Opinion

Bagaimana Rasanya Menjadi Female Product Engineer di Go-Jek

Selama ini, pekerjaan di bidang teknologi seperti programmer, web developer, big data analyst, dan beberapa fungsi lainnya masih didominasi oleh kaum pria. Padahal kalau dipikir, kaum perempuan juga memiliki kapabilitas dan kualitas skill yang sama.

Anbita Nadine Siregar berusaha mendobrak bahwa perempuan juga bisa bekerja di sektor teknologi. Nadine merupakan salah satu engineer wanita pertama yang dipekerjakan oleh Go-Jek. Saat ini, perempuan kelahiran Jakarta, 24 tahun lalu ini memegang posisi sebagai Product Engineer Go-Jek.

Masa kecil dan remaja Nadine banyak dihabiskan di Singapura. Ketika memasuki bangku kuliah, Nadine meninggalkan Singapura dan menempuh pendidikan di Boston University di Amerika Serikat.

Selama empat tahun di Boston University, Nadine mengambil dua jurusan, computer science dan Bahasa Prancis. Kecintaan Nadine akan dunia teknologi berawal dari sebuah mata pelajaran yang harus diambil sebagai syarat kelulusan.

“Dari situ saya langsung suka dengan computer science. Saya suka membangun sesuatu, memulainya dari nol dan menjadi sebuah produk,” imbuhnya.

Setelah lulus dari kampus, Nadine langsung pulang ke Indonesia. Kala itu, sang Ibunda memberikan dua pilihan. “Saya dikasih waktu tiga bulan untuk mencari pekerjaan atau mencari suami. Tentunya saya memilih mencari pekerjaan,” katanya.

Setelah mendapat tawaran dari beberapa perusahaan teknologi, Nadine memilih untuk menerima pinangan dari Go-Jek. Sebagai iOS developer, wajib baginya untuk menguasai bahasa pemrograman Swift. Tiga bulan pertama ia mempelajari Swift dengan penuh dukungan dari para senior dan mentornya.

Sempat ditugaskan untuk produk Go-Food, Go-Med, dan kini ia memegang penuh untuk platform Go-Jek secara keseluruhan. Nadine pun menceritakan perjalanan kariernya sebagai product engineer di Go-Jek kepada Ramadhan Triwijanarko dari Marketeers.

Best:

Go-Jek adalah kantor pertama saya dalam berkarier. Di Go-Jek, saya memiliki banyak kesempatan untuk belajar dan bertemu dengan orang-orang baru dari beragam latar belakang. Ada beberapa pengalaman terbaik saya bersama Go-Jek.

Salah satunya adalah ketika saya dan bersama rekan-rekan lain, yang mayoritas perempuan dan bekerja di bidang teknologi berkomitmen membentuk Generation Girl. Ini adalah sebuah organisasi non-profit yang bertujuan memberdayakan generasi muda perempuan untuk berkiprah di dunia teknologi.

Saya melihat, sebenarnya di Indonesia, peran perempuan terkadang masih dipandang sebelah mata dalam beberapa industri tertentu. Terkadang bila ada perempuan yang berhasil meraih prestasi tertentu di kantor, masih dikaitkan ‘ya karena dia perempuan, makanya dapat prestasi tersebut.” Hal seperti ini yang ingin saya dan teman-teman ubah. Setiap perempuan memiliki pilihannya masing-masing, baik itu menjadi ibu rumah tangga, atau menjadi wanita karier. Ketika mereka memilih untuk berkarier, maka kami membantu bekal pengetahuan seputar dunia pemrograman.

Menariknya dari proyek Generation Girl ini, meskipun masing-masing dari kami memiliki pekerjaan utama, tapi kami bisa menyisihkan waktu untuk proyek kami bersama. Kami tidak dibayar, tapi kami mengerjakannya dengan sepenuh hati. Bertemu dengan orang-orang baru dari industri yang lain, kemudian membangun sebuah tim, dan bisa menciptakan sesuatu. Intinya kami ingin membantu generasi muda perempuan di Indonesia.

Selain itu, pengalaman terbaik selama bekerja di Go-Jek adalah ketika saya ditugaskan untuk pindah ke cabang Singapura. Rasanya seperti pulang kampung. Saya sejak SD hingga lulus SMA tinggal di Singapura.

Tapi bukan itu saja yang menjadi alasannya. Ketika ditugaskan, saya merupakan salah satu product engineer pertama yang dikirim Go-Jek dari Indonesia ke Singapura. Saya berpikir bahwa perusahaan memiliki rasa percaya yang tinggi kepada saya, ada tanggung jawab besar yang harus saya kerjakan, dan saya buktikan. Saya merasa apa yang saya dapatkan itu keren. Dengan tanggung jawab ini, terasa bahwa peran saya ini penting buat perusahaan.

Worst:

Saya ingat betul pada suatu waktu, saya ditugaskan untuk membuat sebuah fitur baru. Saya hanya punya waktu sekitar lima hari untuk bisa melakukan riset dan membangun program tersebut hingga akhirnya bisa digunakan dalam bentuk final.

Hal ini tentunya menjadi tantangan sekaligus pembuktian bahwa saya ini bisa seperti rekan-rekan programmer yang lain. Pokoknya, saat itu saya mau memberikan yang terbaik dari tugas ini.

Saya pun tanpa ragu menerima tugas tersebut. Karena saya menyatakan sanggup dan bisa, konsekuensinya saya harus bisa fokus untuk menggarap fitur yang kantor minta. Kurang seminggu, waktu saya habiskan semuanya untuk fitur terbaru ini. Pokoknya, yang ada di pikiran saya adalah bagaimana fitur ini harus jadi dan bisa digunakan.

Saking fokus dan seriusnya menggarap ini semua, saya sampai sedikit jauh dari lingkungan sekitar. Saya sampai kurang berkomunikasi dengan teman-teman, bahkan keluarga. Tidur pun saat itu sangat kurang. Kala itu, saya hanya ingin fokus membangun fitur tersebut. Sebab, pada hari Jumat, fitur tersebut sudah harus jadi.

Setelah segala upaya dan pengorbanan yang saya berikan, akhirnya fitur tersebut selesai sesuai dengan waktu ditentukan. Tentunya, saya berharap bahwa fitur itu untuk digunakan. Tapi, Jumat malam, saya diinformasikan bahwa fitur yang sudah saya kerjakan selama satu minggu penuh ini tidak jadi dipakai.

Saya sebenarnya cukup frustasi ketika tahu fiturnya tidak jadi dipakai. Tapi, saya tetap berusaha positif dan mencari hikmahnya. Toh, hal seperti ini sering terjadi dalam dunia kerja. Saya juga jadi belajar banyak hal selama satu minggu tersebut, terutama dalam menyelesaikan masalah dan solusinya. Sepulangnya dari kantor, saya langsung membayar utang tidur saya selama satu minggu.

 

MARKETEERS X

Most Popular








To Top