Mshop-leaderboard-mobile
Finance

Sambut 2018, Perbankan Tanah Air Mulai Memetik Hasil

Sambut 2018, Perbankan Tanah Air Mulai Memetik Hasil Bank

Sektor perbankan menjadi salah satu tolok ukur laju perekonomian. Ketika perekonomian Tanah Air stabil, sektor perbankan melalui kucuran kreditnya diharapkan bisa menjadi tenaga pendorong agar roda ekonomi bergerak lebih cepat. Sayangnya, kondisi itu urung terjadi pada tahun ini.

Buktinya, ketika perekonomian Indonesia tumbuh 5%an, pertumbuhan rata-rata kredit perbankan hanya di angka 9%-10% pada tahun ini. “Kondisinya bank punya banyak uang tapi tidak bisa disalurkan,” kata Ekonom Senior Universitas Indonesia Faisal Basri.

Di tengah prediksi bahwa perekonomian tahun 2018 jauh lebih baik ketimbang 2017, sektor kredit perbankan pun diharapkan bisa tumbuh lebih cepat. Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melihat, ada beberapa hal positif yang menjadi pendukungnya. Sebut saja perekonomian China yang mulai pulih dan akan berujung pada permintaan barang dari Indonesia, kondisi dalam negeri yang semakin kokoh, hingga likuiditas perbankan yang semakin baik. “Perkiraannya, kredit bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun ini, sekitar 12%-13%,” kata Wimboh.

Handayani, Direktur PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk menambahkan, kondisi makro yang dinilai baik akan mengantarkan industri perbankan ke arah yang positif. Diharapkan, kondisi ini akan berlanjut hingga tahun depan. “Pemerintah pun menunjukkan gesture yang positif. Menurut data internasional pun, makro ekonomi kita kondisinya baik. Didorong dengan Gini Ratio dan GDP yang meningkat, harusnya pola transaksi akan meningkat,” ujar Handayani.

Kondisi itu pun didukung dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang terus turun. Hingga November 2017, suku bunga acuan di Indonesia bertengger di angka 4,25%. “Perubahan suku bunga dibutuhkan oleh dunia usaha. Tahun depan lebih optimistis,” kata Budi Satria, Managing Director Distribution & Network PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Pada tahun 2018, rasio kredit macet atau non-performing loan (NPL) diperkirakan juga akan membaik. Pada tahun 2017, NPL perbankan bertengger di angka 3%an. Hal itu pun diprediksi akan turun hingga 2% mengingat banyak pemain perbankan yang melakukan restrukturisasi utang pada tahun 2017. Sehingga, pemain perbankan pun diprediksi bakal memetik hasil dari ‘aksi bersih-bersih’ itu pada tahun depan.

Meskipun berbagai sentimen positif tengah menyambut Indonesia pada tahun 2018, ada beberapa hal yang menjadi perhatian. Salah satunya kemungkinan Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserved) yang akan segera menaikkan suku bunganya dalam waktu dekat. Dus, potensi dan ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga lagi menjadi semakin terbatas.

Beda Kredit Konsumsi dan Komersial

Jahja Setiaatmajda, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk mengatakan, suku bunga yang rendah saat ini akan berdampak pada sektor konsumer, seperti Kredit Kendaraan Bermotor (KKB), Kredit Pemilikan Rumah (KPR), serta kartu kredit. “Ketika ada penurunan, maka langsung kelihatan peningkatannya. Ketika mereka butuh rumah, mobil, maka nasabah akan langsung memanfaatkan ketika bunga turun,” kata Jahja.

Namun, kondisi itu tidak terjadi pada sektor modal kerja dan investasi. Pasalnya, pebisnis tidak serta merta menjadikan penurunan suku bunga sebagai acuan untuk menambah kredit. Sebaliknya, acuan mereka adalah ketika adanya permintaan jasa dan barang yang meningkat pesat. Ketika penjualan mereka flat atau turun, maka pebisnis tidak memiliki alasan untuk menambah kredit, kecuali untuk mengurangi cost dari kredit sebelumnya. “Jadi harus dilihat dari kacamata kewajaran. Jika bisnis slow down, meskipun bunganya 4%-5%, buat apa orang nambah kredit jika tidak bisa dimanfaatkan?” kata Jahja.

Jahja pun menyambut berbagai inisiatif yang dilakukan pemerintah tentang pembangunan infrastruktur di berbagai belahan Indonesia. Namun, tentunya dibutuhkan waktu tertentu untuk melihat dampaknya secara nyata pada daerah setempat. “Ketika kita bisa merasakan hasilnya, barulah perekonomian bisa meningkat. Kredit meningkat harus ada alasan dan fundamentalnya. Tiga atau empat tahun lagi, mungkin kredit bisa bergerak ke angka 13%-14%,” kata Jahja.

Artikel selengkapnya bisa Anda dapatkan
di Majalah Marketeers, edisi Des 2017-Jan 2018,
Marketeer of The year 2017

Most Popular








To Top