Opinion

Kekuatan Marketing Black Panther Tidak Hanya Sukses Secara Finansial

Awal tahun 2018 ini, Marvel merilis film Black Panther, film tentang seorang super hero yang berasal dari sebuah negara fiktif bernama Wakanda. Black Panther merupakan salah satu seri dari Marvel Cinematic Universe yang dirilis bersama dengan Avengers: Infinity Wars dan Ant Man. Seperti film Marvel lainnya yang sukses, Black Panther tidak hanya sukses secara finansial saja.

Black Panther mengambil setting dan tema hanya beberapa setelah film Captain America: Civil Wars (2016). Dikisahkan setelah sang raja meninggal, Raja T’Chaka, T’Chala (diperankan oleh Chadwick Boseman) sang anak mengambil alih takhta kerajaan dan akan segera dinobatkan sebagai raja di Wakanda. Wakanda merupakan sebuah negara fiktif dan tersembunyi di Afrika Tengah yang memiliki sumber daya alam dan tambang yang sangat kaya. Material termahal di dunia, Vibranium hanya bisa ditemukan di Wakanda. Adanya tambang Vibranium membuat Wakanda amat kaya dan memiliki teknologi yang amat canggih dibanding negara-negara lain di dunia.

Kembali ke Wakanda, T’Chala harus dihadapkan dengan beberapa persoalan, mulai dari kemampuannya untuk meneruskan tahta kerajaan dan melindung segenap rakyatnya, hadirnya sosok Erick Killmonger (Michael B Jordan) yang berupaya menjagalnya dari tahta kerajaan, hingga dilemanya sebagai raja dari negara terkaya di Afrika dan dunia, akan perdamaian di dunia.

Film arahan sutradara Ryan Coogler ini merupakan satu-satunya atau bahkan yang pertama kalinya pernah diluncurkan oleh Marvel yang membahas secara menyeluruh dan lumayan dalam terkait dengan budaya masyarakat Afrika. Hampir seluruh pemeran utama dan figuran dalam film ini adalah orang keturunan Afrika. Beberapa kekayaan budaya, mulai dari pakaian, musik, seni rupa, dan aksen bahasa semuanya dikeluarkan secara baik. Black Panther bahkan dianggap sebagai salah satu film dari Marvel yang terbaik.

Forbes menyebutkan bahwa Black Panther merupakan film Marvel dengan pendapatan terbesar. Hingga minggu ke-tiga Maret, Black Panther berhasil mendapatkan pendapatan sebesar lebih dari US$1 miliar di seluruh dunia. Namun, ada satu hal yang membuat Black Panther menjadi rilisan terbaik Marvel hingga saat ini.

Sebagaimana yang sudah disebutkan, Black Panther berhasil mengangkat kekayaan budaya masyarakat Afrika, baik dari sisi seni, budaya, musik, hingga pandangan sosial politik. Hal ini yang membuat Black Panther berhasil mengangkat sisi lain dari komunitas masyarakat Afrika. Bahkan, beberapa hal yang ada di film Black Panther tanpa disadari berhasil diadaptasi menjadi salah satu simbol dari perjuangan masyarakat Afrika di dunia nyata.

kredit foto: Mashable

Salam ‘Wakanda Forever’ yang berkali-kali ditampilkan di Black Panther sudah diadopsi oleh beberapa publik figur. Pemain tenis Sachia Vickery dan Gael Monfils memberikan gestur ‘Wakanda Forever’ dalam pertandingan yang mereka jalani. Pemain sepakbola, Jesse Lingard dan Paul Pogba juga pernah memberikan salam ‘Wakanda Forever’ dengan menyilangkan kedua tangannya di dada sebagai rasa penghormatan setelah berhasil membobol gawang lawan.

“Ini bukan sekadar simbol. Ini segalanya. Ini adalah tanda bahwa saya mendukung komunitas Black Panther,” ujar Gael Monfils.

Black Panther merupakan salah satu bentuk ‘perlawanan’ komunitas Afrika terhadap dominasi kulit putih di Hollywood. Meksipun tidak masuk dalam daftar film terbaik versi Academy Awards, perjalanan Raja T’Challa berdampingan dengan film-film yang mengangkat perjuangan komunitas Afrika lainnya seperti Moonlight, 12 Years a Slave, dan Get Out.

Eksplorasi budaya dan isu sosial-politik yang menjadi kekuatan marketing terbesar dari kesuksesan Black Panther.

Dengan salam ‘Wakanda Forever’ digaungkan oleh beberapa figur terkenal di dunia, Black Panther tidak hanya memberikan keuntungan yang besar bagi Marvel. Namun, ia juga memberikan warisan budaya dan persatuan bagi perjuangan masyarakat komunitas Afrika di seluruh dunia.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top