Technology

Banyak Perusahaan Belum Siap Akan Ancaman Serangan Siber

Saat ini, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mengelola risiko digital. Survei Digital Trust Insights PwC mendapati bahwa perusahaan-perusahaan dari segala ukuran sama-sama tidak siap, baik dalam menghadapi ancaman-ancaman maupun melindungi dirinya sendiri dan para pelanggannya.

Temuan lainnya adalah, hanya 53% perusahaan mempraktikkan manajemen risiko yang proaktif dalam proses transformasi digitalnya. Hanya sebagian kecil perusahaan (23%), bahkan pada tingkat valuasi di atas US$ 100 juta, mengaku berencana untuk menyelaraskan upaya-upaya kewaspadaan keamanan dengan tujuan-tujuan bisnisnya.

Sementara, hanya 27 % pejabat eksekutif yang yakin bahwa direksinya mendapatkan metrik-metrik yang mencukupi terkait manajemen risiko siber dan privasi. Walaupun 81% pejabat eksekutif menganggap Internet of Things (IoT) penting bagi bisnisnya, hanya 39% di antaranya sangat yakin bahwa kendali “kepercayaan digital” disertakan di dalam pemanfaatan IoT.

Keyakinan pada SDM, proses, dan teknologi sangat penting untuk membangun dunia digital yang aman. Lebih dari sekadar menanggulangi risiko, perusahaan harus secara tuntas mengintegrasikan dan menyelaraskan isu-isu keamanan siber ke dalam strategi bisnisnya. Perusahaan dapat memperoleh keunggulan kompetitif dengan menjadi penyedia yang terpercaya dalam hal keselamatan, keamanan, keandalan, privasi, dan etika data.

“Prioritas risiko siber telah berevolusi dari focus pada keamanan informasi menjadi fokus yang lebih holistik, yaitu pada manajemen risiko digital,” ujar Sean Joyce, Cybersecurity and Privacy Leader dari PwC AS.

Sementara itu, Subianto selaku Risk Assurance Leader dari PwC Indonesia berkomentar bahwa survei Digital Trust Insights PwC menemukan bahwa hanya 20% responden di Asia Pasifik yang cukup nyaman dengan kondisi di mana perusahaan menyampaikan laporan yang memadai kepada direksi tentang metrik-metrik manajemen risiko siber dan privasi.

“Selain itu, hasil temuan di Asia Pasifik menemukan bahwa hanya 39% responden berencana berinvestasi untuk keamanan IoT dalam 12 bulan ke depan, dan ini termasuk Indonesia. Oleh sebab itu, penting agar perusahaan-perusahaan di Indonesia mulai membangun kepercayaan digital agar dapat bertahan di masa depan.”

Survei Digital Trust Insights merinci mekanisme yang diperlukan oleh badan-badan usaha untuk membangun kepercayaan digital dalam lanskap risiko siber yang terus berevolusi – dan mengidentifikasi peluang untuk meningkatkan keamanan dan privasi serta membangun kepercayaan konsumen. Beberapa di antaranya adalah melibatkan para ahli keamanan sejak tahap awal proses transformasi digital, meningkatkan kesadaran dan akuntabilitas karyawan, dan menyertakan keamanan sebagai salah satu sasaran bisnis.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top