Mshop-leaderboard-mobile
Transportation & Logistic

J&T Express: Bisnis Logistik di Indonesia Butuh Investasi Besar

Tokopedia Grab Logistik
Ilustrasi: 123rf

Indonesia sebagai negara kepulauan menyimpan peluang dan tantangan tersendiri bagi para pelaku bisnis. Tidak terkecuali bagi J&T Express sebagai pelaku bisnis logistik di Tanah Air. Negeri ini jelas memberikan peluang yang besar berkat jumlah populasi yang begitu besar dan kemajuan teknologi saat ini.

Di sisi lain, tantangan yang dihadirkan negeri ini juga tidak mudah bagi J&T Express dan pemain lainnya. Satu hal yang dipegang oleh J&T Express adalah untuk berbisnis logistik di Indonesia membutuhkan investasi yang besar.

“Pengiriman cepat adalah dasar bisnis kami. Sejak 2015, kami terus mengembangkan infrastruktur yang kami miliki. Sejauh ini, kami memiliki 1025 cabang di 514 kota di seluruh Indonesia yang kami kelola sendiri, tidak agensi atau franchise,” kata Robin Lo, Direktur J&T Express.

Menurutnya, sistem agensi tidak mereka gunakan layaknya kebanyakan perusahaan logistik lakukan untuk menjaga kualitas layanan mereka. Upaya ini pun diakui membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sejauh ini, J&T Express dalam membangun jaringan dan infrastrukturnya telah menghabiskan dana sekitar Rp 400 miliar.

“Perusahaan untuk berkembang harus ada infrastruktur dengan modal yang besar. Kami cukup memadai soal modal. Kita bisa lihat founder kami adalah ex CEO OPPO yg mampu mengembangkan perusahaan tersebut dalam 3 tahun terakhir. Meski kami punya modal yang kuat, namun harus ditunjang dengan infrastruktur yang kuat juga,” lanjut Robin.

Upaya ini pun harus dibangun secara konsisten dan menyeluruh di seluruh wilayah kepulauan negeri ini. Menurut Robin agar pergerakan mereka tidak terbatas. Di sisi lain, Robin mengakui bahwa tidak semua tranportasi bisa mereka kuasai. Sementara, untuk membangun layanan yang cepat memang menbutuhkan investasi yang lebih besar lagi. Misal membeli pesawat. Untuk menanggulangi tantangan tersebut, J&T Express telah menjalin kolaborasi dengan Garuda Indonesia.

“Kecepatan di bisnis adalah persoalan persepsi dan janji yang diberikan kepada konsumen. Ketika perusahaan mampu menepati janji dari layanan mereka, maka konsumen pun menganggap bahwa layanan perusahaan ini cepat,” lanjutnya.

No Franchise & ROI yang Sulit Dihitung

Robin mengatakan J&T Express ingin melakukan investasi yang menyeluruh agar mampu menjaga pelayanan yang lebih baik. Namun, tidak sekadar membakar uang, Robin mengatakan bahwa pihaknya terus menjaga agar bisnis ini tetap sehat. Dalam hal ini, Robin dan timnya mampu menjaga pertumbuhan pengiriman mereka dengan cukup baik. Pada bulan Ramadan misalnya, mereka mampu membukukan pertumbuhan hingga 80% atau sekitar 250 ribu paket setiap harinya. Lebih besar dibandingkan bulan sebelumnya yang rata-rata di angka 150 ribu pengiriman setiap harinya.

Menurutnya, menghitung Return on Investment di Indonesia ini cukup sulit. Hal ini karena tidak semua daerah yang menjadi destinasi investasi mereka mampu menghasilkan profit yang sama besarnya.

“Dari seluruh wilayah di Indonesia, bisa dikatakan hanya 20 kota besar saja yang mampu memberikan profit dengan baik bagi perusahaan logistik. Sisanya masih disubsidi oleh perusahaan, baik yang memiliki jaringan sendiri atau menganut sistem kemitraan at franchise,” terang Robin.

Lebih lanjut Robin mengatakan bahwa Pulau Jawa dan Sumatera adalah dua pulau yang profitnya bisa menyelamatkan kinerja tiga pulau besar lainnya di negeri ini. Target J&T Express di negeri ini pun untuk membangun kemampuan produksi yang sebesar-besarnya sebagai investasi mereka di masa depan.

“Kami tidak bisa berbisnis secara tradisional yang menyiapkan barang jika ada permintaan. Kami harus menyiapkan produksi sebesar-besarnya. Kapasitas kami saat ini bisa melayani 400 ribu pengiriman per hari. Target kami untuk break event point (BEP) adalah 2 tahun sampai 3 tahun. Namun, kami harus terus mengeluarkan modal untuk berinvestasi agar kami semakin besar,” tutup Robin.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Most Popular








To Top