Media

Klaim Ungguli Spotify dan SounCloud, Apa Diferensiasi JOOX?

Klaim Ungguli Spotify dan SounCloud, Apa Diferensiasi JOOX? Joox

Setelah setahun diluncurkan di Indonesia, JOOX mengklaim sebagai aplikasi musik yang paling banyak diunduh di Google Play maupun iOS. Platform besutan raksasa teknologi Tiongkok Tencent Holdings itu mengungguli rivalnya yaitu LangitMusik, SoundCloud, dan Spotify.

Berdasarkan laporan Digital McKinsey yang diungkapkan Tencent, disebutkan bahwa JOOX telah diunduh lebih dari 50 juta kali tahun lalu, atau menguasai 50% aplikasi musik streaming yang paling sering diunduh di Hong Kong, Malaysia, Thailand, dan juga Indonesia.

“Berdasarkan survei AppsAnnie, JOOX menjadi salah satu aplikasi yang dominan di platform iOS dan Google Play. Ada 1,7 juta ulasan mengenai JOOX di Google Play Store dengan rating 4,7,” ucap Senior Manager Tencent Benny Ho saat ditemui di Jakarta.

Menurut Benny, kepopuleran JOOX juga didorong oleh kebiasaan masyarakat, khususnya anak muda, dalam mengonsumsi musik. Berdasarkan laporan McKinsey itu, 50% pendapatan musik streaming tahun lalu berasal dari pasar di bawah usia 35 tahun.

“Data tersebut selaras dengan data kami yang menyebut 80% pengguna JOOX di ASEAN berada di bawah usia 35 tahun,” tuturnya.

Digitaliasi dan internet juga membuat konsumen mengonsumsi media secara berbeda. Benny mengutip laporan McKinsey yang bilang bahwa 47% orang menghabiskan kurang dari satu jam menonton televisi per hari. Sebaliknya, 89% berselancar online lebih dari satu jam per hari.

“Ini mengindikasikan bahwa orang semakin engage dengan smartphone. Mereka semakin terkonek. Ini menjadi media yang efektif bagi pemasar untuk beriklan,” katanya,

joox-2

Nah, bagaimana dengan industri musik streaming? Benny mengatakan, pendapatan musik digital di Asia tumbuh lebih cepat dari industri musik global atau tumbuh 8,8% per tahun dengan prediksi kenaikan sebanyak 15% pada tahun 2020.

Ia bilang, penjualan smartphone mempengaruhi pertumbuhan layanan musik streaming secara global. Tahun ini, pengapalan smartphone meningkat 5% menjadi 1,4 miliar unit.

Catatan McKinsey menyebut, pada awal tahun 2011, pendapatan dari unduh lagu 72% lebih tinggi dibandingkan pendapatan musik digital. Pada tahun 2015 lalu, rasionya bergeser menjadi 43% untuk musik digital dan 45% untuk pendapatan unduh lagu.

“Perubahan model bisnis dalam industri musik mempengaruhi strategi pemasaran perusahaan yang mulai melirik platform digital, termasuk musik streaming sebagai medium untuk menyentuh segmentasi pasar yang lebih tepat,” kata Benny.

Sementara itu, Ventha Lesmana, General Manager Asosiasi Industri Rekaman Indonesia (ASRI) mengatakan, musik streaming menjadi acuan nomor satu bagi label di Tanah Air saat ini. Ia meyakini, potensi musik streaming bakal merekah, sehingga dapat meningkatkan market size industri musik Tanah Air.

Venta mengatakan, berdasarakan laporan Asosiasi Penyelengara Jasa Internet (APJI), ada 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, dengan komposisi 51,8% laki-laki dan 48,2% perempuan.

Dari jumlah itu, 41% di antaranya (54,4 juta jiwa) menonton film lewat internet; 20,6% (21,3 juta jiwa) membaca berita; dan 35,5% (45,9 juta jiwa) mendengarkan musik.

“Artinya, potensi pasarnya ada sekitar 45,9 juta jiwa. Ini pasar besar jika bisa dimonetisasi oleh pemain musik streaming,” katanya.

Tahun lalu, layanan musik streaming berhasil menyumbang pendapatan Rp 14 miliar bagi perusahaan label. Sedangkan pada semester pertama tahun ini, jumlahnya sudah sama dengan torehan tahun lalu.

“Diprediksi, sampai akhir tahun, music streaming memberikan pendapatan bagi label Rp 28 miliar. Meski lebih kecil dari RBT (Ring Back Tone_red), namun pertumbuhannya luar biasa cepar,” pungkas Ventha.

Andalkan Panca Indera

Benny mengungkapkan, banyak cara seseorang mendengarkan musik. Akan tetapi, menawarkan pengalaman panca indera sembari mendengarkan musik menjadi point of interest dari JOOX. Itulah yang dinilai Benny sebagai diferensiasi aplikasinya ketimbang layanan sejenis.

Music is about listening. Namun, bagaimana kami dapat menawarkan musik dengan multiindera adalah sesuatu yang baru dan unik,” ujar Benny.

Diferensiasi itu tertuang dalam beberapa fitur yang ditawarkan JOOX. Pertama, selain memberikan musik gratis yang bisa didengar dengan kualitas suara Dolby, JOOX menawarkan berita-berita terkini seputar musik dan artis. Sehingga konsumen dapat membaca sembari mendengarkan musik.

Keduawatching music yang mana JOOX menghadirkan video musik maupun video eksklusif interview musisi yang dibuat khusus untuk JOOX.

Ketiga, pengguna dapat bernyanyi melalui fitur karaoke, lengkap dengan lirik serta wallpaper yang bisa diganti sesuai selera. Pengguna pun bisa menyebarkannya lewat media sosial.

Keempatinteractive. JOOX menampilkan live broadcasting para musisi, sehingga pengguna bisa chat dan komentar langsung kepada musisi tersebut.

“Di sini, pengguna bisa langsung berinteraksi dengan artis favoritnya ketika mereka sedang live broadcast,” tutur pria asal Tiongkok ini.

Semua diferensiasi itulah yang memberikan added-value bagi pengguna JOOX ketimbang aplikasi musik streaming lain. “Yang lain, lebih banyak mendorong konsumen untuk mengonsumsi konten yang mereka buat. Sedangkan kami, memberikan banyak pilihan menikmati konten,” klaimnya.

Saat ini, 98,4% pengguna JOOX mendengarkan musik lewat smartphone dengan rata-rata waktu yang dihabiskan seseorang di aplikasi ini mencapai 72 menit per hari.

Berdasarkan gender, 47% pengguna JOOX adalah laki-laki, sedangkan 53% perempuan. Jakarta menjadi wilayah yang paling banyak menggunakan aplikasi JOOX atau menguasai 55% dari seluruh pengguna. Sisanya dari Jawa Timur (12%), Jawa (6%), Bali (4%), dan Sumatera Utara (3%).

Dari sisi perangkat, smartphone Android mendominasi pengguna JOOX atau mencapai 78%. Sedangkan 20% sisanya adalah pengguna iOS dan 2% berasal dari kunjungan situs.

Di negeri asalnya Tiongkok, layanan serupa dengan JOOX adalah QQ Music yang dimiliki oleh Tencent. Pada Juli lalu, Tencent memperbesar kepemilikan sahamnya di Music Corp Company (MCC) menjadi 60% dari 16%.

MCC merupakan perusahaan yang membuat Kogu, aplikasi musik streaming terbesar di Tiongkok dengan nilai US$ 2,7 miliar.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular








To Top