Consumer Goods

Jatuh Bangun Industri Elektronik Tanah Air Sepanjang 2018

Ilustrasi: 123rf

Kondisi ekonomi Indonesia tahun lalu yang penuh tantangan banyak memberikan pengaruh terhadap industri di dalamnya. Tidak terkecuali industri elektronik yang memiliki kategori produk sangat luas. Bukan hanya kondisi ekonomi, tren yang berkembang di tengah masyarakat juga memengaruhi karakter konsumsi mereka.

Secara umum, Asosiasi Gabungan Pengusaha Elektronik Indonesia (GABEL) membagi industri ini menjadi tiga sektor. Audio-video, home appliances, dan small appliances. Dan, ketiganya mengalami nasib yang berbeda-beda pada hari ini. Meski begitu, menurut Ketua GABEL Ali Soebroto, secara umum industri ini mengalami penurunan.

“Sudah tiga tahun belakangan industri ini mengalami pertumbuhan yang minus atau turun. Hari ini, tidak ada orang yang berkali-kali beli perangkat elektronik, khususnya untuk perangkat audio-video seperti TV,” ujar Ali. “Berbeda dengan home appliances yang masih tumbuh karena penetrasi beberapa produknya masih rendah, seperti AC, kulkas. Tapi secara umum, produk consumer electronic bisa turun 10% tahun ini, bahkan lebih.”

Kondisi ini pun diakui oleh para pemain, seperti Polytron dan SHARP yang melihat bahwa pasar elektronik tahun ini stagnan bahkan cenderung melambat. Keduanya mengakui bahwa tahun 2018 adalah era yang tidak mudah. Para pengguna baru cenderung menunda pembelian. Situasi ekonomi menjadi alasan. GfK Temax melaporkan, sepanjang kuartal kedua 2018, industri ini mengalami penurunan sekitar 9,1%.

“Kondisi bisnis elektronik pada tahun 2018 masih stagnan terutama untuk kategori lemari es, mesin cuci dan air conditioner. Namun menunjukkan pertumbuhan yang baik untuk kategori LED TV, bila dibandingkan dengan data penjualan tahun lalu (YTD). Untung saja, pada Juni, Juli, dan Oktober penjualan positif. Padahal, Januari hingga Mei minus growth,” kata Andry Adi Utomo, Domestic Sales Senior General Manager PT SHARP Electronics Indonesia.

Meski sulit, para pemain mengklaim bahwa pihaknya masih bisa tumbuh. Seperti nasib SHARP yang mulai berbalik arah setelah merilis produk muslim. Seperti mesin cuci untuk ijab serta kulkas halal. SHARP pun merasakan tingginya permintaan pasca merilis produk-produk itu. Bagi mereka, produk AC, lemari es dan mesin cuci masih diminati. Proporsi lemari es berkontribusi sekitar 25%, AC sebesar 21%, dan mesin cuci dengan angka 17%.

“Performa penjualan produk elektronik SHARP sendiri cenderung lebih baik atau meningkat bila dibandingkan dengan pertumbuhan pasar. SHARP masih bisa menambah market share hampir di seluruh kategori sekitar 1%-5%. Harapannya masih akan terus meningkat hingga 5%-10%,” kata Andry.

Produk SHARP masih sangat diminati. Hal ini bisa dilihat dari capaian hampir seluruh produk SHARP yang menempati market share posisi nomor wahid untuk empat kategori utama, yakni lemari es, mesin cuci, air conditioner, dan LED TV.

Berada di bawah SHARP satu tingkat, Panasonic membidik pangsa pasar produk AC tahun ini sekitar 25%. “Pasar terbesar bagi kami adalah AC. Market share kami nomor dua. Untuk kulkas dan mesin cuci, kami berada di posisi nomor tiga dan empat. Produk-produk ini memiliki peluang yang besar untuk Panasonic tumbuh lebih baik,” ujar Kensuke Miyaji, Director PT Panasonic Gobel Indonesia.

Tantangan industri elektronik hari ini adalah kondisi nilai tukar rupiah yang tidak stabil. Mahalnya nilai dolar AS memberikan tantangan yang besar bagi biaya produksi dan komponen yang masih harus diimpor.

“Masalah kurs itu hal yang biasa. Ketika rupiah melemah, pebisnis pasti merugi. Industri komponen kita sekarang ini masih kecil. Padahal, pada tahun 1995, industri ini bagus. Lalu karena krisis 1998, semuanya hilang dan pindah ke Cina. Satu hal yang penting, kondisi ini mengena ke semua pelaku usaha. Dan, ini akan mematikan mereka yang benar-benar lemah,” komentar Ali.

SHARP sendiri masih menggunakan nilai tukar Rp 14.800 per dolar AS untuk berbelanja bahan baku, operasional, dan lainnya. “Jika rupiah melemah 5% dari angka itu, kami masih tahan. Tapi jika sudah di atasnya, maka kami harus menaikkan harga jual,” kata Andry.

Yang jelas, berbagai strategi telah disiapkan SHARP, salah satunya dengan terus memanfaatkan komunitas muslim di Indonesia. Itulah mengapa, SHARP merilis TV Azan, yaitu televisi yang bisa memberikan pengingat kepada pengguna untuk tidak lupa sholat. Selain itu, SHARP juga akan merilis microwave halal.

“Pada awal tahun depan, kami akan membawa teknologi 8K. Bukan hanya televisi, termasuk ekosistem seperti kamera dan lainnya. Teknologi 8K sangat detail dan akan dirilis serentak termasuk di Indonesia,” katanya.

Teknologi ini nantinya akan digunakan pada ajang Olimpiade 2020 yang diselenggarakan di Jepang.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top