Resource & Energy

Menangkap Sinyal Positif Industri Manufaktur Indonesia

Industri manufaktur Indonesia menunjukkan geliat yang cukup agresif. Kepala Ekonom IHS Markit Bernard Aw mengatakan, pertumbuhan aktivitas manufaktur Indonesia pada Desember 2018 merupakan sinyal positif dan menjadi indikator yang baik untuk menyongsong tahun 2019.

“Pada survei Nikkei di Desember 2018 menunjukkan adanya tanda-tanda penguatan kondisi permintaan baru meningkat, terutama didorong oleh pasar domestik,” ungkap Bernard di Jakarta, Kamis (03/01/2019).

Hasil survei Nikkei mengindikasikan kondisi yang lebih baik pada tahun ini lantaran para pabrikan akan memperluas kapasitas produksi mereka. Hal ini seiring dengan peningkatan penjualan yang diiringi penyerapan tenaga kerja. Indikator pendukung lain adalah peningkatan kepercayaan diri para pelaku bisnis. Lebih dari 45% responden memproyeksi produksi akan lebih baik dalam satu tahun ke depan.

Menanggapi hal ini, Menteri Perindustrian Airlangga Hartaro mengatkan kenaikan indeks manufaktur pada akhir tahun 2018 juga dinilai sebagai penegasan bahwa pelaku industri manufaktur di Indonesia semakin percaya diri untuk lebih ekspansif pada tahun 2019.

“Memasuki tahun politik, kita harus lebih optimistis, termasuk kepada para pelaku industri, supaya bisa mengambil peluang,” tegasnya.

Berdasarkan laporan Nikkei, PMI manufaktur Indonesia pada Desember 2018 menempati posisi angka 51,2 atau naik dari perolehan bulan November yang bertengger di peringkat 50,4. PMI Manufaktur Indonesia pada pengujung 2018 juga menjadi posisi tertinggi dibanding tiga bulan sebelumnya. Kinerja positif itu antara lain didorong karena lonjakan permintaan domestik dan pertumbuhan lapangan kerja.

Di level Asia Tenggara, geliat industri di Indonesia lebih baik daripada Thailand, Malaysia dan Singapura. Sementara itu, PMI manufaktur Asean terpantau berada di posisi 50,3 pada Desember 2018, melambat dibanding capaian bulan sebelumnya di tingkat 50,4.

PMI ini merupakan hasil survei bulanan yang menggunakan data respons para manajer di bidang pembelian yang berasal dari 300 perusahaan manufaktur berbagai sektor, di antaranya industri logam dasar, kimia dan plastik, tekstil dan pakaian, serta makanan dan minuman.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top