Consumer Goods

Jalan Berliku Bisnis Jam Tangan Kayu ala Matoa

Ide inovasi dalam bisnis bisa hadir dari mana saja. Hal ini telah dibuktikan oleh para pelaku usaha. Salah satunya adalah Lucky D. Aria selaku pemilik dari merek produk jam tangan kayu Matoa. Sebelum memulai Matoa pada tahun 2011, Lucky melihat beragam karakter anak muda di kota-kota besar.

“Saya banyak belajar dari perilaku konsumen Indonesia. Mereka ini kebanyakan smart buyer, namun pada prinsipnya suka pamer. Itu yang menjadi kesimpulan saya. Kalau ditanya orang pas pakai barang pokoknya suka pamer. Kalau pakai baju baru, maunya langsung ketemu teman dan dipamerin. Mereka ini merasa kalau pakai sesuatu yang unik ada kebanggaan sendiri. Dari situ, saya kepikiran buat bikin yang belum ada,” beber Lucky.

Hal ini juga telah dibuktikan Lucky ketika ia menggunakan jam tangan kayu yang kebetulan masih jarang di Indonesia. Hasilnya? Banyak yang menanyakan di mana ia mendapatkan jam tangan kayu tersebut. Jam tangan kayu yang digunakan Lucky saat itu adalah asal Amerika Serikat.

“Setelah banyak yang nanya, saya cari tahu ternyata jam tangan kayu yang saya pakai pengrajinnya dari Yogyakarta. Saya semakin yakin kalau dibuat dalam merek lokal dengan harga yang terjangkau pasti keren,” ujarnya.

Lucky mulai menggarap ide dan konsep dari Matoa. Sayangnya, ide dan konsepnya tidak semulus yang diperkirakan. Setelah menelusuri banyak pengrajin, tidak ada satu pun yang mau diajak bekerja sama untuk melakukan produksi jam tangan kayu. Produk jam tangan kayu masih terbilang aneh buat para pengrajin kayu yang terbiasa memproduksi rangkaian peralatan furnitur. Setidaknya proses mencari pengrajin berlangsung selama satu tahun.

Lucky D. Aria

“Saya tidak memiliki latar belakang di bidang pertukangan, mengolah kayu juga tidak paham. Tapi, karena saya yakin kalau sudah jadi dan dikemas pasti keren, makanya saya jalan terus dengan konsep ini,” tambah Lucky.

Setelah menemukan pengrajin kayu, proses produksi Matoa pun dimulai. Setidaknya saat itu modal sekitar Rp 50 juta dikeluarkan oleh Lucky untuk keperluan riset dan pameran. Semuanya habis, tidak menyisakan anggaran untuk promosi. Satu-satunya cara untuk promosi melalui jalur online.

Produk jam tangan Matoa mulai dipamerkan pertama kali dalam sebuah ajang pameran di Jakarta pada tahun 2012. Hari pertama pameran, tidak ada satu unit pun terjual. Hari kedua pameran, sama seperti hari pertama. Lucky mulai heran mengapa produknya tidak laku. Usut punya usut ternyata orang tertarik dengan produk Matoa, hanya saja mereka ragu karena Matoa adalah merek baru.

“Saya bikin garansi selama satu tahun, serusak apapun saya ganti. Orang-orang itu ragu karena harganya tidak murah, kisaran Rp 700.000 sampai Rp 1 juta, dan produk lokal pula. Pokoknya nekat ajalah. Hari ketiga dan keempat produk Matoa laku semua. Tapi, pas pulang juga banyak komplain rusak segala macam,” imbuh Lucky.

Melalui pameran tersebut, Lucky meyakini bahwa sebenarnya konsep Matoa diterima oleh banyak kalangan. Lucky berhasil membangun rasa percaya yang ada di benak konsumen melalui jaminan garansi. Ia menyakini bahwa orang mau membeli karena ada garansi yang diberikan.

“Dulu banyak yang kirim balik sampai di atas 50%. Sekarang sudah amat berkurang karena sudah lebih baik. Saya mau orang percaya sama produk Matoa, nanti baru dia sendiri yang kasih tahu teman-temannya,” ujarnya.

Sekarang Matoa sudah menjadi produk lokal yang berhasil diekspor ke beberapa negara. Negara seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Malaysia, dan negara-negara Eropa menjadi sasaran ekspor Matoa. Bahkan komposisi penjualan di dalam dan luar negeri sudah seimbang.

Lucky mengakui bahwa produk-produk Matoa laris baik di dalam negeri dan luar negeri karena konten lokal yang disajikan dalam rangakain produk Matoa. Dalam tiap lini produknya, Matoa menyajikan nama-nama daerah di Indonesia seperti Alor, Mori, Gili, Sumba, dan Flores. Ini merupakan salah satu kekuatan dari Matoa, keunikan konten lokal di samping dari kualitas produk yang terus dijaga.

“Saya berpikir ketika orang cari Matoa di internet, harus langsung ketemu Matoa. Kalau ada embel-embel woods itu sudah banyak dan susah pencariannya. Pokoknya ketika produk itu dicari di internet yang keluar antara pulau dan jam tangannya. Supaya pulau di Indonesia juga bisa semakin diketahui banyak orang,” jelas Lucky.

Saat ini, Matoa memiliki jumlah pegawai mencapai 70 orang yang kebanyakan adalah pengrajin kayu. Tiap bulannya Matoa memproduksi 1.500 unit jam tangan yang siap diedarkan di dalam dan luar negeri. Jumlah omzet mencapai kisaran Rp 1 miliar per bulan.

Sukses bisnis Matoa ini tidak lepas dari beragam usaha untuk fokus pada membangun rasa percaya dengan konsumen, serta pengembangan produk. Meskipun menyediakan garansi tentu tidak akan ada artinya bila produk yang diberikan tidak memberikan nilai apa pun bagi konsumennya.

“Intinya start with why. Jangan dimulai dengan bikin produk terus dijual, tetapi pahami dulu konsumen maunya apa,” pungkas Lucky.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top