Grapeshot Leaderboard
Retail & Property

Huntstreet dan Perkembangan Pasar Pre-Loved Barang Mewah

Hunt Lab, salah satu offline event dari Huntstreet menawarkan produk pre-loved mewah dengan harga miring

Seberapa banyak barang baru yang Anda beli? Jika iya, coba tengok lemari pakaian Anda sekarang. Berapa banyak pakaian yang sudah Anda beli, namun tak lagi Anda kenakan? Padahal, pakaian tersebut masih layak digunakan. Dari habit manusia dalam berbelanja itulah lahir sebuah pasar pre-loved alias barang-barang second kesayangan.

Pasar pre-loved mulai menjadi satu pasar yang memiliki value tinggi. Menjual barang-barang bekas bisa menjadi barang yang baru bagi orang lain. Apalagi, barang tersebut adalah merek-merek ternama yang tidak semua orang mampu membelinya dengan harga pertama kami barang itu dirilis.

Salah satu ide tersebut dikembangkan oleh Huntstreet.com sejak tiga tahun lalu. Perusahaan ini menghadirkan platform e-commerce yang menjual produk-produk second, namun masih tetap layak guna. Adapun produk yang dijual 70%-nya adalah produk fesyen seperti tas, pakaian dan sepatu. Sisanya terdiri dari perhiasan dan aksesori.

Model bisnis Huntstreet adalah menghubungkan Antara pemilik barang (mereka sebut sebagai consigner) dan para konsumen yang mencari barang. Para pemilik barang branded tersebut biasanya adalah orang-orang kelas atas, seperti para sosialita dan wanita karier mapan.

“Mereka menitipkan barangnya untuk dijual ke situs kami. Tim kami akan memvalidasi dari sisi harga dan kualitas, lalu kami menawarkan harga. Jika consigners setuju dengan harga jual yang kami berikan, barulah barang kami rilis di situs,” terang Mario Bachtiar, Head of Operations Huntstreet.com kepada Marketeers.

Mario menuturkan, saat ini, pihaknya telah merangkul 200 consigners dari seluruh Indonesia. Pihaknya pun juga telah melakukan ekspansi tahun ini dengan menerima barang dari consigner asal Singapura dan Australia.

Harga yang dibanderol di Huntstreet pun bervariasi. Dari aksesori seharga Rp 100.000 hingga tas mewah Rp 100 juta. Bahkan, ada barang yang dijual dengan harga lebih mahal dari harga asli barang tersebut. Biasanya itu terjadi pada produk high-end branded yang diproduksi secara terbatas.

Ada sekitar 15.000 produk yang dijual di Huntsreet, yang mana 70%-80% adalah barang perempuan. Merek-merek yang dijual adalah produk kategori high-end dan luxury, seperti Louis Vuitton, Gucci, Hermes, Valentino, Jean Paul Gaultier, Marc Jacobs, dan Dior. “Sampai saat ini, tas dan sepatu masih produk yang paling laris di situs kami,” terang dia.

Sistem konsinyasi yang diberikan tergantung dari harga jual. Semakin tinggi harga jual, presentasenya semakin kecil. Mario menjelaskan, untuk harga barang yang dibanderol di bawah Rp 15 juta, pihaknya meminta komisi 25%. Antara Rp 15 juta-Rp 65 juta, komisi 20%. Di atas Rp 100 juta, komisi 5%-10%. Sementara, di bawah Rp 2,5 juta, komisi yang diterima Huntstreet 25%.

Mario mengakui, yang menjadi tantangan pihaknya dalam menjalankan bisnis e-commerce barang pre-loved merek-merek kelas atas adalah perihal trust. Konsumen Indonesia masih ingin datang melihat dan menyentuh barang yang mereka sukai sebelum melakukan pembelian.

Namun, untuk pelanggan kelas atas, tim Huntstreet justru memberikan servis khusus, seperti mengunjungi pelanggan tersebut sembari membawa produk mewah yang ditawarkannya. “Biasanya, jika kami ada barang-barang mahal seharga ratusan juta, kami sudah ada data pelanggan yang kami sasar,” papar dia.

Pasar pre-loved cukup prospektif. Hal ini melihat dari kinerja perusahaan selama tiga tahun beroperasi. Huntstreet mengaku mengalami pertumbuhan transaksi tahun ke tahun dan saat ini telah memperkerjakan 20 karyawan tetap.

Perusahaan yang tergolong startup ini didirikan oleh empat co-founder yaitu Kristie Karnadi, Justine Widjo, Sabrina Joseph, dan Janice Winata. Mereka berprofesi sebagai pebisnis di berbagai bidang seperti ritel, distributor alat telekomunikasi, dan properti.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X

Most Popular








To Top