Opinion

Mengenal Citizen 4.0, Hidup Harus Bisa Berarti Untuk Orang Lain

Pernah terdengar sebuah ungkapan, “Anak bagaikan pohon rambat. Jika dibiarkan tumbuh sekehendak hatinya, maka tumbuhlah ke segala arah, tanpa tujuan, tak sedap dipandang dan akan mengganggu manusia di sekitarnya. Tapi, jika diarahkan bahkan dibentuk, maka akan tumbuh sesuai dengan apa yang diarahkan, maka keindahan yang terpancar dari tanaman itu akan berguna dan memukau orang di sekitarnya.”

Ungkapan tersebut sempat viral beberapa tahun silam dalam artikel blog dan media sosial. Meski demikian, ungkapan ini nyatanya memang sangat relevan dengan proses pembentukan pribadi seseorang. Dalam pengembangan diri, kita tidak sekadar tumbuh secara biologis, tetapi juga harus memiliki keahlian yang mumpuni.

Hal ini dilakukan agar seseorang bisa berbaur atau lebih jauh lagi bisa membawa dampak positif untuk orang lain. Tapi, semua ini tidak bisa mereka lakukan sendiri. Karena pembentukan diri memang dimulai sejak masa kecil. Jadi, mau tidak mau didikan pada masa-masa awal kehidupan memang membawa dampak yang besar. Banyak pengamat yang menyatakan, segala sesuatu yang terjadi di masa kecil bisa berbekas sangat dalam dan berpengaruh pada semua fase kehidupan setelahnya.

Sama seperti pohon rambat, seluruh perkembangan diri kita sebenarnya sangat dipengaruhi lingkungan. Setiap harinya, kita secara konstan terpapar pengaruh negatif dan positif. Semua hal yang dialami memiliki andil untuk membentuk diri kita, tapi semua tergantung diri kita untuk menyikapinya.

Ada orang yang secara konstan berupaya memperbaiki diri dengan membuang kebiasaan-kebiasaan buruk dan menggantinya dengan aktivitas yang lebih bermanfaat. Ada juga yang membiarkan atau justu terus menambahkan berbagai kebiasaan yang membawa dampak buruk pada dirinya. Pada gilirannya, hasilnya dapat kita lihat sendiri. Ibarat tanaman, benih apa yang kita tanam, itulah yang kita tuai.

Orang-orang yang memenuhi dirinya dengan berbagai hal buruk tentu akan dipandang buruk orang lain. Sebaliknya, orang-orang yang ‘mengisi’ dirinya dengan hal-hal positif akan dipandang baik oleh orang lain. Malah bisa membawa dampak positif kepada orang-orang di sekitarnya.

Kita tentu pernah merasakan hal ini. Ketika dekat dengan orang beraura positif, kita pasti merasa terkena dampak positif. Bila dekat dengan orang dengan semangat tinggi, kita pun terdorong untuk mengeluarkan inisiatif lebih baik. Dan, ketika dekat orang yang tenang, kita pun merasa lebih damai.

Namun untuk mencapai tingkatan seperti itu, diperlukan upaya perbaikan yang berkelanjutan. Semua dimulai dari langkah kecil yang konstan dan diperbaiki secara terus menerus. Bisa dilakukan atas dasar upaya sendiri, tapi ada beberapa hal lain yang juga membutuhkan orang lain. Jadi, apa itu Citizen 4.0?

Mengapa Citizen 4.0?

Dalam buku Citizen 4.0 karya Hermawan Kartajaya yang belum lama ini dirilis oleh Penerbit Gramedia di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Sabtu (18/11/2017) menyebutkan, di era Marketing 4.0 yang semakin horizontal, inklusif, dan sosial, kita tak bisa lagi hanya belajar tentang menjadi orang yang paling hebat atau mungkin cara menguasai dunia. Tapi, kita juga harus belajar bagaimana kehadiran kita bisa memberikan kontribusi pada lingkungan sekitar. Itulah Citizen 4.0.

Berkat kehadiran internet, kehidupan semakin dinamis begitu juga dengan kehadiran media sosial. Setiap orang bisa lebih mudah mengekspresikan diri dan berkesempatan untuk terhubung dengan siapa pun di dunia ini. Setiap orang bisa membuat, memodifikasi, dan menyebarkan berbagai informasi kepada rekan-rekan di sekitar kita.

Perlahan-lahan, kita bisa melihat jelas pergeseran masyarakat dunia yang semakin tidak memperhitungkan bangsa, suku, agama dan berbagai latar belakang lainnya. Karena yang paling penting bukan dari mana dan seperti apa kita sebenarnya. Tapi, apa sumbangan kita kepada orang lain dan bagaimana seseorang bisa menjadi “citizen of the world.”

Dengan adanya konektivitas tinggi seperti saat ini, setiap orang menjadi manusia dengan spirit yang lebih terbuka untuk bisa bekerja sama, berinteraksi, saling menukar ide untuk mewujudkan satu aksi bersama. Jadi, semangat yang timbul pun berbeda dengan masa lalu yang cenderung vertikal, eksklusif, dan individualistis.

Secara naluriah, sebenarnya spirit citizenship ini dengan sendirinya mulai muncul ketika kita mulai meninggalkan masa remaja dan mulai menjadi dewasa. Pada masa-masa tersebut, kita mulai benar-benar mandiri dan mengenal peran aktifnya dalam mengembangkan komunitas sekitar.

Jadi untuk menjadi seorang Citizen 4.0 memang diperlukan proses yang panjang. Tidak ada cara instan untuk mencapai tahapan tertinggi. Semua harus dilalui satu per satu dan melalui proses penyempurnaan diri secara terus menerus. Dimulai dari saat kita lahir sampai dengan saat akhir nanti.

So, apa saja yang perlu diperhatikan untuk menjadi Citizen 4.0? Simak kelanjutan tulisan ini.

Dapatkan ulasan mendetail dalam buku Citizen 4.0 yang diluncurkan pada Hari Ulang Tahun Marketing Guru Hermawan Kartajaya di Ubud, Bali pada 18 November 2017

MARKETEERS X

Most Popular








To Top