Retail & Property

Mencicip Bisnis Restoran Indonesia di 2019

Photo Credits: 123rf

Bisnis makanan di Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Dengan nilai perkiraan mencapai Rp 844,35 triliun, semua pemain memiliki kesempatan yang sama. Dan, dari nilai itu, sekitar 90% diisi oleh pemain independen.

“Patah satu, tumbuh seribu”. Inilah peribahasa yang tepat untuk menggambarkan bisnis restoran di Indonesia. Bagaimana tidak, Anda mungkin bisa dengan mudah menyaksikan restoran-restoran baru bermunculan di sekitar And. Namun, tak butuh waktu lama bagi kebanyakan restoran itu untuk gulung tikar. Menariknya, restoran-restoran dengan konsep baru terus bermunculan.

Bisnis restoran di Indonesia memang tak terlepas dari tren makanan dan minuman yang terus berkembang. Lebih dari itu, budaya orang Indonesia yang gemar menjadikan makanan sebagai ‘teman untuk mengobrol’ kian menyehatkan bisnis restoran tanah air. Apalagi, mayoritas masyarakat Indonesia tak segan mencoba berbagai menu baru dari berbagai resep berbeda.

Bisnis restoran di Indonesia terus bergerak dinamis. Hampir di tiap-tiap sisi jalan, kita bisa dengan mudah menemui mereka. Mulai dari raksasa franchise yang terus melebarkan jaring bisnis mereka, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UKM) yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) pun kewalahan dalam menghitung jumlah restoran yang ada di Indonesia.

“Yang bisa kami ikuti sebagai gambaran adalah perusahaan yang go public. Dan kalau dilhat, angka pertumbuhan restoran masih lebih tinggi dibandingkan perhotelan. Perkiraan kami bisa tumbuh di angka 8% pada 2018, dan akan terus meningkat pada tahun mendatang,” ungkap Ketua Umum PHRI Hariyadi B. Sukamdani.

Agriculture and Agri-Food Canada melalui Market Access Secretariat Global Analysis Report menyebutkan, Indonesia merupakan pasar layanan makanan (foodservice) terbesar di antara seluruh negara ASEAN. Nilai penjualan untuk pasar layanan makanan di Indonesia mencapai  US$ 36,8 miliar pada 2014. Restoran dengan layanan lengkap, fast food, dan kedai makanan pinggiran merupakan tiga jenis restoran teratas yang menggenjot roda bisnis industri restoran di Indonesia.

Euromonitor International (2016) memproyeksi, total consumer foodservice by subsector and type di Indonesia memiliki CAGR sebesar 9% per tahun, dengan nilai forecast mencapai US$ 56,29 miliar. Dengan nilai tukar Rp 15.000 per dolar AS, maka nilai bisnis ini mencapai Rp 844,35 triliun. Dan, sekitar 90% terdiri dari restoran independen, alias bukan restoran berjaringan.

Sedangkan jika kita membedah kinerja restoran berjaringan, pendapatan mereka terus tumbuh dari waktu ke waktu. Tiga pemain besar di sektor ini, seperti PT Fast Food Indonesia Tbk, yang  menaungi bisnis Kentucky Fried Chicken (KFC); PT MAP Boga Adiperkasa Tbk, sebagai pemegang kendali raksasa kedai kopi dunia Starbucks; dan PT Sarimelati Kencana Tbk., yang memayungi Pizza Hut memiliki kinerja yang gemilang.

 Bisnis KFC memegang peran besar dalam kompetisi di sektor ini. Bagaimana tidak, sejak 2014 KFC tercatat menjadi salah satu market leader yang mampu bertumbuh dengan baik. Bahkan, sebelum memasuki kuartal empat 2018, KFC telah mencapai target pertumbuhan mereka, yakni double digit.

Yang menarik, ketika sebagian besar pemain pebisnis restoran sibuk menggarap wilayah-wilayah urban, KFC justru menyisir wilayah Indonesia Timur. Kelas yang mereka sasar pun didominasi dari kelas C, yang justru menjadi penyumbang terbesar pundi-pundi keuangan KFC.

Menurut GM Marketing PT Fast Food Indonesia, Tbk. Hendra Yuniarto, wilayah Indonesia Timur menjadi area yang potensial untuk digarap. Pasalnya, wilayah ini tengah menjalani proses pembangunan infrastruktur yang kian baik. Hal ini juga berdampak pada perkembangan ekonomi masyarakat di sana.

Sederhana memang. CRP misalnya, berhasil mengemas Indomie menjadi makanan kekinian yang disajikan di sebuah bangunan berkonsep tempat berkumpul melalui brand Warunk Upnormal. Konsumen milenial tidak keberatan merogoh kocek sebesar Rp 20.000 untuk seporsi Indomie kekinian, selama bisa mendapatkan Wi-Fi dan berkumpul bersama rekan untuk waktu yang lama.

Selain itu, peluang dari era sharing economy –seperti kehadiran layanan pemesanan makanan melalui aplikasi transportasi seperti Go-Food dan Grab Food- membuka kesempatan bagi para UKM makanan. Menyediakan kemudahan dan kecepatan bagi para driver untuk memperoleh pesanan perlu diantisipasi para pemain. Warunk Upnormal misalnya, meluncurkan Upnormal Coffee Express yang berangkat dari konsep kepraktisan.

“Sesuatu hal yang praktis ini bisa diterapkan oleh restoran dengan cara menyediakan menu to go atau kemasan yang handy (mudah dibawa ke mana-mana). Dengan menyediakan jasa antar, atau bekerja sama dengan jasa pemesanan makanan online, maka konsumen tidak perlu keluar dari ruangan. Mereka cukup membuka aplikasi, dan makanan diantarkan,” ungkap Jelita.

Bagi KFC, pertumbuhan bisnis restoran di Indonesia sebenarnya terbantu oleh jumlah konsumen yang besar dan beragam. Para pemain pun perlu menyisir wilayah-wilayah di luar urban. Namun di satu sisi, konsumen yang beragam memiliki selera yang bervariasi dan mudah berubah. Untuk bisa sustain di pasar restoran Indonesia, mereka dituntut kreatif menciptakan produk, layanan, maupun penawaran-penawaran baru.

Menangkap tren menjadi salah satu hal yang bisa dilakukan. Namun, pemain harus tetap memiliki identitas dari produk yang mereka jual. Bukan sekadar ikut-ikutan. McDonald’s baru-baru ini mencoba menangkap tren makanan lokal yang kembali hype di tengah masyarakat. Sebut saja menu nasi uduk dengan sambal terasi, McFlurry durian cendol, burger balado, hingga burger rasa rendang.

“Saat ini, selera masyarakat terhadap cita rasa lokal, terutama makanan pedas semakin tinggi. Bisa dikatakan, orang Indonesia tidak bisa lepas dari sambal. Ini menjadi hal utama yang mereka cari ke mana pun. Kami pun berani mencoba mengeluarkan menu dengan mengadopsi cita rasa lokal dengan menu-menu andalan kami, dan ternyata demand-nya cukup tinggi,” ujar Associate Director of Marketing McDonald’s Indonesia Caroline Kurniadjaja. Serupa dengan MCDolad’s, KFC pada tahun lalu juga sempat menangkap peluang ini dengan meluncurkan produk cita rasa asia (Taste of Asia).

Selain tuntutan untuk selalu berinovasi pada tahun depan, para pemain yang banyak mengambil kebutuhan dasar produksi secara impor harus pula mewaspadai kondisi rupiah yang tak pasti. Bagi KFC dan MCDonald’s, melemahnya nilai rupiah memang cukup berdampak bagi bisnis mereka.

“Di MCDonald’s  sebagian besar dari produk yang kami jual menggunakan produk lokal. Namun tak dipungkiri bahan-bahan seperti daging dan keju masih kami impor. Keadaan rupiah yang melemah berpengaruh dan harus diwaspadai para pemain. Para pemain harus mampu memberikan harga dan value terbaik tanpa perlu menaikkan harga,” ujar Caroline.

Outlook bisnis restoran di Indonesia pun diprediksi terus positif selama kondisi dolar masih bersahabat. Namun paling tidak, para pemain harus menyusun langkah sejak dini untuk mempersiapkan kemungkinan buruk yang dapat terjadi jika kondisi rupiah terus melemah.

 

 

MARKETEERS X

Most Popular








To Top