Grapeshot Leaderboard
Technology

Djaring, Startup Baru Yang Siap Menjaring UMKM untuk Go-Online

Bisnis usaha rintisan atau startup masih menggairahkan. Satu per satu startup baru bermunculan, ketika beberapa startup lain mulai menutup layanannya. Platform web builder ini mencoba peruntungan di pasar dunia online. Seperti apa targetnya?

Laksamana Mustika terinspirasi membuat startup setelah melihat demand besar dari pelaku UMKM yang ingin memiliki domain situs internet sendiri. Ketika mendirikan perusahaan konsultan Teknologi Informasi PT Elven Digital Indonesia empat tahun lalu, banyak UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) yang mencari jasa perusahaannya. Namun, mereka terbentur pada harga ketika melakukan negosiasi.

“Dari 10 perusahaan yang datang ke kami, 7 dari 10 berasal dari pelaku UMKM. Akan tetapi, saat itu, jujur saja mereka masih terkendala dengan harga korporasi yang kami tawarkan,” ungkap CEO & Co-Founder Djaring ini di EV Hive Lab D, Menteng, Jakarta, Selasa, (6/2/2018).

Karenanya, ia lantas meluncurkan Djaring, startup yang menyediakan layanan pembuatan website untuk pelaku UMKM, baik itu untuk e-commerce maupun company profile. Sesuai namanya, ia berusaha menjaring pengusaha menengah dan kecil yang selama ini masih berjualan di offline untuk merambah bisnisnya di dunia online.

Menurutnya, di era digital, bisnis apapun harus mengembangkan Teknologi Informasi dalam membantu proses bisnisnya. Salah satu yang termudah adalah memiliki situs sendiri yang tidak hanya dapat meningkatkan awareness perusahaan dalam pencarian di dunia maya, melainkan juga menjangkau skala bisnis secara lebih luas.

Selama ini, kata dia, jika pelaku UMKM ingin go-online, mereka hanya berpikir menjual produknya di pelapak market place. Padahal, dengan memiliki website sendiri, perusahaan bisa meningkatkan nilai kepercayaan para pelanggannya. Kami menyediakan kemudahan bagi mereka untuk memiliki website sendiri yang dikelola secara mandiri,” tutur dia.

Djaring menawarkan jasa pembuatan website beserta domainnya dengan rentang harga Rp 200.000 hingga Rp 750.000 per bulan. Harga itu menurut Laksamana cukup terjangkau bila dibandingkan dengan harga pembuatan website pada umumnya yang menelan biaya lebih dari Rp 20 juta.

Lewat situsnya itu, pelaku UMKM bisa memilih paket sesuai kebutuhan. Template desain yang diberikan pun cukup beragam, Djaring membaginya berdasarkan beberapa kategori UMKM, seperti restoran, kecantikan, fesyen, kesehatan, dan lainnya.

“Sampai hari ini, saya melihat UMKM di sektor kecantikan cukup positif responnya. Mungkin memang bisnis kecantikan sedang mengalami peningkatan,” kata dia yang menargetkan 1.000 UMKM selama setahun beroperasi.

Dalam menjaring para pelaku usaha kecil-menengah itu, pihaknya melakukan serangkaian marketing promotion. Selain memperkuat SEO dan elemen digital marketing lainnya, Djaring juga melakukan sosialisasi dan edukasi langsung ke pelaku UMKM mengenai alasan UMKM perlu branding di dunia digital.

Ia mengamati, ada gap antara pelaku UMKM yang dikelola oleh kaum millennials dengan kaum generasi sebelumnya. Kaum milenium sudah cukup mengerti mengenai teknologi. Sebaliknya, kaum senior masih banyak yang “gagap” teknologi.

“Terlebih, UMKM sektor mikro jauh lebih banyak jumlahnya. Untuk bisa memperbesar market size, dunia online seharusnya sudah mereka jamah,” tuturnya.

Ia yakin bahwa startup yang kini memperkerjakan 30 karyawan itu akan diterima pasar. Sebab, dari sisi captive market, Indonesia memiliki jumlah UMKM yang besar. Merujuk data dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, terdapat 59,12 juta UMKM di Indonesia. Dari jumlah itu, 8%-nya berskala mikro.

“Masih banyak UMKM yang belum go-online, bukan karena mereka tidak bisa, tetapi mereka tidak tahu cara memulainya,” tutur dia.

Karena itu, ia mengklaim, pembuatan dan pengelolaan situs melalui platform Djaring cukup mudah dilakukan, bahkan bagi mereka yang tidak familier dengan teknologi.

SME Enabler

Harapan Laksamana melalui Djaring tak berhenti sebatas platform web builder. Lebih jauh lagi, ia menginginkan Djaring bisa menjadi SME enabler yang bertujuan membantu segala kebutuhan UMKM. Ke depannya, Djaring akan menawarkan jasa seperti pembukuan akuntansi, branding, pembuatan logo, fotografi, hingga pencarian investor.

Agar misi itu tercapai, kata Laksamana, Djaring harus melakukan kolaborasi dengan peer-to-peer startup lain. Misalnya, jika UMKM membutuhkan jasa digital marketing, platform ini akan menghubungkan dengan startup digital seperti Komunika.

“Kami percaya dalam membangun ekosistem UMKM agar naik kelas, kami tidak bisa bekerja sendirian. Kami mesti bersama-sama berkolaborasi untuk mencapai tujuan itu,” papar lulusan TI Universitas Bina Nusantara ini.

Ia pun tengah melakukan penjajakan dengan berbagai layanan P2P. Salah satunya Go-Pay yang tengah dikembangkan oleh Midtrans, startup yang tahun lalu diakuisisi Go-Jek. Saat ini, kerja sama Djaring dengan Midtrans masih sebatas pembayaran kartu kredit dan transfer antarbank.

Sampai saat ini, Djaring baru memperoleh modal awal dari salah satu angel investor dalam bentuk seed funding.  Sayangnya, Laksamana enggan membocorkan siapa nama penyuntik dana itu.

“Kami tengah bekerja agar ini bisa terrealisasi secepatnya. Sehingga, Djaring menjadi platform SME Enabler pertama di Indonesia,” harap pria kelahiran Yogyakarta ini.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X

Most Popular








To Top