Consumer Goods

Bisnis Lotte Choco Pie Indonesia Belum Semanis Jepang dan Korea

Photo Credits: Marketeers

Tren jasa titip snack asing mendorong para produsen untuk membuka bisnis mereka langsung di Indonesia, tak terkecuali Lotte Choco Pie. Meski terlihat banyak dicari, bukan berarti bisnis ini mudah dijalani. Berbagai tantangan, mulai dari persoalan distribusi hingga adaptasi harga pasar menjadi masalah utama yang perlu diadopsi. Lantas, apakah bisnis Lotte Choco Pie di Indonesia semanis bisnis mereka di Jepang dan Korea Selatan?

Secara penjualan, Indonesia memang bukan pasar terbesar Lotte Choco Pie. Jepang dan Korea Selatan masih menjadi pasar utama, diikuti Rusia, India, dan Pakistan. Secara global, Indonesia hanya menyumbang 5% bagi bisnis Lotte Choco Pie.

Meski demikian, pertumbuhan Lotte Choco Pie di Indonesia terbilang cukup positif. Masuk ke dalam kategori soft cake, Lotte Choco Pie menguasai 25% market share meski distribusi mereka terbilang masih sempit.

“Kami baru menjangkau wilayah Jawa, dan beberapa titik di kawasan Sumatera dan Sulawesi. Tahun depan, kami akan fokus memperluas distribusi ke berbagai wilayah Indonesia bagian lain,” ungkap Yusuke Kawabata, General Manager of Marketing and Administration LOTTE Indonesia kepada Marketeers.

Sadar berada di tahap awal bisnis ini, Lotte Choco Pie memperkuat pemasaran mereka di ranah Above the Line (ATL). Tujuan utama dikatakan Yusuke masih untuk memperkuat awareness.

“Di Jakarta, awareness kami sudah cukup tinggi. Untuk itu, per tahun depan kami akan fokus meningkatkan brand awareness di sejumlah local area di luar Jakarta. Tahun depan, kami juga akan menambah 50% kapasitas produksi yang lebih besar dari tahun ini,” ujar Yusuke.

Adaptasi Penjualan di Warung

Sambil mengadaptasi pasar, Yusuke melihat ada peluang besar dari warung-warung Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia.

“Warung-warung kecil memberikan kontribusi yang besar. Jika di minimarket dan supermarket kebanyakan pembeli mencari Choco Pie dalam kemasan besar yang terdiri dari beberapa pcs, maka di warung-warung disediakan Choco Pie satuan yang dibanderol Rp 2.500 saja. Responsnya positif.” ujar Yusuke.

Yusuke mengatakan inovasi kemasan sachet ini ternyata menarik banyak pembeli di warung. Hal ini juga tak lepas dari keinginan Lotte Choco Pie untuk memperluas pasar mereka. Tak hanya bagi konsumen urban dengan kelas sosial menengah ke atas, mereka juga ingin menggarap pasar rural area dan berbagai kelas sosial.

Akankah cara ini menjadikan bisnis Lotte Choco Pie di Indonesia semanis Jepang dan Korea Selatan?

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top