Government & Public Services

Amerika Serikat Diprediksi Krisis, Apa Dampaknya Bagi Indonesia?

Kondisi pasar global sedikit banyak akan memengaruhi kondisi domestik Indonesia, terutama dari iklim bunga dan mata uang. Sinyal moderasi pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan The Fed yang tidak terlalu agresif, akan membuat tekanan nilai tukar rupiah mereda, sehingga kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia diperkirakan sudah mendekati puncak atau tahap akhir.

Seperti kita ketahui, saat ini muncul proyeksi bahwa Amerika Serikat akan segera mengalami resesi. Proyeksi itu datang salah satunya dari Mantan Gubernur Bank Sentral AS, Janet Yellen.

Katarina Setiawan, Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengungkapkan, hal itu terlihat dari penurunan yang dialami indeks Dow Jones Industrial Average (DJIA) akhir-akhir ini. Namun, Katarina melihat kondisi itu tidak akan memengaruhi bursa saham Asia dan Indonesia. “Ekonomi AS memang akan melambat. Dan, hal itu sudah direspons pasar. Namun, pergerakan bursa saham AS terbilang anomali dibandingkan bursa saham di dunia. Kondisi mereka tidak akan memengaruhi kita,” katanya.

Menurut hitungan Katarina, sudah sewajarnya jika bursa saham AS terkoreksi seiring melambatnya perekonomian mereka. Apalagi, bursa saham AS sudah terbilang mahal. “Lain halnya dengan bursa saham di Asia dan Indonesia yang sudah terkoreksi dari jauh hari sebelumnya. Hal itu membuat bursa saham Indonesia masih sangat menarik karena kinerja perusahaan tetaplah baik,” katanya.

Ezra Nazula, Director & Chief Investment Officer, Fixed Income PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, tekanan terhadap pasar obligasi pada tahun 2019 sudah jauh berkurang. Fundamental ekonomi relatif lebih terjaga. “Langkah preemtif pemerintah dan Bank Indonesia untuk memperbaiki postur fiskal, defisit neraca berjalan dan volatilitas nilai tukar rupiah mendapat respons positif dari investor. Hal ini terlihat dari akumulasi pembelian asing atas obligasi pemerintah Indonesia sebesar Rp 50 triliun yang terjadi pada kuartal keempat tahun 2018 per akhir bulan November,” katanya.

Ezra memperkirakan, stabilitas rupiah dan berkurangnya agresivitas pengetatan moneter, baik dari The Fed maupun Bank Indonesia pada akhirnya akan mampu menopang pasar obligasi pada tahun 2019. Melihat beragam faktor positif dari domestik, tingkat inflasi Indonesia di tahun 2019 diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 3,7% – 4,2%. “Dengan tingkat inflasi di level tersebut, beserta imbal hasil US Treasury 10-tahun yang terjaga di level 3% – 3,5%, kami memperkirakan tingkat imbal hasil obligasi Indonesia untuk tenor 10 tahun dapat turun mencapai level 7% – 7,5%,” kata Ezra.

Manulife pun memprediksi ekonomi AS belum akan menghadapi krisis. Pemerintah dan Bank Sentral AS bakal melakukan segala cara untuk menghentikan potensi dari krisis. “Memang ada kekhawatiran. Tapi, saya rasa hal itu belum akan terjadi pada tahun 2020,” kata Ezra.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top