Government & Public Services

Bantu UKM, Berikan Kail dan Bukan Ikan

Bantu UKM, Berikan Kail dan Bukan Ikan 2016-09-13-PHOTO-00000089
Kunjungan ke Museum YDBA | Photo Credit: Marketeers

Asian SME Conference 2016 akhirnya digelar untuk keempat kalinya di Jakarta, Selasa (13/9/2016). Bertajuk Small Business or Start ups – Entrepreneurship, Productivity, Creativity, acara selama lima hari ini diawali dengan kunjungan peserta ke kantor Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA) dan ke kantor Martha Tilaar Group.

Dalam kunjungan ke YDBA, para peserta yang berasal dari berbagai negara seperti Singapura, Tiongkok, Malaysia, Arab Saudi, Australia hingga Kanada dan Austria ini mendengarkan dengan seksama pemaparan komprehensif dari manajemen YDBA mengenai bagaimana YDBA merangkul UMKM.

Presiden YDBA Henry C. Widjaja mengatakan YDBA merupakan satu dari sembilan yayasan di bawah Astra Group yang khusus menangani pemberdayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Indonesia. Berdiri pada 2 Mei 1980, YDBA hadir untuk memberikan pelatihan, advokasi, serta fasilitas pemasaran dan pendanaan kepada para UMKM.

“Prinsip kami adalah memberikan kail bukan ikan. Sehingga, kami tidak memberikan dana langsung kepada UMKM, melainkan membantu mereka melakukan capacity building dan akses pendanaan untuk kemajuan usahanya,” tuturnya di Museum YDBA, Jakarta.

Henry melanjutkan, YDBA memiliki empat kategori UMKM yang menjadi target pembinaan antara lain UMKM yang bergerak di bidang manufaktur (subklon), perbengkelan, kerajinan tangan, dan agribisnis. Masing-masing kategori memiliki program pelatihan yang berbeda-beda.

“Akan tetapi, kami memiliki misi untuk mencetak self-reliant UMKM alias pengusaha yang mampu mandiri dan berdiri sendiri. Memang tidak gampang, namun bukan berarti tidak mungkin,” kata Henry.

Dalam perjalanannya, YDBA membina dan mengembangkan UMKM yang terkait dengan bisnis Grup Astra (subkontraktor dan bengkel) maupun UMKM yang tidak terkait dengan bisnis Grup Astra. Untuk UMKM yang terkait dengan rantai bisnis Astra, mereka berperan sebagai pemasok barang-barang yang dibutuhkan dalam produksi otomotif, baik Honda, Toyota, maupun Daihatsu.

“Ada sekitar 279 jumlah UMKM yang menjadi pemasok barang-barang untuk keperluan manufaktur bisnis otomotif kami. Sedangkan, 74 UMKM menjadi pemasok barang-barang yang sama ke perusahaan lain di luar Astra,” katanya panjang lebar.

Henry melanjutkan, pada tahun lalu, Astra telah membantu pelatihan dan pendampingan kepada 9.182 UMKM di Indonesia. Yang terbesar adalah UMKM yang memperoleh manfaat dari Lembaga Pengembangan Bisnis (LPB) yang dibuat YDBA. Jumlahnya mencapai 3.226 UMKM.

Sedangkan, UMKM yang memperoleh manfaat dari Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang diciptakan Astra mencapai 4.255 UMKM.

“Saat ini ada 16 LPB di Indonesia dan 10 LKM yang memberikan fasilitas keuangan kepada para petani maupun pengusaha kecil di daerah-daerah di Indonesia. Kami akan meningkatkan jumlah LPB dan LKM di Tanah Air,” terangnya.

Henry mengaku, YDBA telah berhasil menciptakan 22.000 tenaga kerja dari para UMKM binaan YDBA. Dari 9.000an UMKM binan YDBA, baru 90 UMKM yang termasuk kategori self-reliant. Adapun pendanaan berupa pinjaman dari Grup Astra, seperti Permata Bank dan Astra Modal Ventura, kepada para UMKM mencapai Rp 419 miliar pada tahun 2015.

“Ada satu UMKM tahun 1980an yang menjadi mitra YDBA. Kini perusahaan itu menjadi perusahaan besar. Itu yang kami sebut sebagai UKM yang berhasil self-reliant dan tumbuh menjadi besar,” akunya.

Komitmen Mempercantik Indonesia

Komitmen yang sama juga tertuang dalam visi-misi Martha Tilaar Group, salah satu pabrikan kosmetik terbesar di Indonesia. Ada empat fokus pelatihan UMKM yang dilakukan Martha Tilaar Group, antara lain beauty green, beauty culture, beauty education, dan empowering women.

Salah satu program yang dilakukan Martha Tilaar adalah pelatihan kepada para perempuan untuk menjadi terapis profesional. Para perempuan itu mendapatkan fasilitas asrama, serta kesempatan untuk bekerja di Martha Tilaar Salon Day Spa.

Sampai saat ini, MTG sudah mendidik sekitar 4.500 perempuan menjadi terapis profesional. Setelah lulus, mereka bisa berkarier sebagai terapis di Martha Tilaar, maupun mereka membuat usaha salon atau spa sendiri di daerahnya.

Untuk pilar Beauty Green, program pemberdayaan UMKM dilakukan dengan mengajarkan para komunitas petani lokal bagaimana cara memproduksi tanaman yang berkualitas.

Program yang berlangsung sejak tahun 1996 itu, dinilai telah membantu petani untuk bisa menjual produk dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga pasar.

“Martha Tilaar berawal dari usaha kecil di sepetak garasi mobil. Saya rasa berkat semangat dan tekad untuk memanfaatkan kekayaan alam Indonesia sebagai modal untuk cantik, kami mampu menjadi perusahaan yang tumbuh berkesinambungan,” ucap Martha Tilaar begitu santun saat menyambut partisipan di kantornya, di Kawasan Industri Pulo Gadung, Jakarta Timur.

Martha melanjutkan, menjadi seorang pengusaha baik besar maupun kecil harus memiliki modal satu hal, yaitu kesabaran. “Tidak ada sukses diraih secara instan. Semuanya butuh proses. Dan ini yang harus diilhami oleh para UMKM di manapun,” imbuhnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular








To Top