Finance

Perang Dagang, Indonesia Bisa Pindahkan Pabrik Ke Luar China

Perang dagang antara Amerika Serikat dan China di paruh kedua tahun ini memberikan peluang tersendiri bagi perekonomian Indonesia. Schroeders Indonesia menilai akan ada peluang masuknya Foreign Direct Investment (FDI) ke Indonesia.

Menurut Executive Vice President Intermediary Business PT Schroder Investment Management Indonesia Bonny Iriawan menilai imbas perang dagang ini ada beberapa perusahaan yang mulai menyasar pembangunan pabrik di luar China. Beberapa mulai menyasar negara-negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Vietnam.

“Perusahaan seperti Pegatron, LG, dan Sharp sudah ada minat untuk masuk ke Indonesia,” ujar Bonny di Jakarta, Senin (8/7). Menurutnya dana yang masuk melalui FDI akan lebih panjang durasinya. Alasannya, kebanyakan perusahaan akan menanamkan modalnya untuk pembangunan pabrik, kantor, serta pengoptimalan sumber daya manusia.

Ia juga menilai imbas lainnya dari ancaman perang dagang tersebut harus disikapi khusus oleh pemerintah. Meskipun ia menilai bahwa nilai ekspor Indonesia yang hanya 17% dari GDP membuat Indonesia memiliki risiko yang paling kecil dari akibat perang dagang tersebut.

Beberapa kesempatan yang bisa dimanfaatkan oleh pemerintah antara lain pemerintah menambah stimulus fiskal dan moneter. Bonny menilai bahwa ada kemungkinan Bank Indonesia akan menurunkan suku bunganya jelang Q4 tahun ini. Meskipun begitu saat ini pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum.

Giro Wajib Minimum ia sebutkan sebagai stimulus positif bagi pasar keuangan. Penurunan Giro Wajib Minimum berpengaruh pada likuiditas serta peningkatan kemampuan pembiayaan pinjaman yang akan diikuti dengan pertumbuhan ekonomi. “Bila iya BI menurunkan suku bunga maka akan bagus untuk saham dan obligasi,” ujar Bonny.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top