Lifestyle & Entertainment

Sunindo Adipersada Optimistis Tambah Pangsa Pasar Boneka di AS

Boneka bukan hanya menjadii mainan bagi anak-anak. Ada juga orang dewasa yang tetap menyukai bahkan mengoleksi boneka. Tidak heran bila pasar boneka pun terus tumbuh dari tahun ke tahun. Tahun 2017, nilai pasar global boneka mencapai US$89 miliar. Diperkirakan, pada tahun 2022 nilainya bisa mencapai US$99 miliar.

Bagaimana dengan pasar Indonesia? Sejauh ini memang belum ada data pasti mengenai nilai pasar boneka di Tanah Air. Meski begitu, negara ini menjadi salah satu produsen utama boneka dunia.

Salah satu pemain kelas dunia dari Indonesia adalah PT Sunindo Adipersada (Sunindo) yang bernaung dalam grup Fors Fortis. Sunindo memiliki pasar di berbagai belahan dunia. Bahkan, perusahaan yang mulai beroperasi tahun 1991 telah menembus pasar-pasar di negara Barat.

“Kami adalah produsen boneka asli Indonesia yang memiliki merek Ozco yang sudah masuk ke berbagai pasar dunia. Selain itu, kami juga memproduksi mainan Original Equipment Manufacturer (OEM) untuk berbagai merek mainan sukses di dunia, seperti Nature Planet, Wildlife Artist, Trudi, Steiff, Wild Republic,” kata Iwan Tjen, CEO Fors Fortis, hari ini (10/09/2019).

Ia menambahkan, saat ini pasar OEM masih menjadi kontributor paling besar, hingga 90%. Sisanya, adalah merek-merek milik Sunindo, seperti OZco. Dilihat dari sebaran produknya, saat ini 30% produk buatan pabrik mainan ini ada Amerika Serikat & Kanada. Lalu, 40% di pasar Eropa, 10% Australia, 15% pasar dalam negeri, dan 5% Asia dan sekitarnya.

Peluang Perang Dagang

Seperti sudah sering diberitakan bahwa ekonomi dunia saat ini sedang terguncang akibat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) lawan China. Ditambah, mulai ada bibit-bibit perang antara Jepang versus Korea Selatan. Namun begitu, Iwan optimistis bahwa Indonesia bisa mengambil peluang besar dari perang dagang saat ini.

Amerika Serikat terus memperluas cakupan produk dari China yang pajaknya dinaikkan. Dalam waktu dekat, 15 Desember 2019, pajak produk mainan China yang masuk AS akan menjadi 15%. “Ini bisa menjadi peluang besar sekaligus tantangan tidak hanya bagi Sunindo, tapi semua pemain mainan di Indonesia,” tambahnya.

Sebagai gambaran, saat ini nilai total ekspor mainan anak Indonesia ke AS mencapai US$280 juta. Sedangkan nilai ekspor mainan China ke AS nilainya US$26,7 miliar. Sedangkan, kontribusi Sunindo pada total ekspor mainan Indonesia ke AS baru 3%.

“Artinya, pasar AS akan menjadi begitu luas kalau produk mainan China keluar dari AS. Para produsen AS pun sudah mulai mencari mitra baru,” katanya.

Untuk menyambut potensi berkah dari perang dagang ini, Sunindo akan melakukan berbagai langkah strategis. Di antaranya melakukan Initial Public Offering (IPO) di tahun depan. Lewat penggalangan dana publik ini, Sunindo akan membuka pabrik baru yang rencananya berlokasi di Jawa Tengah.

“Tidak hanya IPO dan buka pabrik, kami juga membuka kesempatan pada produsen mainan boneka Indonesia lainnya untuk bekerja sama. Mengingat, untuk mendapatkan lisensi itu tidak mudah dan biayanya besar. Dan, kami sudah memiliki lisensi di berbagai kawasan dunia,” pungkas Iwan.

 

MARKETEERS X

Most Popular








To Top