Finance

Industri Pembiayaan Diprediksi Tumbuh Datar di Tahun 2019

Bagaimana pertumbuhan industri pembiayaan tahun depan? Sejauh ini, para pemain di industri pembiayaan juga masih tetap optimistis menyambut tahun politik 2019. Pemilu tahun depan diyakini bisa mendatangkan peluang-peluang baru, terkait usaha-usaha yang berhubungan dengan pesta politik.

Menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno sejauh perbankan sudah pulih kepercayaannya dan dana mengucur industri pembiayaan bisa lebih baik pertumbuhannya pada tahun 2019.

Memang, industri pembiayaan di tahun 2018 dilanda badai dengan dicabutnya izin dari beberapa pemain di industri ini. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sejak Januari hingga September 2018, sudah ada lima perusahaan pembiayaan yang dicabut izin usahanya. Sedangkan enam multifinance lainnya dibekukan kegiatan operasionalnya. Sebagian besar pembekuan dan pencabutan berlatar belakang oleh ketidaktepatan para multifinance tersebut dalam menjalankan proses dan target bisnis.

Meski begitu, hingga Agustus 2018, total aset industri pembiayaan tumbuh 6% dibanding periode yang sama tahun lalu, menjadi Rp 431,9 triliun. Khusus untuk pembiayaan multiguna yang di dalamnya mencakup pembiayaan kendaraan bermotor tumbuh 8%. Naik dari Rp 235 triliun pada periode Januari – Agustus 2017 menjadi Rp 255 triliun di periode yang sama tahun ini.

Pangsa pasar pembiayaan multiguna mencapai 60%. Sedangkan 40% masuk ke modal kerja, investasi, dan lainnya. Secara aset, industri pembiayaan tumbuh 9% menjadi Rp 504,1 triliun. “Kebutuhan masyarakat pada kendaraaan bermotor masih tinggi dibanding untuk modal kerja dan investasi,” kata Tan Chian Hok, Direktur PT Astra Sedaya Finance-ACC.

Menurut Tan, suku bunga acuan BI memiliki pengaruh cukup kuat pada industri pembiayaan. Saat ini, BI 7-Day Repo Rate ada di angka 5,75%. Kenaikan ini tentunya akan membuat para pemain di industri multifinance harus menaikkan biaya-biaya dan bunga, meskipun tidak bisa diterapkan seketika.

Namun, ia juga mengakui bahwa di masa-masa sekarang ini adalah waktu yang sulit untuk mencari pendanaan. Tapi, bagi perusahaan-perusahan multifinance yang menjalankan bisnis dengan benar tentunya tidak terlalu kesulitan mencari dana. Tapi, ia tidak menampik bahwa prinsip kehati-hatian dari perbankan ini akan berlanjut hingga tahun depan.

Perbankan bisa jadi akan lebih teliti dan selektif dalam menyalurkan pinjaman ke multifinance. Tapi, semestinya perbankan akan melihat kinerja per perusahaan. Dengan kata lain, tidak mengganggap semua perusahaan pembiayaan memiliki kondisi yang sama.

“Jadi, tahun depan pertumbuhan pembiayaan sepertinya juga masih flat. Ditambah, prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan juga tidak beda dengan tahun ini. Di sisi lain, industri otomotif prediksi pertumbuhannya juga masih sama dengan tahun ini,” tambah Tan.

ACC sendiri hingga Agustus 2018 telah menyalurkan hingga Rp 20 triliun. Sampai penghujung tahun ini harapannya bisa menyentuh Rp 25 triliun. “Untuk tahun depan, kami prediksi ACC bisa tumbuh di kisaran 5%,” tambah Tan.

Portofolio pembiayaan ACC didominasi kredit otomotif dengan angka 90%. Sisanya disalurkan ke modal kerja, investasi, dan lainnya. Dari pembiayaan otomotif ini, 80% untuk membiayai mobil baru dan 20% ke mobil bekas.

Memperhatikan Daya Beli

Pengaruh kondisi ekonomi pada industri pembiayaan juga diamini oleh Dewa Made Susila, Chief Finance Officer Adira Finance. Ia menganalogikan bahwa suku bunga merupakan bahan baku dalam industri pembiayaan. Jadi, ketika terjadi kenaikan harga bahan baku, maka harga jual naik. Singkatnya, kenaikan suku bunga akan berdampak ke penyaluran pembiayaan.

Dewa menjelaskan, kenaikan suku bunga berdampak pada tiga sisi dari bisnis multifinance. Pertama,  kenaikan biaya dana. Kedua, margin berkurang karena pada umumnya kredit multifinance itu fixed loan yang artinya tidak bisa direvisi sepanjang masa tenor. Ketiga, belum tentu konsumen bisa dikenakan bunga baru ketika mengajukan pembiayaan. Sebab, pemain harus mempertimbangkan daya beli.

“Kalau naiknya terlalu banyak, tidak ada yang mengambil kredit. Sebaliknya, kalau dinaikkan terlalu tinggi juga bisa memengaruhi asset quality bila terjadi default. Secara umum, industri pembiayaan terpengaruh oleh daya beli, inflasi, nilai tukar, dan suku bunga,” jelas Made.

Mengenai tahun politik, Dewa menilai akan ada pengaruhnya walau tidak besar. Biasanya, pemilu atau pilpres akan memengaruhi consumer confidence. Kegamangan justru terjadi pada segmen konsumen menengah atas yang memilih menunda pembelian. Toh, merek sudah memiliki mobil.

“Bagi kelompok menengah yang belum punya mobil dan ada kebutuhan, ya, tetap membeli bila punya daya beli. Sedangkan mayoritas kendaraan penumpang yang laku di pasar adalah segmen low multipurpose vehicle (LMPV) 7 penumpang,” jelas Dewa.

Hingga September 2018, kucuran pembiayaan baru Adira Finance mencapai Rp 28,2 triliun, naik 19% dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan total oustanding mencapai Rp 48,6 triliun atau tumbuh 12% . Hingga penghujung tahun ini, Adira Finance menargetkan bisa mengucurkan hingga Rp 35 triliun-Rp 37 triliun. “Tahun depan, kami harapkan bisa tumbuh antara 5%-10% atau tumbuh di atas industri,” tegasnya.

Jika disimpulkan, pada dasarnya industri multifinance masih terbilang bagus. Benar ada sebagian kecil perusahaan pembiayaan yang bermasalah. Menurut OJK, dari 191 perusahaan pembiayaan yang terdaftar, sekitar 88% masuk kategori sehat dan 12% dikategorikan tidak sehat. Diharapkan tingkat kepercayaan perbankan pada industri ini kembali utuh dan tahun depan bisa tumbuh maksimal.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top