Mshop-leaderboard-mobile
Technology

Mengapa Musik Sangat Berpengaruh Bagi Bisnis Vivo?

Mengapa Musik Sangat Berpengaruh Bagi Bisnis Vivo? Ambiance-Summer-Festival-di-Vivo-Perfect-Booth
Vivo Club Lounge di we The Fest 2017, JiExpo Kemayoran | Photo Credit: Dok. Vivo Mobile Indonesia

Pabrikan smartphone asal Negeri Tirai Bambu, Vivo, semakin giat meningkatkan brand awareness-nya di tanah air. Setelah mendaulat delapan artis Indonesia (salah satunya Agnez Mo) sebagai brand ambassador, Vivo mulai masuk ke ranah musik lewat kerja samanya dengan We The Fest, festival musik yang cukup bergengsi di kalangan generasi millennials.

Kehadiran Vivo dalam event tahunan yang dihelat oleh Ismaya Live tersebut memang menjadi sebuah gagasan yang berani. Pasalnya, dalam setiap media promosinya selama ini, Vivo lebih mengutamakan positioning-nya sebagai ‘selfie smartphone’ lewat kamera depan yang andal. Namun kini, Vivo seakan cukup yakin menyebut bahwa ponselnya juga mutahir dalam urusan musik.

“Kamera & musik menjadi tagline Vivo untuk merebut pasar millennials,” kata Edy Kusuma, Brand Manager PT Vivo Mobile Indonesia saat konferensi pers di Vivo Club Lounge We The Fest, JiExpo, Jumat, (11/8/2017).

Edy menuturkan, kolaborasi Vivo untuk pertama kalinya dengan event musik We The Fest merupakan cara mereknya agar dekat dengan target utama yang dibidik, yaitu millennials usia 17 hingga 25 tahun.

Event akbar yang dikunjungi oleh puluhan ribu orang tersebut diyakini Vivo dapat meningkatkan brand image-nya tidak hanya sebatas selfie smartphone, melainkan juga sebagai music phone.

Padahal, Vivo telah lama mensyiarkan diri sebagai ponsel yang music-friendly sejak hadir pertama kali di pasar lokal pada tahun 2014. Saat itu, Vivo mengklaim sebagai pihak yang membenamkan chipset Hi-Fi pertama di dunia ke dalam piranti smartphone. 

Chipset tersebut dibuat untuk dapat memainkan distorsi suara dengan rentang antara lebih dari 127dB hingga kurang dari -120dB. Dalam arti yang sederhana, chipset itu mampu menawarkan suara yang sangat mendetail. “Kami ingin konsumen juga tahu bahwa Vivo adalah smartphone yang baik untuk musik,” tegas Edy.

Ketersediaan fitur musik telah menjadi satu alasan kuat bagi calon konsumen, khususnya kaum muda, sebelum membeli smartphone. Pasca kejayaan iPod sirna, konsumen seolah ingin mendengarkan musik hanya dalam satu genggaman ponsel.

Terlebih lagi, infrastrukur internet yang semakin cepat ditambah dengan kian banyaknya aplikasi musik streaming seperti JOOX dan Spotify, mampu meningkatkan frekuensi aktivitas seseorang mendengarkan musik di layar ponsel.

Sebuah survei yang pernah dikemukakan oleh Entertainment Retail Association (ERA) dan the British Phonographic Industries (BPI) kepada seribu orang menunjukkan bahwa millennials -dikategorikan sebagai mereka yang lahir pada dasawarsa 90 hingga 2000an-, mendengarkan musik di smartphone 75% lebih banyak ketimbang generasi baby boomers (yang lahir pada tahun 1980an).

Lebih lanjut, survei tersebut juga menyatakan bahwa rata-rata millennials mendengarkan musik lebih dari 3 jam sehari dari perangkat smartphone mereka. Sementara itu, baby boomers hanya mendengarkan musik selama 1,77 jam sehari.

Sedangkan data yang dilansir Asosiasi Penyelengara Jasa Internet (APJI) tahun 2016, diketahui bahwa terdapat 35,5% dari total netizen di Indonesia yang mendengarkan musik lewat streaming online. Presentase itu setara dengan 45,9 juta jiwa netizen dari 132,7 juta total pengguna internet di Indonesia.

Semua data itu seolah mengindikasikan bahwa musik dapat menjadi value proposition yang tepat bagi brand yang ingin menyasar kalangan millennials, tak terkecuali untuk merek smartphone. Apalagi, saat ini, slogan selfie smartphone tidak hanya dikoarkan oleh Vivo semata. Sang kakak kandung Oppo dan penguasa pasar domestik Samsung juga menunjukkan identitas yang sama sebagai selfie smartphone.

Akan tetapi, Vivo patut berbangga diri karena imejnya sebagai selfie smartphone telah berhasil melambungkan namanya di landskap industri smartphone dalam negeri. Merek yang saat ini memiliki kamera depan berkekuatan 20 megapiksel itu berhasil berada di peringkat empat besar ponsel yang paling laris di Indonesia. Torehan itu diraih Vivo dalam waktu kurang dari tiga tahun.

“Tiga tahun pertama di Indonesia, kami sudah masuk empat besar smartphone. Lewat serangkaian awareness yang kami lakukan, targetnya tahun ini, kami bisa masuk tiga besar,” kata Edy yakin.

(Baca Juga: Kekuatan Influencer Marketing di balik layar Vivo)

Karena itu, Vivo mencoba mendongkrak penjualan dengan cara mengasosiasikan mereknya dengan musik. Walau enggan membocorkan berapa investasi sponsorship yang dikucurkan Vivo untuk ajang yang menampilkan performa Phoenix itu, Edy mengaku pihaknya bakal gencar menjadikan musik sebagai aktivasi mereknya, entah itu dalam bentuk konser maupun kolaborasi dengan platform musik digital.

“Kami sedang berusaha membicarakan kerja sama Vivo dengan platform musik tersebut,” ujar dia singkat.

Di perhelatan We The Fest yang berlangsung selama tiga hari tersebut, Vivo menghadirkan Vivo Perfect Spot untuk menyambut penonton dan para Vivo Fans (sebutan konsumen setianya_red) menikmati musik dan mengikuti bermacam permainan yang disediakan, seperti selfie games dan wheel of fortune. 

Pengunjung juga menikmati pertunjukan musisi yang dibawa oleh Vivo, antara lain Stars & Rabbit, Agrikulture, Rumah Sakit, The Adams, Danilla dan Elephant Kind.

Most Popular








To Top