Mshop-leaderboard-mobile
Consumer Goods

Kualitas Produk Bukan Lagi Utama, Yang Penting Rekomendasi

rekomendasi
Kredit foto: 123RF

Inti dari berbisnis kuliner adalah rasa yang enak. Kamera yang bagus adalah hasil foto jernih dan tajam. Pakaian harus nyaman dan enak dilihat. Apa artinya? Kesemuanya membicarakan kualitas produk, sebuah prinsip utama dalam berbisnis yang tidak boleh dikesampingkan.

Walau begitu, kualitas sebenarnya sangat subjektif dan bergantung kepada selera tiap orang yang bisa berbeda-beda. Maka tidak heran sebenarnya berbisnis zaman sekarang hanya mengandalkan kualitas produk tidak bisa lagi dikedepankan, karena ada lagi yang lebih penting menurut pendiri usaha minuman Radja Cendol Danu Sofwan.

“Di era serba digital sekarang kualitas bukan lagi yang utama. Yang paling penting adalah rekomendasi, advokasi, atau pendapat orang-orang terhadap produk,” ungkap Danu dalam acara Gebyar UKM Indonesia 2017 di Gedung Smesco Jakarta pada Selasa (24/10) 2017.

Apalagi bisnis kuliner, di mana faktor rasa kembali lagi kepada konsumen. Tidak bisa disamaratakan. “Contohnya ada dua restoran berdekatan, yang satu enak satu lagi biasa saja. Tapi kenapa yang rasanya biasa saja lebih rame. Itu karena ada faktor rekomendasi. Restoran tersebut bisa membuat konsumen menceritakan produknya kepada rekannya yang lain, makanya ramai,” sambungnya.

Alasannya, sebuah rekomendasi bisa mendatangkan lebih banyak konsumen karena ketika seseorang membicarakan sebuah produk, maka rekannya yang lain akan penasaran untuk mencoba. Walau begitu, rekomendasi itu juga bisa membunuh karena sekalinya buruk, konsumen lain tidak akan mau mencoba.

“Sekarang kalau orang mau menonton pasti tanya dulu temannya, bagus atau tidak. Kalau bagus baru nonton, kalau tidak ya tidak nonton,” terang Danu lagi.

Bukan hanya produk, tapi yang lebih penting untuk Danu adalah brand. Produk sifatnya fisik dan mudah ditiru kompetitor, sehingga tidak heran produk bukan lagi faktor utama. Sementara brand adalah soal persepsi seseorang serta bersifat intangible alias tidak nyata.

Hal tersebut erat kaitannya dengan positioning, bagaimana brand bisa memposisikan diri kepada konsumen. Seperti contoh, ingat air mineral yang pertama terlintas adalah Aqua. Ingat mie instan pasti Indomie.

“Jadi bagaimana kalau kita punya usaha harus bisa direkomendasikan oleh konsumen. Randol melakukannya lewat digital seperti media sosial. Sekitar 80% mitra usaha Randol berasal dari media sosial sehingga penyebaran brand Randol cepat. Belum lagi kami melakukan SEO. Di dunia digital orang-orang membicarakan Randol sehingga targetnya nanti ketika orang ingat cendol, langsung terpikirkan Randol,” tutup Danu.

Most Popular








To Top