Mshop-leaderboard-mobile
Government & Public Services

Strategi Marketing Kemenpar Antar Indonesia Jadi Unggulan ASEAN

Matahari Terbit di Tanjung Menangis Sumbawa
Matahari Terbit di Tanjung Menangis Sumbawa (Foto: Hafiz Marketeers)

Satu lagi pelajaran marketing yang baik yang dilakukan oleh instansi pemerintahan. Kali ini, hadir dari keberhasilan yang diraih oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Setidaknya ada tiga prestasi Kemenpar yang diraih berkat keberhasilan strategi pemasaran di bawah kepemimpinan Arief Yahya selaku Menteri Pariwisata. Dengan strategi marketing yang diterapkan oleh praktisi non-partai ini, mampu mengantarkan industri pariwisata Indonesia semakin dikenal di kancah global. Prestasi apa saja dan apa yang telah Arief Yahya lakukan?

Pertama, berdasarkan data World Economic Forum mengenai ranking country branding, Wonderful Indonesia sekarang berada di posisi ranking ke-47. Posisi ini mengalahkan country branding Thailand dengan Amazing Thailand yang berada di posisi 67 dan Malaysia Truly Asia milik Malaysia di posisi 85.

Kedua, berdasarkan laporan The Telegraph, Indonesia masuk di dalam top 20 Fastest Growing Travel Destination. Ini sangat membanggakan karena hanya ada dua negara dari ASEAN yang masuk pada kategori ini, yaitu Indoensia dan Vietnam. Kedua negara ini tumbuh dengan angka lebih dari 20%. Sedangkan Singapura, Malaysia, dan Thailand tumbuh kurang dari 5%.

“Sebenarnya, pertumbuhan tidak bisa diidentifikasi dengan kecepatan. Saya selalu katakan bahwa di dunia persaingan saat ini bukan lagi yang besar memakan yang kecil tetapi yang cepat memakan yang lambat. Kali ini, Indonesia cukup cepat untuk melampaui para pesaingnya,” ujar Arief Yahya dalam video yang diputar di tengah-tengah Musyawarah Nasional IMA (Indonesia Marketing Association).

Ketiga, seperti yang kita ketahui bahwa target utama Kemenpar adalah menjadi divisi terbaik dan penghasil devisa terbesar. Pada tahun 2015, ranking devisa dari pariwisata ada pada urutan keempat. Lalu pada tahun 2016, kontribusi pariwisata pun melompat ke urutan kedua. Jika diurutkan sektor yang memberikan devisa negara adalah dari sektor CPO, pariwisata, migas, dan baru bara.

Arief Yahya pun berharap pada tahun 2019, pariwisata akan menjadi penghasil devisa terbesar dan menjadi yang terbaik di regional juga level global.

“Saya harapkan jurus-jurus marketing yang telah kami lakukan akan lebih menginspirasi jajaran elemen dari industri pariwisata Indonesia dan rekan-rekan IMA di seluruh Indoensia,” lanjut Arief.

Lantas apa yang telah dilakukan Arief? Ada beberapa hal yang dilakukan oleh Kemenpar selama periode 2015 – 2017. Pertama, digital marketing. Arief melakukan fokus strateginya pada teknologi baru dan memahamni lifestyle yang telah berubah. Menurutnya, saat ini 70% orang telah menggunakan media digital untuk melakukan pencarian dan berbagi (search & share).

Berangkat dari sini, Arief mengatakan bawha pihaknya harus berubah. Selanjutnya, 50% anggaran Kemenpar pun dialokasikan untuk digital marketing. Dan ternyata, upaya ini efektif.

Kedua, kami melakukan strategi konvergensi media, yaitu menggabungkan antara media berbayar, media yang kami miliki sendiri, dan media sosial. Semua komunikasi pun dilakukan secara terintegrasi,” jelasnya.

Arief pun menilai cara ini cukup efektif. Contohnya, setiap konten yang muncul di media berbayar yang mereka tunjuk, selalu diperkuat dengan media sosial.

“Selain itu, ke depannya kami akan melakukan co-branding. Kami menyadari bahwa Wonderful Indonesia¬†sudah menjadi brand yang kuat untuk negara ini. Dan, kami akan melakukan co-branding dengan top 20 brand yang ada di Indonesia. Program co-branding ini akan kami luncurkan pada 10 Agustus 2017,” imbuh Marketeer of The Year 2013 ini.

Arief juga mengatakan bahwa jurus marketing yang mereka lakukan telah membuahkan hasil yang memuaskan.

 

Most Popular








To Top