Lifestyle & Entertainment

Tiga Ide Pemasaran Film Tahun 2017

Tiga Ide Pemasaran Film Tahun 2017 girlonthetrain-promo-540
Film The Girl on The Train beriklan pada Snap to Unlock untuk memasarkan filmnya | Photo Credit: Media Post

Pemasaran film menjadi bidang yang terus berkembang. Memiliki sebuah situs film tak lagi dianggap inovatif. Ya, industri film, telah berubah seiring waktu, mengikuti tren dan teknologi.

Ini terutama didorong oleh penonton generasi muda, yaitu para remaja dan dewasa yang dengan pendapatan disposable mereka, berusaha untuk menjadi orang yang berpengaruh di antara rekan-rekannya.

Karenanya, pemasar di industri perfilman ditantang untuk membuat inovasi besar dalam cara mereka memasarkan karya layar lebar mereka. Setidaknya, ada tiga pendekatan yang bisa dipilih.

1. Jangan Terpaku pada Website

Sepanjang dua tahun terakhir, studio film kerap membuat website pribadi untuk film mereka. Beberapa ada yang membuat microsite yang hanya berisi trailer dan link untuk membeli tiket online. Bahkan, ada juga yang membuat situsnya dalam blogger ataupun Tumblr demi menghemat biaya pengembangan.

Akan tetapi, perilaku konsumen saat ini mulai berubah. Mata mereka lebih banyak tercurah pada mobile phone dan media sosial, serta aplikasi chatting. Maka itu, mengapa harus mengucurkan biaya banyak ke website, di mana ada Facebook Page yang jika dikelola layaknya website, memakan biaya lebih murah?

Kelemahan dari tidak membuat website adalah tidak adanya kesempatan bagi orang untuk menemukan film itu di situs pencarian Google. Tapi tunggu dulu, bisa jadi ini menjadi alasan bagi orang-orang yang tertarik pada film Anda untuk menceritakannya melalui website atau blog-blog mereka.

2. Manfaatkan Snapchat

Para studio film mulai benar-benar bereksperimen dengan Snapchat tahun ini. Biasanya, ia muncul pada bagian depan layar (karena berbayar). Namun, ada cara lain yang bisa dilakukan.

Film The Girl on The Train adalah salah satu film yang pertama menggunakan fitur Snapchat terbaru, Snap to Unlock, yang memungkinkan orang untuk memindai barcode pada QR Code yang terletak di beberapa titik media luar ruang.

Film-film yang melakukan strategi serupa adalah 10 Cloverfield Lane dan Neighbors 2: Sorority Rising, serta duel Jennifer Lawrence dan Chris Pratt di film drama fiksi ilmiah Passenger.

Dalam menggunakan Snapchat, film tidak hanya beriklan melalui SnapAds. Lebih dari itu, film harus menyebar konten-konten original.

Pasalnya, di Snapchat terdapat fitur “Discover” yang memungkinkan pengguna mengakses informasi-informasi terbaru. Nah, studio film bisa memanfaatkan fitur tersebut untuk menyebar informasi film lewat audio dan video yang menarik.

Gunakan influencer

Sebuah studi dari eMarketer baru-baru ini menunjukkan bahwa pemasaran melalui influencer bakal tumbuh sepanjang tahun 2017. Karena itu, tidak ada alasan bagi studio film untuk tidak memanfaatkan tangan-tangan influencer untuk menyampaikan pesan pemasaran.

Tujuan dari pemasaran menggunakan influencer adalah selain pesan lebih berpotensi dilihat orang, juga menghindari pemblokiran iklan.

Selama ini, iklan film sebagian besar masih tayang pada situs-situs populer maupun situs e-commerce. Bahkan, masih ada yang memanfaatkan billboard sebagai cara film beriklan.

Salah satu contoh yang sukses adalah film komedi Masterminds yang bermitra dengan beberapa influencer media sosial populer untuk mempromosikan rilis film itu. Saat itu, para influencer membuat konten video dengan tagar #mastermindsmakeitrainchallenge. Hasilnya, film ini berhasil meraih ratusan juta penonton.

Editor: Sigit Kurniawan

 

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular








To Top