Technology

Gunakan Software Legal, Bisnis dan Reputasi Perusahaan Terjaga

www.123rf.com

Penggunaan software tanpa lisensi masih umum terjadi di kalangan perusahaan maupun sektor IT di kawasan ASEAN, baik disebabkan oleh kelalaian, niat, atau pengabaian. Namun, penggunaan software tanpa lisensi dapat menimbulkan risiko keamanan, bisnis, dan hukum yang serius bagi perusahaan-perusahaan serta industrinya.

Perusahaan yang lalai dalam memahami risiko tersebut maupun tidak mengelola aset software-nya dengan benar, berpotensi  mengalami kerugian yang cukup besar. Untuk mengatasi hal ini, BSA | Software Alliance, asosiasi perdagangan global penerbit software, meluncurkan kampanye “Legalize and Protect” di kawasan ASEAN.

BSA berkolaborasi dengan pemerintah maupun mitra lain, untuk mengedukasi perusahaan-perusahaan mengenai risiko-risiko signifikan dari penggunaan software tidak asli atau tak berlisensi. Sebagai bagian dari kampanye Legalize and Protect, BSA bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengedukasi para pemimpin bisnis tentang risiko penggunaan software ilegal.

Menurut data BSA, saat ini ada ribuan perusahaan di Indonesia yang diawasi karena adanya kemungkinan pelanggaran. Dalam beberapa bulan ke depan, BSA akan meluncurkan upaya edukasi untuk memastikan para pemimpin bisnis sadar akan risiko dari penggunaan software tidak berlisensi.

“Dengan beralih pada software berlisensi, perusahaan dapat melindungi keamanan data, daya saing, dan reputasinya – hingga terhindar dari risiko konsekuensi hukum. Semakin cepat perusahaan melakukan proses legalisasi software, semakin cepat pula mereka dapat melindungi kegiatan operasional dan keuntungan perusahaan,” ujar Tarun Sawney, Senior Director BSA dalam siaran persnya.

Chief Information Officer (CIO) dari berbagai perusahaan menemukan bahwa software tidak berlisensi memiliki risiko dan berpotensi untuk menyebabkan kerugian yang lebih besar. Data juga menunjukkan bahwa para pemimpin bisnis dapat meningkatkan keuntungan perusahaannya dengan beralih ke software berlisensi.  International Data Corporation (IDC) memperkirakan bahwa perusahaan yang mengambil langkah pragmatis untuk meningkatkan manajemen software-nya akan dapat meningkatkan laba hingga 11%.

Satu dari tiga perusahaan memiliki peluang untuk terserang malware ketika mereka menggunakan atau memasang software tidak berlisensi maupun membeli perangkat komputer tanpa software asli di dalamnya. Setiap serangan malware dapat merugikan perusahaan sebesar rata-rata USD 2,4 juta dan akan membutuhkan waktu selama 50 hari untuk memperbaikinya. Infeksi yang dapat menyebabkan downtime perusahaan, atau kehilangan data bisnis, akan berdampak serius pada merek dan reputasi perusahaan.

Wilayah Asia Pasifik memiliki tingkat penggunaan software ilegal tertinggi di dunia, sebesar 57%. Masalah dengan skala sebesar ini hanya bisa ditangani dengan pengubahan pola pikir dan perilaku untuk meningkatkan regulasi diri serta kepatuhan sukarela. Untuk itu, BSA telah mengorientasikan kampanyenya secara khusus untuk mencegah perusahaan dari praktik pemasangan maupun penggunaan software yang tidak berlisensi atau ilegal – bukan karena takut akan penegakan hukum, tetapi karena pemahaman bahwa hal tersebut dilakukan untuk kebaikan perusahaan.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top