Lifestyle

Melihat Kolaborasi Wardah dan Deretan Desainer di IFW 2018

Photo Credits: Wardah

Setelah meluncurkan tren make-up terbaru, Wardah Sinar & Pijar di panggung Indonesia Fashion Week (IFW) 2018, Wardah kembali hadir bersama delapan desainer fesyen tanah air. Di panggung IFW 2018, Wardah mengajak para desainer menampilkan koleksi mereka yang terinspirasi dari tren make-up terbaru Wardah kali ini.

Rani Hatta – Hero

Isu utama dalam koleksi ini mengacu pada pergerakan perempuan di seluruh dunia. Keberanian untuk berpendapat, berekspresi, dan bangkit untuk membela diri coba dipresentasikan Rani dalam koleksi Hero. Desain ini seolah ingin menyuarakan kesetaraan dan mematahkan stereotype yang ada tentang perempuan.

Zaskia Sungkar – Gemintang

Masih sesuai dengan ciri khas desain Zaskia seperti biasa, koleksi Gemintang nampak feminin nan anggun dengan siluet yang tegas dan terstruktur. Detail beads dan aksesoris berbahan metal kian merepresentasikan kekuatan seorang perempuan. Dalam dominasi warna silver, merah, dan hitam, koleksi Zaskia kali ini nampak cantik dan elegan.

Ria Miranda – Lullatone

Ingin merepresentasikan sosok perempuan masa kini, Ria mengangkat tema Lullatone yang terinspirasi dari sesosok angsa. Terlihat cantik, anggun, dan dikenal loyal dengan pasangan, Angsa juga dikenal memiliki sikap yang tegas dan agresif terhadap lawan. Hal ini menggambarkan dualisme yang menyatu dalam komposisi harmonis pada warna terang dan gelap, pure dan kuat, feminin dan maskulin.

Norma Hauri – NOIR

Kesan melankolis kental terasa ketika Norma memamerkan koleksi NOIR di atas panggung IFW 2018. Norma mencoba membawa hawa kesedihan yang dirasakan Ratu Victoria yang mengenakan  gaun hitam selama 40 tahun sebagai bentuk peringatan kematian suaminya, pangeran Albert.

Memiliki makna hitam, koleksi NOIR juga terinspirasi dari gambar kelam para janda Italia yang mengenakan gaun berenda di sebuah acara pemakanan. Norma juga terinspirasi dengan kehidupan Ratu Mary dari Skotlandia yang pernah dikurung di kerejaannya sendiri. Desain yang tajam dari koleksi NOIR seolah menafsirkan kegigihan seorang perempuan yang tetap melanjutkan hidup meski berada dalam pusaran cobaan.

 Malik Moestaram – Peintures Anciennes

Memilih kontras warna merekah pada pilihan bahan yang lembut dengan paduan floral dan permainan warna menambah kesan romantis dari koleksi Peintures Anciennes milik Malik. Koleksi ini Ia katakan terinspirasi dari cerita dan lukisan Eropa yang diimplementasikan dalam pilihan warna dan detail yang ia gunakan pada koleksi ini.

Barliasmara – Dazzling

Kembali dengan potongan gaun klasik bersama renda yang dihiasi motif, nampak kental ciri khas desain Barli dalam koleksi Dazzling. Masih setia dengan lipatan berlekuk, Barli mencoba mengukir potongan ini secara teratur dengan berbeda arah di atas gaun miliknya. Terinspirasi dari era renaissance, Barli juga menampilkan koleksi dengan pola jahitan quasi-ergonomics yang mengelilingi gaun horsehair transparan.

Melihat koleksi ini seperti kembali kepada tren tahun ’20-‘50an. Koleksi ini pun nampak dingin dengan varian warna silver, abu-abu, biru, dan lavender.  Tak lupa, Barli pun melengkapi koleksi Dazzling dengan ornamen kepala bersejarah, aksesoris penutup kepala khas olahraga anggar dan kesan periode flapper, tanpa menghilangkan elemen modern dengan sepatu tertutup era Rocco.

ETU – Poetic Breeze

Memadukan siluet klasik dengan warna alam dan romantisme musim semi yang putis, Etu mencoba bercerita mengenai keindahan rasa dalam menyambut musim semi. Dalam koleksi Poetic Breeze, Etu mencoba mengeksplorasi siluet khas era ’50-’60an yang menekankan pada garis pinggang dengan potongan lurus yang menghasilkan kesan minimalis, klasik, namun elegan.

Dalam koleksi ini, Etu nampak memilih cotton, wool-twil, dan twill blend sebagai material utama. Motif dan palet bernuansa genderless kemudian dipadukan dan membuat tampilan yang modest dan appropriately stylish.

 Dian Pelangi – Andèwi

Diambil dari Bahasa Sanksekerta, Dian memilih Andèwi yang bermakna tumbuh-tumbuhan sebagai konsep dalam kolaborasi bersama tren make up Denting Bersemi Wardah. Ingin merepresentasikan keindahan flora Indonesia, Dian mencoba menggunakan palet warna yang merepresentasikan pedalaman hutan Indonesia, seperti hitam, hijau, dan keemasan.

 Andèwi juga terlihat memiliki sedikit sentuhan Spanyol dari potongan dan sillhoute yang digunakan. Terinspirasi dari perjalanan yang dilakukan Dian ke negara tersebut. Ukiran dinding di kerajaan Cordoba dituangkan Dian dalam bordir dan payet yang terdapat dalam koleksi ini. Koleksi semi houte couture ini dibalut dengan kain songket Palembang yang menjadi salah satu ciri khas dari karya Dian.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X








To Top