Consumer Goods

Gara-Gara Gerakan #MeToo, Victoria’s Secret Jadi Tidak Populer Lagi

Jelang akhir tahun 2017 lalu hingga pertengahan tahun ini, industri hiburan global, khususnya Amerika Serikat sedang marak dengan kampanye #MeToo. Kampanye ini merupakan perlawanan terhadap kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di industri hiburan di Amerika Serikat.

Namun, kampanye ini juga terus melebar tidak sekadar di industri hiburan semata. Kampanye yang menyuarakan tentang kesetaraan dan keadilan gender ini berdampak kepada beberapa brand index sebuah brand. Salah satunya adalah brand index dari merek pakaian dalam Victoria’s Secret.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh YouGov BrandIndex, saat ini brand Victoria’s Secret sudah kurang populer buat beberapa target pasar mereka yang kebanyakan adalah perempuan dari usia 18-49 tahun. YouGov melakukan pengurutan data terkait dengan hal-hal apa saja yang konsumen dengar dan tahu tentang brand Victoria’s Secret, baik itu berita positif atau negatif.

Bila pada tahun 2016, Victoria’s Secret memiliki angka hingga 31 berdasarkan skor yang ditetapkan oleh YouGov. Tahun ini pabrikan pakaian dalam kelas atas ini hanya mencapai angka 23. Tentunya, ini merupakan penurunan besar. Penurunan ini ternyata sejalan dengan penurunan angka penjualan yang diumumkan oleh perusahaan induk Victoria’s Secret, L Brand.

Lalu apa hubungan kampanye #MeToo dengan penurunan persepsi brand Victoria’s Secret. Selama ini Victoria’s Secret selalu menampilkan model-model kelas atas yang cantik dan tinggi menggunakan rangkaian produk berkelas dari Victoria’s Secret.

Bahkan, ajang tahunan Victoria’s Secret Fashion Show merupakan ajang pamer koleksi terbaru dari Victoria’s Secret. Meskipun saat ini Voctoria’s Secret juga menggunakan model dari beragam ras, tidak sekadar kulit putih, namun hal ini masih dirasa sebagai ajang yang tidak sejalan dengan semangat feminisme.

Ketika model-model cantik tersebut berjalan di atas catwalk menggunakan pakaian dalam yang seksi dan dilengkapi dengan hiasan nan cantik lainnya di hadapan penonton baik lelaki dan perempuan. Masih terkesan bahwa saat ini perempuan masih harus dan wajib terlihat seksi di hadapan lawan jenisnya. Hal ini yang sekiranya menjadi tidak sejalan dengan intisari dari gerakan #MeToo

Uniknya, seperti dilansir dari Fast Company, meskipun Victoria’s Secret mengalami penurunan, banyak brand pakaian dalam lainnya yang jauh lebih kecil namanya mencoba menyampaikan pesan lain dari sekadar masalah seksi.

Misalny, brand seperti Lively, MeUndies, ThirdLove, dan Evelyn & Bobbie yang mengambil fokus pada kenyaman dan inovasi ketimbang unsur sensual. Bisa dibilang saat ini generasi muda lebih tertarik dengan hal-hal yang membuat mereka merasa nyaman ketika menggunakannya, ketimbang tampil seksi.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top