Mshop-leaderboard-mobile
Lifestyle & Entertainment

Cara Kreatif Dorong Pemerintah Integrasikan Asuhan Paliatif

Cara Kreatif Dorong Pemerintah Integrasikan Asuhan Paliatif Ibu-Kartika-CEO-Rachel-House
Photo Credits: Yayasan Rumah Rachel

Lebih dari 700 ribu anak Indonesia berdasarkan Journal of Pain and Symptom Management 2017 dinyatakan mengidap penyakit berat. Sementara The Economist melansir, Indonesia berada pada peringkat ke-53 dari 80 negara dalam hal kualitas kematian. Sejumlah pihak pun tergerak untuk menginisiasi asuhan paliatif di Indonesia, termasuk Yayasan Rumah Rachel. Upaya mengintegrasikan asuhan paliatif dilakukan, salah satu caranya adalah melalui kampanye #IfIHad1MoreDay.

Belakangan, media sosial ramai dengan kampanye #IfIHad1MoreDay dan #HariTerakhirSaya yang terpampang dalam sebuah layar berlatar belakang hitam dengan tulisan “I Would….”. Kampanye ini merupakan inisiasi Yayasan Rumah Rachel guna mendorong pemerintah dalam mengintegrasikan asuhan paliatif dalam setiap jenjang sistem kesehatan Indonesia.

“Melalui kampanye ini, kami menggerakkan masyarakat untuk mengisi kampanye digital dan offline  melalui The Living Wall di Cilandak Town Square dengan mengisi apa keinginan mereka jika hari ini adalah hari terakhir yang mereka miliki. Melalui cara ini kami berharap dari sisi level kebijakan, layanan asuhan paliatif dapat tersedia di seluruh fasilitas kesehatan,” kata CEO Yayasan Rumah Rachel Kartika Kurniasari di Jakarta, Jumat (13/10/2017).

World Health Assembly (WHA) telah mengimbau resolusi aturan mengenai asuhan paliatif pada tahun 2014. WHA menyatakan, asuhan paliatif wajib tersedia bagi siapa pun yang hidup dengan penyakit berat.

“Data statistik Rumah Sakit Dharmais menunjukkan lebih dari 50% pasien yang datang sudah berada di stadium akhir. Namun, paliatif tidak dimulai sejak pasien berada pada fase akhir kehidupan, melainkan sejak pasien didiagnosi,” kata Dokter Edi Tehuteru.

Sayangnya, mayoritas masyarakat dikatakan Edi masih memandang asuhan paliatif hanya dibutuhkan ketika umur seorang pasien segera berakhir. Padahal, ada dua komponen utama yang dipelajari paliatif, yakni manajamen gejala dan mempersiapkan pasien di akhir kediupannya.

Kampanye digital #IfIHad1MoreDay dan #HariTerakhirSaya, serta The Living Wall berupa papan tulis raksasa di atrium Cilandak Town Square dikatakan Kartika bertujuan untuk menyentuh hati pembaca dan merenungkan makna dari kalimat tersebut.

The Living Wall mengundang warga Jakarta untuk merenungkan betapa berharganya setiap hari yang kita miliki dan menyadari bahwa ada banyak anak-anak yang hidup dengan penyakit berat, yang mungkin tidak memiliki hari esok,” terang Kartika.

Melalui kampanye berupa pertanyaan dan kolom yang dapat diisi langsung secara bebas oleh masyarakat, disertai dengan kalimat pertanyaan yang menyentuh, Kartika berharap dapat memicu dialog asuhan paliatif lebih lanjut. Berangkat dari kampanye ini, ia pun berharap pemerintah dapat segera mengintegrasikan asuhan paliatif di seluruh jenjang kesehatan di Indonesia.

Editor: Sigit Kurniawan

Most Popular








To Top