Mshop-leaderboard-mobile
Retail & Property

Tahun 2026, Porsi e-Commerce Indonesia Diprediksi Sentuh 20%

e-commerce

Sektor e-commerce yang sedang hot sekarang memang tampak tidak memiliki angka seberapa besar sebenarnya industri ini. Menurut asosiasi ritel Indonesia, porsi e-commerce Indonesia dibanding ritel offline hanya sekitar 1% saja.

Pemain lain seperti Tokopedia sampai Bukalapak pun mengakui hal yang sama. Mengapa belum ada gambaran lengkap dan tepat, karena memang asosiasi e-commerce Indonesia atau idEA sendiri belum melakukan riset seberapa besar nilai sebenarnya dunia jual beli online, sehingga yang ada hanya gambaran kasar.

Gambaran seberapa besar e-commerce di Indonesia juga diutarakan oleh aCommerce, perusahaan yang memiliki peran menjembatani perusahaan lain atau brand yang ingin go online. “Porsinya masih di bawah 5%,” ujar Patrick Vaz, CEO aCommerce Indonesia, di Jakarta pada Senin (27/11) 2017.

Jika dijabarkan, porsi e-commerce terhadap ritel offline adalah 4,7%, di mana 3% yang skema bisnisnya c to c atau consumer to consumer alias marketplace, sementara sisanya adalah business to consumer, gerai ritel online di mana platform e-commerce atau brand sendiri yang menjual dan mendistribusikan langsung kepada konsumen.

Menurut Patrick, seperti data yang ditunjukan dari Worldbank sampai IMF, pada 2016 total nilai total ritel di Indonesia diklaim mencapai US$ 151 miliar. Diperkirakan pada 2026 mendatang nilainya mencapai US$ 357 miliar.

“Pada saat itu porsi e-commerce mencapai 20%, dengan 9% adalah c to c dan 11% adalah b to c,” ungkap Patrick. Dari porsi tersebut, terlihat bahwa skema menjual dan mendistribusikan langsung kepada konsumen lebih besar daripada marketplace.

Dengan kata lain, Patrick yakin bahwa nanti akan semakin banyak brand menjual langsung produk mereka kepada konsumen. Selain membangun website e-commerce sendiri, para brand akan memanfaatkan platform e-commerce yang sudah ada.

Hal itu sudah dimulai, mengingat platform-platform e-commerce seperti Shopee sampai Blibli, bahkan Lazada sekalipun memiliki laman resmi para brand yang mendistribusikan langsung produknya kepada konsumen.

Shopee baru saja membuka format berbentuk mall yang berisikan tenant para brand sehingga jaminan produknya terjamin asli dan resmi, walau secara harga lebih mahal dibanding penjual di platform marketplace-nya. Blibli pun sudah memiliki gerai resmi Nike sementara Lazada berkolaborasi dengan Xiaomi untuk menjual produk-produk asli dan resmi smartphone mereka.

Namun kendala utama di Indonesia dalam membangun atau mentransformasikan brand menjadi online adalah soal talent. Sangat jarang perusahaan yang memiliki talent dengan posisi e-commerce manager. Sehingga ketika mentransformasikan bisnis mereka dari offline ke online, sangatlah sulit karena tidak ada orang yang memang didedikasikan atau benar-benar mengerti bisnis online.

“e-Commerce manager itu memiliki tugas untuk mengerti proses produk perusahaan dari awal sampai akhir, lalu membangun konsep agar bagaimana produk tersebut bisa didistribusikan online. Itu sangat jarang dan kadang ada yang ingin kami handle 100% kebutuhan penjualan online mereka,” ungkap Patrick lagi.

aCommerce sendiri berasal dari Thailand di mana fokus mereka sekarang ada di pasar Asia Tenggara. Selain Indonesia dan tentu saja Thailand, aCommerce sudah ada di Malaysia, Singapura, Filipina, dan Vietnam menyusul pada 2018.

Selain membantu brand membangun jaringan e-commerce atau membuka lama online khusus di platform yang sudah ada, aCommerce juga memiliki fasilitas penyimpanan barang atau gudang. Paul Srivorakul selau Group CEO aCommerce menyatakan bahwa saat ini perusahaannya sedang ekspansi dan sedang dalam injeksi investasi.

“Investasinya seperlu kami saja, karena bisnis kami sangat customize untuk brand yang mau go online. Bahkan sekarang mungkin fokus kami bukan lagi investasi tapi sudah mulai mencari profit. Di Thailand kami sudah melakukannya,” tutup Paul.

Most Popular








To Top