Opinion

Indonesia WOW, Makassar NOW

Penulis (kanan) bersama Hermawan Kartajaya.

‘’Saya bukan dilahirkan sebagai marketing dan entrepreneur, tetapi kita selalu bisa men-develop diri jadi marketing dan entrepreneur.’’ (Hermawan Kartajaya)

Oleh Dito Anurogo

(Penulis adalah dokter literasi digital, penulis 20 buku, dosen FK Unismuh Makassar)

‘’Online tidak akan menggantikan offline. Offline itu experience yang sesungguhnya. Berikan experience ke pelanggan, berikan engagement sekaligus empowerment. Saat ini banyak orang bela-belain beli pengalaman daripada beli produk karena tergiur online experience,’’ ujar Hermawan Kartajaya dalam acara Indonesia Marketeers Festival 2018 di Hotel Grand Clarion Makassar, Selasa 17 April 2018 di hadapan ratusan peserta. Festival itu merupakan salah satu rangkaian dari 17 kota di Indonesia, total 170 jam, dan 17.000 orang.

Hermawan amat piawai saat berbicara tentang politik. ‘’Di era digital-milenial ini, kandidat harus disukai netizen, perempuan, orang muda. Jadi perlu terus melakukan riset dan survei. Selera anak muda itu apa? Jalan pikiran anak muda itu bagaimana? Begitu pula perempuan. Di Indonesia, perempuan merupakan warga kelas satu. Hal ini seringkali tidak bisa dipahami oleh para pelaku bisnis dari Malaysia.

Mereka menganggap kalau Indonesia itu mayoritas penduduknya muslim, sehingga otomatis perempuan patuh kepada suami. Padahal realitas menunjukkan semakin banyak produk yang berpihak kepada kaum hawa. Di dalam keluarga, suami kalau mau beli mobil, selalu tanya istri. Begitu pula kalau mau liburan, terlebih lagi kalau mau liburan sekeluarga, pasti juga bertanya istri,’’ tuturnya.

Pria berusia 70 tahun itu juga mengungkapkan kalau kandidat sebaiknya jangan sampai dimusuhi oleh netizen. Netizen adalah sebutan untuk warga internet. Habis kalau sampai dimusuhi netizen. Sebenarnya, hal ini sudah diramalkannya sejak dahulu. Bumi akan semakin Venus. Maksudnya, emosional akan lebih mendominasi dibandingkan dengan rasional. Lebih jelasnya, orang itu cenderung lebih menyukai bad news daripada good news. Nah, dalam marketing hal itu terlarang. Marketing itu mengutamakan kejujuran. Inilah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad.

[R]evolusi

Founder sekaligus Chairman MarkPlus, Inc. itu mengungkapkan pula perjalanan Marketing 1.0 hingga 4.0. Marketing 1.0 berfokus kepada produk unggulan dan terbaik serta enjoyment, sehingga outputnya hanya OK. Marketing 2.0 berfokus kepada pelanggan dan mengutamakan experience sehingga konsumen puas serta menghasilkan efek ‘’AHA’’. Marketing 3.0 berfokus kepada human spirit centric, mengutamakan engagement, sehingga konsumen merasakan sensasi ‘’WOW’’. Marketing 4.0 berfokus kepada omni-way yang mensinergiskan tradisional dan digital, mengutamakan empowerment namun perlu ditindaklanjuti dengan tindakan ‘’NOW’’ alias secepat mungkin ‘’dieksekusi’’.

Penulis buku Citizen 4.0 memberikan gambaran dari ‘’medan perang’’ alias pertarungan di dunia digital saat ini. Istilah kerennya,  Entrepreneurial Marketing Compass and Canvas. Hermawan  menyebutkan istilah VUCA, yang merupakan akronim dari Volatility in change, Uncertainty in Competitor, Complexity in customer, Ambiguity in company. Sebagai solusi, ia mengemukakan terminologi DAMO, yakni Discover New Opportunity New Experience, Adventure the alternative way: omni, Momentum of 2018: festival Indonesiana, Outlook from the ‘’pilot’’ perspective: C 4.0.

Selain Hermawan Kartajaya, festival yang mengambil tagline ‘’Pestanya orang sales, promosi, dan service’’ itu juga menghadirkan para pakar dari Jiwasraya dengan topik Celebration of Happiness, Pertamina dengan tema Maximum Power Optimum Performance with Dex Series, Bank BRI dengan judul BRIvolution Now Experience of Banking, dilanjutkan dengan diskusi panel serta diselingi dengan final Marketeers Model Brand Ambassador Makassar 2018, sesi Pesona Indonesia. Kegiatan yang hingga sore hari itu berlangsung aman dan tertib. Para peserta begitu antusias mengikuti setiap rangkaian acara hingga usai.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top