Technology

Dari Ritsleting ke Jendela, YKK Bicara Soal Rumah Hemat Energi

YKK AP R&D Center, Tangerang | Photo Credit: Dok. Marketeers

Apa makna jendela bagi Anda? Sebuah area di dalam hunia tempat berlalu-lalangnya udara masuk dan keluar. Ya, definisi harfiahnya memang begitu. Namun bagi YKK AP, jendela didefinisikan ulang.

Siapa sangka perusahaan yang awalnya memproduksi ritsleting pada tahun 1934 di Tokyo, Jepang, kini memproduksi jendela berbahan dasar alumunium. Sejak tahun 1950, YKK telah masuk ke ranah pasar jendela dengan memiliki 108 perusahan di 71 negara dan memperkerjakan 40.700 orang.

Di Indonesia, YKK memulai debut bisnisnya pada tahun 1972 berbarengan dengan ekspansi besar-besaran perusahaan Negeri Matahari Terbit ke tanah air. Kala itu, pabrik ritsleting pertama didirikan di Jakarta. Pada tahun 1986, YKK memperluas usahanya di Indonesia di bidang konstruksi bangunan yang salah satunya memproduksi jendela. PT YKK AP Indonesia didirikan sebagai induk dari usaha tersebut (dulu bernama YKK Alumco).

YKK AP membuat pabriknya di Tangerang pada masa tersebut, menjadi pabrik terintegrasi di luar Jepang pertama di daratan Asia. Menjadi basis produksi jendela dan produk turunannya termasuk atap, pintu, dan konstruksi bangunan, YKK AP pada tahun ini berhasil meresmikan Research & Development Center (R&D) di lokasi yang sama. Ini menjadikannya sebagai pusat pengembangan ketiga YKK di dunia setelah Jepang dan Jerman.

“Bagi kami, jendela adalah budaya. Sejak tahun 2007, kami melakukan kajian mengenai studi jendela. Bagaimana jendela memberikan hubungan yang erat dengan konstrusi suatu bangunan dan hunian yang berasaskan wawasan lingkungan,” kata Tadahiro Yoshida, Direktur YKK Corp dan mantan CEO YKK yang merupakan generasi kedua dari pendiri “raja ritsleting” dunia itu.

YKK AP R&D Center itu akan melakukan survei dan studi mengenai metode konstruksi hemat energi yang sesuai dengan iklim, kondisi konstruksi, dan bangunan di daerah lembab dan cenderung panas. Itulah alasannya Indonesia dipilih karena mampu mewakili iklim negara-negara lain di dunia yang mirip dengan negeri ini. Sementara Jerman akan menjadi referensi bagi hunian yang berada di iklim berhawa dingin.

Tadahiro menerangkan, YKK AP akan menjalin kemitraan dengan berbagai lembaga, antara lain akademisi yang diwakili institusi pendidikan seperti ITB dan UI, pemerintah melalui Kementerian PUPR, dan masyarakat umum.

“Bagi kami, jendela adalah segala sesuatu yang terbuka. Itu bisa benar-benar jendela ataupun pintu,” terang dia.

Presiden Direktur YKK AP Indonesia Masaki Tamai berharap, didirikannya R&D Center ini akan melahirkan kajian baru mengenai konstruksi hunian yang nyaman dan hemat energi di Indonesia. hasil kajian itu akan diberikan kepada pemerintah dan publik untuk dijadikan rujukan dalam membangun rumah ideal yang ekonomis sekaligus ramah lingkungan.

Ia melihat bahwa intensitas penggunaan peralatan rumah tangga seperti AC dan kipas angin dalam kehidupan sehari-hari sangat tinggi di Indonesia. Ini dianggap wajar karena ibu kota Jakarta rata-rata bersuhu ruangan 28,9 C. Sementara, rata-rata orang Jakarta menyalakan AC hingga mencapai suhi ruangan 20 C.

“Padahal, Indonesia sebagai negara besar akan menghadapi isu pemanasan global yang salah satunya dipicu oleh penggunaan alat rumah tangga yang berlebihan. Di sisi lain, pemerintah Indonesia tengah mengimbau masyarakatnya untuk membatasi penggunaan listrik,” tutur dia.

Studi yang tengah berjalan adalah mengukur bagaimana jendela mampu berkontribusi dalam meredam penggunaan AC, kipas angin, serta listrik. Jadi, jendela yang dikembangkan oleh YKK AP akan bisa berpindah ke atas atau ke bawah. Ini terjaid berkat ketinggian atap dapat dinaik-turunkan hingga level tertinggi mencapai 5 meter.

Dalam kata lain, posisi jendela akan menentukan aliran udara yang masuk dan keluar sehingga membuat ruangan menjadi sejuk. Itulah yang YKK AP teliti dari waktu ke waktu.

“Jendela (yang bisa berpindah-pindah) itu tengah dikembangkan di rumah berpenghuni yang kini berada di rusunawa Tegal, Jawa Tengah. Kami juga akan mengembangkan itu di Jatinangor tahun depan,” terang Shuichi Mizukami, Vice President Research & Development YKK AP.

Ia mengungkapkan, pada tahun ini dan tahun depan, pihaknya tengah mengumpulkan data hasil studi untuk diolah menjadi insight yang bermanfaat. Mulai tahun 2020, studi itu akan dilaporkan kepada pemerintah untuk dipertimbangkan misalnya dalam membangun residensial passive design, alias perumahan yang menggunakan energi alami dari cahaya matahari dan angin.

“Apalagi, pemerintah sedang mengejar target satu juta rumah per tahun yang mana sampai tahun ini, angka itu tak pernah tercapai. Diharapkan studi ini akan membantu pemerintah mempercepat program tersebut,” papar dia.

Dengan area fasilitas sebesar 858,8 m2, YKK AP R&D Center akan menjadi pusat pertemuan para penilti khususnya di bidang arsitektur dan fisika dalam merumuskan konstruksi rumah hemat energi.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

 

MARKETEERS X

Most Popular








To Top