Government & Public Services

Menteri Ristekdikti: Riset Perlu Dikomersialisasi

Menteri Ristekdikti: Riset Perlu Dikomersialisasi riset

Riset selama ini dianggap menghabiskan banyak uang, sebab tak banyak membuahkan hasil. Karena itu, Kementerian Riset Teknologi & Pendidikan Tinggi (Kemenristek dikti) bertekad mengkomersialisasikan temuan riset sebagai produk inovasi.

Untuk mencapai misi itu, Menristekdikti Muhammad Nasir mengatakan, yang perlu dilakukan pertama kali adalah reorganisasi kementeriannya. Selain itu, pihaknya juga mempersiapkan hasil penelitian Indonesia agar dapat bersaing di dunia internasional.

Untuk itu, dirinya terus mendorong agar segala bentuk pencapaian iptek bisa bermanfaat langsung bagi masyarakat dengan berupaya memperkuat inovasi dari sisi kelembagaan melalui pengembangan Program Unggulan IPTEK (PUI).

“Inovasi bisa berhasil dengan baik apabila memiliki skill worker atau tenaga kerja berkualitas,” ungkap Nasir saat membuka WOW Brand 2017: Branding (in) Indonesia, Kamis, (9/3/2017).

Karena itu, Nasir melanjutkan, tenaga kerja yang baik berasal dari dukung dosen atau peneliti yang mumpuni. Kementeriannya akan mendorong dosen mengajak mahasiswa untuk melakukan riset.

Sebagai catatan, pada tahun 2016, Kemenrisetdikti berhasil menelurkan 291 publikasi dalam jurnal nasional terakreditasi, 149 publikasi dalam jurnal internasional, 33 lulusan S3 sesuai fokus riset unggulan, serta menerima 253 undangan menjadi pembicara dan pemakalah pada konfrensi internasional.

Semua pencapaian itu memang melebihi target. Akan tetapi, Nasir menilai, hasil riset yang sudah ada harus dikomersialisasikan agar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Selama ini, kementerian mengelompokkan riset ke dalam delapan bidang yang menjadi fokus utama, yakni pangan dan pertanian, energi, transportasi, pertahanan, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan dan obat, material maju, dan maritim.

Misalnya, dalam kesehatan dan obat, Kemenriset dikti memproklamirkan kelahiran industri garam farmasi di Indonesia. Selama ini, hampir 100% garam farmasi untuk Bahan Baku Obat (BBO) harus diimpor dari negara lain, seperti Jepang.

“Kimia Farma tengah mengembangkan industri garam farmasi yang diharapkan dapat memenuhi 30% kebutuhan industri,” pungkas Nasir.

Perlu diketahui, PT Kimia Farma (Persero) Tbk telah menyelesaikan pembangunan Pabrik Garam Farmasi Tahap I berkapasitas 2000 ton/tahun. Perseroan akan memperluas kapasitas produksi hingga 6000 ton/tahun dengan menambah satu pabrik baru.

 

Editor: Eko Adiwaluyo

Most Popular








To Top