Grapeshot Leaderboard
Retail & Property

Erian Hotel Tawarkan Penginapan Khusus Bagi Solo Traveler

Sebagai kota internasional, Jakarta diburu para investor hotel. Pembangunan penginapan berkelas seakan tak terbendung, meskipun tingkat okupansi kerap mengalami koreksi. Erian Hotel adalah satu dari sekian pemain hotel baru yang mencoba menghisap manisnya pasar Ibukota.

Berlokasi di Jalan Wahid Hasyim, Erian Hotel mesti menghadapi persaingan yang ketat dari hotel-hotel yang telah berdiri kokoh sebelumnya di jalan ini. Setidaknya, ada lebih dari 30 hotel berada di sepanjang jalan yang beririsan langsung dengan Jalan M.H Thamrin ini.

Namun, justru Erian Hotel mencoba menawarkan diferensiasi. Hotel sekelas bintang tiga ini menawarkan kamar hotel untuk para FIT atau solo traveler. Dibuatnya kamar khusus ini merupakan hasil tindaklanjut dari survei mereka terhadap keberadaan pelancon bisnis di sekitar lokasi hotelnya berada.

“Kami melihat banyak tamu yang datang karena urusan bisnis, namun mereka datang sendiri. Karena itu, seluruh kamar bertiper superior ditujukan untuk single traveler,” jelas Amanda Dahler, Director of Sales Erian hotel sat jumpa pers, Jumat, (25/5/2018).

Dia menerangkan, dari 71 kamar hotelnya saat ini, ada sepuluh kamar seluas 15 m2 yang merupakan tipe superior dengan single bed dan satu kupon sarapan. Sementara, 62 kamar adalah kamar Deluxe dengan luas 18 m2. Terkahir, adalah kamar tipe Premiere seluas 24 m2 dengan total sembilan kamar.

“Karena masih tahap soft launching, belum semua kamar beroperasi penuh. Dari lima lantai, baru empat yang sudah ready,” terang Amanda.

Yang berbeda lagi, kata Amanda, setiap kamar di Erian Hotel sudah terntegrasi dengan Smart TV, di mana tamu nantinya dapat memesan makanan dan keperluan lain melalui televisi, tanpa harus menggunakan telepon.

Untuk urusan ruang pertemuan, hotel sekelas bintang tiga ini memiliki tiga ruang meeting dengan total kapasitas maksimal 150 orang. Ruang meeting tersebut bisa diperuntukkan pergelaran pesta pernikahan skala kecil. Pihaknya juga berencana untuk menambah fasilitas Rooftop yang mampu menampung hingga 200 orang.

Adapula Coffee Shop | Erian Hotel yang juga bisa digunakan untuk menghemat event eksternal bagi korporasi.

Okupansi 70%

Erian Hotel berada di bawah PT Jkl Hotelindo, perusahaan yang bergeak di bidang perhotelan. Sang pemilik yang merupakan pengusaha ritel telah lama memiliki properti dalam bentuk hotel sebagai bagian dari investasinya.

“Sejak tahun 2014, kami sudah berencana membuat hotel dengan brand baru,” ujar Manuel Mayrick, General Manager Erian Hotel kepada Marketeers.

Manual mengatakan, alasan owner memilih untuk mengembangkan merek hotel sendiri ketimbang bermitra dengan jaringan hotel internasional, karena mempertimbangkan faktor fleksibilitas. Dengan memiliki brand sendiri, pihaknya lebih bebas dalam mengatur strategi sales dan pemasaran. Tidak terikat dengan standar hotel yang cenderung kaku.

“Tantangannya adalah bagaimana kami meningkatkan awareness dari merek kami. Dari owner mengharapkan agar Erian Hotel akan berkembang menjadi hotel management services,” imbuh dia.

Meski tidak menyebut angka investasi, Manuel menyatakan bahwa biaya investasi per kamar berkisar Rp 200-300 juta. Hotel ini pun berharap dapat menapai Break Event Point (BEP) sampai delapan tahun.

“Tingkat okpansi selama setahun, rata-rata kami targetkan 70%. Sebab, kawasan Wahid Hasyim, rata-rata okupansi 80%,” terangnya.

Adapun harga soft launching yang ditawarkan Erian Hotel, antara lain Rp 580.000 untuk kamar tipe Superior, Rp 685.000 kamar Deluxe, dan Rp 835.000 kamar tipe Premiere.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top