tepat sasaran, kontribusi mereka ke Alfamart mencapai 20%. Mereka pun menjadi kian loyal di mana bisa dua sampai tiga kali seminggu ke toko. Kami menawarkannya lewat aplikasi, SMS, sampai di ujung struk. Masuk ke toko, konsumen akan diberi penawaran relevan,” sambung Ryan.

Memang di tengah perlambatan dunia ritel sekarang ini, setiap pemain diuji agar tetap bisa positif di tengah melambatnya industri. Dengan inovasinya lewat teknologi, Alfamart bisa menembus pertumbuhan di atas 10%.

Menurut Ryan, kuncinya jangan panik. Komunikasikan kondisi sebenarnya kepada partner bisnis seperti pincipal dan yakinkan mereka agar mau jalan bersama. Pasalnya, semua bisnis pasti menghadapi pasang dan surut. Dan, inilah kemampuan seorang marketeer diuji, layaknya seorang nakhoda di tengah ombak. Jika semua peritel bisa melewati masa cukup sulit itu, industri pasti akan jauh lebih tangguh di masa depan.

“Inovasi itu penting karena sekarang Alfamart boleh dikatakan peritel paling tidak kaku. Kami bisa beradaptasi dengan kondisi dan tren apapun. Hasilnya kami berhasil keluar dari pakem industri ritel secara umum dengan pertumbuhan di atas rata-rata,” tutup Ryan, yang meraih The Best Industry Marketing Champion 2017 dari Sektor Retail.

Most Popular








To Top