Finance

Perbankan Tahun 2019 Harus Waspadai Likuiditas

Tahun 2019 akan menjadi tahun menantang bagi industri perbankan. Salah satu penyebabnya tidak lain adalah kenaikan suku bunga acuan BI 7-Day RR yang telah mencapai 5,75% per Oktober 2018 yang lalu. Padahal, Bank Sentral Amerika Serikat (AS) diprediksi masih menaikkan suku bunganya minimal tiga kali lagi, alias 75 basis poin terhitung akhir Oktober sampai akhir tahun 2019. Dengan hitungan sederhana, maka suku bunga acuan BI 7-Day RR bisa naik minimal menjadi 6,5% hingga akhir tahun depan nanti.

Riset Fitch Ratings menyebutkan dampak suku bunga yang tinggi akan memberikan tekanan pada kualitas aset dan ongkos pinjaman. Ini akan berdampak pada hasrat perbankan untuk memberikan kredit. Padahal, sejak booming komoditas meletus pada tahun 2013, bank di Indonesia sudah memperketat standar penjaminan dan pengendalian risiko. Artinya, bank bisa saja bakal semakin pelit dalam mengucurkan kredit.

Anton Hermanto Gunawan, Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengatakan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) masih sangat baik pada 2019. Meski tidak naik drastis, pertumbuhan kredit diprediksi masih bisa tumbuh. “Hanya saja, secara funding masih akan tersendat,” ujar Anton.

Hal itu yang menurut Anton harus diwaspadai oleh seluruh pemain perbankan di Indonesia, khususnya perbankan kecil.

Dari sisi non-performing loan (NPL), Anton memprediksi kondisinya akan lebih stabil, bahkan cenderung membaik. Rasio NPL bank secara industri turun dari 2,96% pada Juni 2017 menjadi 2,67% pada Juni 2018. Hal ini disebabkan pelaku perbankan melakukan restrukturisasi dan write off cukup besar kepada para debitur.

NPL rata-rata bank besar sejalan dengan rata-rata industri, yaitu 2,6%. Fitch Ratings memandang, tren peningkatan NPL bisa saja terjadi karena terpengaruh suku bunga yang lebih tinggi. Meskipun, risiko lebih terjadi pada bank-bank kecil.

Dari sisi nilai tukar mata uang, selama tahun 2018 ini rupiah merupakan salah satu mata uang yang mengalami pelemahan. Anton menilai, rupiah akan menemukan posisi normalnya. Terlebih, tekanan pada tahun 2018 sudah amat tinggi, sehingga akan melandai pada tahun 2019.

Menurut Fitch Ratings, ancaman nilai tukar ini masih bisa dikelola perbankan. Pasalnya, para pebisnis sudah melakukan hedging terhadap investasi dan utang. Tak hanya itu, kontribusi sektor perbankan terhadap pinjaman mata uang asing berada pada angka 15% hingga akhir semester pertama 2018. Angka ini menurun, setelah sempat menyentuh 17%  pada 2014 dan di atas 30% pada era 1990an.

Meskipun kondisi cenderung membaik, namun masalah perebutan dana harus diwaspadai. “Secara umum membaik, tetapi memang harus hati-hati bagi bank kecil. Karena masalah perebutan dana ini. Di situasi yang tidak menentu, banyak nasabah memindahkan uangnya di bank yang menurut mereka relatif aman,” imbuh Anton.

Tahun depan juga menjadi tantangan bagi para bank BUMN. Pasalnya, proyek infrastruktur masih akan terus berjalan. Proyek infrastruktur yang dikerjakan oleh BUMN karya harus diwaspadai. Pasalnya, dalam proyek-proyek infrastruktur, masalah dan manajemen cash flow memiliki peranan yang vital. “Kalau bisa, perusahaan sekuritas milik perbankan BUMN tersebut juga membantu cash flow-nya. Karena kalau cash flow-nya bermasalah, imbasnya akan ke bank-bank BUMN juga,” katanya.

Melihat kondisi yang ada saat ini, Bank BCA tetap menatap tahun 2019 dengan rasa optimistis yang tinggi. Santoso, Direktur PT Bank Central Asia Tbk melihat, permintaan kredit investasi masih bisa tumbuh pada tahun 2019.

Penyebab dari meningkatnya kredit investasi antara lain banyaknya utang korporasi yang akan jatuh tempo, keperluan belanja modal, hingga optimisme dengan pasar domestik. Tentunya hal ini dapat memperluas kemungkinan pertumbuhan bisnis BCA pada tahun mendatang.

“Sebenarnya pebisnis masih optimistis dengan pasar domestik, meski tergantung sektornya. Tapi banyak pula yang wait and see sembari menunggu kondisi dunia. Kondisi memang agak fragile,” kata Santoso.

Makna dari fragile itu tidak terlepas dari potensi kenaikan suku bunga acuan. Jika benar suku bunga akan terus naik, maka jangan heran jika likuiditas di pasar akan berkurang. “Kami akan melakukan reprofiling, khususnya pada bisnis yang naik terus menerus karena akan berbahaya,” kata Santoso.

Selain kredit investasi, bisnis kartu kredit pun diprediksi BCA masih akan baik. Namun, lain halnya dengan kredit konsumer. Pasalnya, nasabah ritel sangat sensitif terhadap kenaikan suku bunga. Lantas apakah hal itu akan berdampak pada kenaikan rasio kredit macet atau NPL?

“Kemungkinan akan ada dampaknya. Jika bunga semakin tinggi dan kurs melemah, akan hit ke NPL. Ini masalah disiplin portofolio. Jangan, semua pasar diambil. Kami harus melihat mana yang berisiko tinggi, menengah dan rendah,” kata Santoso.

Tahun ini, pertumbuhan jumlah kartu kredit terbilang stagnan. Menurut data Bank Indonesia, jumlah kartu kredit yang beredar hingga September 2018, berada di angka 17,22 juta. Padahal hingga akhir 2017, jumlahnya berada di angka 17,24 juta.  Hal itu tidak terlepas dari Peraturan Bank Indonesia (PBI) yang mengatur tentang kepemilikan dan limit kartu kredit beberapa tahun lalu.

“Peraturan tersebut mengharuskan calon nasabah melampirkan bukti pendapatan dan jumlah kartu juga dibatasi. Menurut saya, inilah yang membuat bisnis kartu kredit masih stagnan tahun ini,” kata Dessy Masri, Cards & Payment Head UOB Indonesia. Namun, UOB Indonesia mengklaim bisa mencatatkan pertumbuhan 15% untuk jumlah kartu kredit mereka.

Sementara, Bank Mandiri melihat Iklim kredit pada tahun 2018 terlihat cukup baik. Donsuwan Simatupang, Direktur Retail Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk mengatakan, kredit Bank Mandiri bisa tumbuh 30% hingga Agustus 2018, yang didominasi bisnis konsumer. Sedangkan pemegang kartu kredit Mandiri tumbuh 10% dibandingkan periode yang sama setahun lalu.  “Kami akan maintain angka tersebut hingga akhir tahun,” ungkap Donsuwan.

Donsuwan meyakini, transaksi kartu kredit banyak digunakan konsumen untuk keperluan kuliner, pendidikan, dan perjalanan pada 2019 nanti. Selain itu, sektor pinjaman otomotif diprediksi tumbuh dengan baik. “Seperti yang kita tahu, pemerintah telah membangun sekian ribu jalan tol. Hal ini membuat masyarakat semakin nyaman dalam berkendara sehingga kredit otomotif akan meningkat,” terang Donsuwan.

Sedikit berbeda dengan BCA, Bank Mandiri yakin bahwa kenaikan suku bunga tidak akan berpengaruh pada kredit konsumer. Sebaliknya, kecepatan layanan seperti instant approval justru menjadi pertimbangan bagi nasabah.

Berbicara perihal performa NPL, Mandiri mengatakan masih cukup aman. Tahun ini, performa NPL Mandiri ada di bawah 2%. Dan, hal itu masih akan dijaga hingga tahun depan. “Rumusnya, jangan melawan pasar. Just follow the market. Kita ikuti saja aturan dan kondisi di pasar,” tambah Donsuwan.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top