SMEMBA 2018 Leaderboard
Communication

Benarkah Gen Z merupakan Generasi Narsis?

Photo Credits: MRMW

Generasi Z (Gen Z) menjadi salah satu generasi yang cukup sering diperbincangkan pemasar beberapa waktu belakangan. Selain terbuka dengan teknologi baru dan tergila-gila dengan micro-storytelling, Gen Z yang lahir di tahun 1996-2010 ini dikatakan Founder dan Chief Executive DailySocial.id Rama Mamuaya juga dominan dengan karakter narcissistic.

Kecenderungan Gen Z dalam penggunaan media sosial diyakini Rama telah membentuk karakteristik narcissistic mayoritas generasi ini. Fitur yang tengah populer, seperti YouTube Live, Instagram Live, atau pun Facebook Live mendorong hasrat mereka untuk mendapatkan pengakuan dari peer mereka.

“Mereka butuh apresiasi dari kawan-kawan mereka terhadap aktivitas yang mereka pamerkan di media sosial,” ujar Rama kepada Marketeers.

Temuan Google terkait “how digitally savvy are generation Z?” menunjukkan, 89% dari Gen Z merasa menggunakan internet adalah hal yang menyenangkan, dan 65% mengaku senang mem-posting konten mereka di dunia online. Sementara 57% juga mengaku sering berbagi konten mengenai apa yang mereka lakukan secara online.

Lantas, bagaimana membidik market ini?

Gen Z memang amat terbuka dengan teknologi baru. Mereka memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Sayangnya, mereka tak mudah termakan oleh iklan.

“Yang jelas, brand harus bisa memahami aktivitas digital di kalangan Gen Z. Agak mirip dengan milennials, namun Gen Z lebih mengarah kepada produk, sementara milennials kepada services,” ungkap Managing Director Technology Consulting Lead Accenture Indonesia Leonard Nugroho.

Rama melanjutkan, Gen Z ini lebih senang mengonsumsi konten-konten yang bersifat micro-storytelling. “Mereka suka hal yang singkat dan biasanya berisi video. Secara umum, ini mirip dengan Twitter, namun dalam bentuk storytelling berupa video. Kalau Twitter ada microblogging, saat ini di sebut micro-storytelling, seperti IG story atau SnapChat Story,” kata Rama. Faktanya, 27% Gen Z menonton video online setiap hari, 26% lain secara mingguan, dan 22% lain secara bulanan.

Tidak hanya itu, musik juga menjadi salah satu cara pemasaran yang bisa digunakan untuk mendekati generasi ini. Pasalnya, studi ini menemukan Gen Z di Indonesia lebih menyukai musik dibandingkan para milennials. Google pun menemukan, 93% Gen Z menggunakan smartphone mereka untuk mendengarkan musik. Bentuk kolaborasi konten pemasaran yang melibatkan video dan musik pun dapat dipilih brand untuk menyasar generasi ini.

Pada akhirnya, brand harus mampu mengakomodir naluri narcissistic mayoritas generasi ini dengan mewadahi mereka dalam berkreativitas dan menunjukkan diri mereka kepada khalayak.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X








To Top