Consumer Goods

Siapa Pemain e-Commerce Yang Bertahan dan Gugur Tahun 2019?

Di luar faktor eksternal seperti situasi ekonomi dan politik, pelaku e-commerce harus siap bersaing di dalam pasarnya sendiri. Setiap pemain harus bersaing habis-habisan dengan kompetitornya untuk bisa merebut hati konsumen. Tahun 2019 ini menandakan babak baru bagi industri e-commerce. Siapa yang bertahan dan siapa yang akan pulang, sudah mulai bisa terlihat. Dus, kompetisinya akan semakin ketat.

“Kompetisi akan jauh lebih penting ketimbang perubahan yang ada di luar,” tegas Christin Djuarto, Director Shopee Indonesia.

Tiga tahun lalu, kondisinya masih lebih mudah dari pada saat ini atau tahun-tahun ke depan. Semisal fokus permasalahan yang tadinya ada pada awareness, logistik, dan pembayaran; perlahan mulai bergeser ke arah inovasi dari masing-masing pemain.

“Banyaknya kompetitor memengaruhi karena para pemain harus berebut pasar. Terlepas dari itu, opportunity juga terlihat besar karena kita shifting ke pasar yang lebih muda. Di sini, tantangan para pemain e-commerce adalah bagaimana cara menjual produk kepada mereka yang lebih muda, termasuk bagaimana membuat produk yang mereka sukai,” ujar Senior Marcom & PR Manager Blibli.com Lani Rahayu.

Selain inovasi, pemain juga harus mengeluarkan segala cara agar pengguna mereka tetap loyal. Tentunya hal ini akan lebih dari sekadar menghadirkan diskon dan promosi semata. Ada hal-hal lain yang harus dilakukan pemain agar konsumen setia.

Shopee misalnya berusaha menghadirkan sistem gamifikasi agar konsumen betah. Bentuk gamifikasinya juga beragam. Selain itu, saat ini banyak pelaku yang juga berkolaborasi dengan spesifik brand dalam rangka menghadirkan promo khusus dalam satu hari.

“Kalau pemain lain menghadirkan promo atau kampanye yang serupa sih wajar. Karena mereka juga melihat data dan pola yang menarik di saat yang sama. Karena semua orang ingin menghadirkan sesuatu yang menarik. Jadi besar kemungkinan idenya bisa sama,” jelas Christin.

Konsep baru dihadirkan oleh JD.ID dengan memperkenalkan konsep omni untuk bisa berbelanja online di gerai ritel fisik milik mereka. Sedangkan Bukalapak memiliki ide lain, yakni memberdayakan para pelaku warung kelontong dalam program Mitra Bukalapak. Fajrin Rasyid, President Bukalapak, menyadari bahwa pelaku warung kelontong di Indonesia amat banyak. Nantinya, para mitra warung ini akan menyediakan layanan bagi para pelanggannya untuk berbelanja secara online di Bukalapak. Singkatnya, warung tersebut menjadi bagian saluran penjualan Bukalapak.

“Orang yang belum pernah belanja online, atau orang yang tidak tahu caranya belanja online, bisa pergi ke warung mitra kami dan minta kepada pemilik warung untuk dipesankan barang. Kemudian, mereka bisa membayar kepada pemilik warung secara tunai,” kata Fajrin.

Sebagai Ketua Indonesia E-commerce Association (idEA) Ignatius Untung melihat bahwa kompetisi nantinya akan mempertemukan sesama pemain besar. Namun, ia melihat ada satu pola yang besar kemungkinan akan memengaruhi para pelaku vertical commerce.

Ia mencontohkan, saat ini pelaku e-commerce besar juga menyediakan layanan penjualan listrik, pulsa, asuransi, hingga hotel dan tiket pesawat. Bila kondisi ini terus berlaku pada tahun depan, maka besar kemungkinan akan ada pelaku vertical commerce yang dicaplok oleh pemain besar ini. Karenanya, pelaku vertical commerce harus bisa memiliki keunikan yang tidak dimiliki pemain lain.

Traveloka dan Tiket.com misalnya. Meskipun tiket pesawat dan hotel tersaji di pemain-pemain e-commerce besar, pangsa pasar mereka tetap ada. Karena kedua brand ini sudah memiliki persepsi kuat di masyarakat. Meskipun layanannya dapat ditemukan di tempat lain, konsumen akan tetap bertransaksi di kedua platform tersebut.

Ia juga menekankan masalah promosi dan diskon yang kerap dilakukan oleh para pemain e-commerce. Saat ini, pemain harus bisa berhenti melakukan subsidi produk. Terlebih, bila subsidi yang dilakukan adalah beli rugi. “Ini nggak bagus buat market, terutama buat pemain. Karena kalau dilakukan, hal ini akan jadi ajang kuat-kuatan uang,” katanya.

Dari sisi konsumen akan senang, karena barang murah. Tapi, akan menghadirkan pasar yang hanya mencari barang murah, bukan barang berkualitas. Praktis, produsen pada akhirnya akan lebih suka memproduksi barang murah ketimbang barang berkualitas. Alasannya karena laku.

Saat ini banyak produk di e-commerce dengan harga murah karena masih ada persaingan. Ketika sudah tidak ada persaingan, maka harga akan berubah, dan konsumen tidak punya pilihan. Sebab, pemain lain sudah dihabisi oleh konsumen sendiri dengan tidak membeli produknya ketika tidak memberikan diskon.

Satu hal menarik lainnya dari kompetisi ini adalah hadirnya pemain baru. Bisa dibilang, pasar yang semakin matang ini, perlahan menutup pintu bagi hadirnya pemain baru dalam sektor horizontal e-commerce. Namun, masih ada satu raksasa besar yang harus diwaspadai. Yakni, Amazon.

Komitmen investasi Amazon sebesar Rp 14 triliun dalam sepuluh tahun untuk bisnis cloud-nya di Indonesia membuka spekulasi baru.  Bisa jadi, kehadiran Amazon di Indonesia semakin dekat. Besar kemungkinan, saat ini Amazon sedang melakukan tes ke pasar.

Baik Fajrin dan Christin mengaku siap bila sewaktu-waktu Amazon hadir ke Indonesia. Potensi market yang masih sangat luas, besar kemungkinan akan menggiring Amazon untuk mencoba peruntungan di Indonesia.

Bagi Untung, kehadiran Amazon masuk bukanlah persoalan. Namun ia menggarisbawahi, selama pemerintah memperlakukan Amazon setara dengan pemain-pemain lainnya, hal tersebut tidak akan menjadi ancaman besar.

“Mungkin mereka menunggu siapa presiden terpilih tahun depan. Tapi, kalau jadi mereka, saya menunggu sampai jumlah pemain berkurang. Dengan kapasitasnya, mereka tidak perlu takut untuk masuk belakangan,” pungkas Untung.

Editor: Sigit Kurniawan

MARKETEERS X

Most Popular








To Top