Government & Public Services

Bagaimana Membangun Kota Kreatif di Era Borderless?

kota kreatif
Carol Y.Y. Lin, Professor National Chengci University dan Rob Wolcott, Executive Director KIN

Saat ini, kota-kota di dunia dihadapkan dengan beragam tantangan besar. Konsep borderless karena teknologi dan internet membuat kompetisi antarkota. Selain itu, kota-kota di dunia juga dihadapkan dengan permasalahan supply dan demand, perekonomian, hingga masalah sumber daya manusia. Disampaikan oleh Carol Y.Y. Lin, penulis buku The Impact of Societal and Social Innovation sekaligus Professor National Chengci University, kompetisi antarkota sudah tidak bisa lagi dihindari.

“Kenapa hal ini menjadi sangat penting. Tanpa ada borders, kota bisa menjadi sangat kompetitif. Kota berebut mengajak talent untuk tinggal dan meningkatkan perekonomian kota,” ujar Carol di Jakarta, Rabu (6/12/2017).

Menurutnya untuk mengatasi tantangan yang ada, kota-kota harus memiliki identitas kota. Oleh sebab itu, permasalahan branding menjadi hal yang penting. Saat ini Carol memiliki teori Lerp Pearl (Leader, Execution, Resources, Partners, Activation) dalam teorinya ini ia menjelaskan bahwa setiap kota harus saling kolaborasi dalam tahapan-tahapan tertentu untuk bisa menemukan identitas kota.

Ia mencontohkan salah satunya adalah kota Lyon di Prancis. Dalam presentasinya, Carol menyebutkan bahwa sebelum Paris ditetapkan sebagai ibukota Prancis, Lyon merupakan kota yang maju. Untuk bersaing dengan Paris, Lyon berusaha mencari identitasnya, salah satunya melalui industri kreatif, hiburan, dan film. Hasilnya adalah Lyon saat ini mampu bersaing dengan Paris karena memiliki identitas yang jelas.

“Tidak hanya berhasil menemukan identitas saja, Lyon juga berhasil merangkul masyarakatnya untuk membangun kota,” tambah Carol. Baginya salah satu tahapan yang bisa dilakukan oleh kota-kota lain dalam menemukan identitasnya adalah dengan melakukan identifikasi terhadap permasalahan kota.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Rob Wolcott selaku Executive Director KIN, ia mencontohkan kota Pittsburgh, Amerika Serikat, yang dulu sempat hancur karena revolusi industri, namun saat ini berhasil tumbuh menjadi salah satu kota yang paling kreatif di Amerika Serikat. Selain itu, kisah yang sama juga terjadi di kota Galway, Irlandia, kota yang terletak di pesisir pantai ini sebelumnya adalah kota yang kecil dan miskin. Namun, berkat perkembangan teknologi pertanian dan kain-lain, Galway berhasil berkembang menjadi kota modern di Irlandia.

“Setiap kota harus memiliki tiga hal yakni people, purpose, dan place. Semua itu bisa dicapai dengan memulai dari hal-hal yang dimiliki oleh masing-masing kota,” jelas Rob.

Rob meyakini bahwa setiap kota memiliki hal yang unik dan autentik. Ia juga meyakini bahwa Places adalah hasil kreasi dari people dan purpose. Oleh sebab itu, ia menyemangati kepada tiap kepada daerah bahwa semuanya memiliki potensi yang sama dalam membuat kotanya maju.

“Setiap pemimpin daerah harus memiliki visi jangka panjang dan jangka pendek. Dan juga fokus terhadap tujuan yang akan dicapai. Jangan sekadar ikut-ikutan dengan kota lain. Pemimpin harus memiliki leadership dan berani untuk mengeksekusi,” pungkas Rob.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

MARKETEERS X

Most Popular








To Top