Consumer Goods

Menanti Pertumbuhan Belanja Pangan Online di Indonesia

E-commerce atau perdagangan online mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan di Indonesia. Menurut laporan Google & Temasek pada 2017, pembelian produk via e-commerce di negeri ini mencapai US$ 10,9 miliar atau sekitar Rp 146,7 triliun, meroket 41% dari US$ 5,5 miliar atau sekitar Rp 74 triliun pada 2015. Namun, apakah pertumbuhan belanja online yang meningkat serta-merta membuat belanja produk sehari-hari secara online juga melambung

Belanja online telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dewasa ini. Pemain atau perusahaan e-commerce pun mulai memiliki positioning-nya masing-masing. Ada yang setia menjadi market place, adapula yang niche dengan hanya menawarkan produk grocery seperti susu, sayur, buah, daging, dan lainnya. Beberapa pemain di kategori e-grocery adalah Happy Fresh, Bilna, Sukamart, Hypermart.com, dan lainnya.

Sayang, tidak ada riset lengkap mengenai seberapa besar nilai pasar e-grocery dan pertumbuhannya selama ini. Hanya saja, manufaktur kemasan Tetra Pak melansir riset tahunannya yang menguak pertumbuhan pasar belanja pangan online. Namun, riset itu hanya mengungkapkan kondisi market di ibukota.

Berdasarkan riset bertajuk Tetra Pak Index (TPI), sebanyak 1,2% konsumen di Jakarta telah berbelanja pangan secara online pada tahun 2016. Jumlah itu diprediksi akan meningkat 5,4% pada tahun 2030. Sementara, kegiatan belanja di pasar tradisional akan menurun pada tahun 2030 dari 56,3% pada tahun 2016 menjadi 46,6%.

Communications Manager Tetra Pak Indonesia Gabriella Anggriani mengungkapkan, ada empat faktor yang membuat pasar e-grocery akan meningkat, yaitu kemudahan berbelanja, teknologi, keberlanjutan, dan personalisasi.

“Terkait dengan teknologi misalnya, pemain e-grocery mesti memastikan bahwa layanan antar mereka akan cepat sampai ke tangan konsumen karena yang dibeli adalah produk fresh. Bahkan, tahun 2025 produk yang dibeli sampai dalam waktu sepuluh menit saja,” papar dia.

Ia melanjutkan, isu sustainability atau keberlanjutan juga mempengaruhi belanja e-gorcery. Dengan semakin mudanya pembeli online di Indonesia yang sudah melek mengenai konsep keberlanjutan, perusahaan yang menawarkan produk dan kemasan yang ramah lingkungan akan mencuri spotlight.

“Kemudahan berbelanja juga penting, khususnya user interface dari aplikasi si pemilik e-grocery. Jangan aplikasi terlalu ribet untuk digunakan konsumen,” papar dia.

Adanya peningkatan e-grocery dirasakan oleh marketplace Bukalapak. Associate Vice President of O2O Business Bukalapak Rahmat Danu Andika menerangkan, pada sementer satu 2018, penjualan minuman siap konsumsi atau ready-todrink mencapai satu juta botol melalui marketplace dan melaluidistribusi warung kelontong. Sebagai informasi, Bukapalak tengah menjadikan warung sebagai titik distribusi untuk beberapa penjualan produk grocery yang dijual di Bukapalak.

“Dari 50 juta transaksi yang dilakukan di Bulapak pada sementer tahun ini, 46%-nya adalah berasal dari e-grocery. Jadi ini adalah peluang bisnis yang menjanjikan,” papar dia.

Masih berdasarkan temuan Tetra Pak itu, produk-produk yang paling seri dibeli secara online oleh kebanyakan konsumen selama semester satu kemarin adalah susu, kopi, teh, cokelat, dan sabun.

Managing Director Happyfresh, salah satu pemain e-grocery yang hadir sejak 2014 lalu mengungkapkan, yang menjadi tantangan pemain e-grocery adalah meningkatkan basket size atau nilai belanja konsumen, frekuensi belanja, dan personalisasi. Ia bilang, pihaknya telah bekerja sama dengan peritel tradisional dan principle atau brand dalam meracik penawaran yang lebih personal kepada konsumen untuk meningkatkan pembelanjaan e-grocery secara online.

E-grocery merupakan segmen bisnis yang menarik karena big data dari pesanan konsumen dapat digunakan untuk kebutuhan meracik siasa pemasaran online, “Misalnya merekomendasikan produk apa yang sedang banyak dicari konsumen,” tambah dia.

Candrini juga meyakini pasar e-grocery akan tumbuh selama 2 hingga lima thun ke depan seiring pertumbuhan daya beli milenial, penggunaan sistem pembayaran online, dan masyarakat yang lebih terkoneksi dengan internet.

Peran kemasan

Tetra Pak Index 2018 pada dasarnya merupakan riset annum yang kali ini dilakukan di lima negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Saudi Arabia, Korea Selatan, dan China. Hasil riset ini bertujuan memberikan gambaran mengenai peluang unik untuk meningkatkan belanja pangan secara daring.

China adalah negara dengan pertumbuhan e-grocery paling tinggi, bahkan mengungguli negara-negara Eropa dan Amerika Serikat. Ini terjadi karena China tidak memiliki “warisan” masa lalu seperti Barat di mana sistem ritel dibangun oleh perusahaan-perusahaan besar. Di China, mereka tidak punya warisan jaringan ritel besar yang akan terdisrupsi oleh kehadiran teknologi.

Riset itu juga menyebut bahwa kemasan punya andil dalam memberikan peluang unik dalam mendongkrak e-grocery. Kemasan karton ringan misalnya, berperan mengurangi biaya dan jejak karbon. Para e-retailer mengaku kemasan hemat ruang mampu mengurangi volume transportasi hingga 30%-50%.

“Tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan, juga bagi kosnumen dalam meletakkan produk itu di rumah. Apalagi, semakin tahun, ukuran rumah akan semakin minimalis,” papar dia.

MARKETEERS X

Most Popular








To Top