Lifestyle

Tribute To Avicii: From EDM to Global Marketing Machine

So wake me up when it’s all over
When I’m wiser and I’m older
All this time I was finding myself, and I
Didn’t know I was lost

Jumat, 20 April 2018 adalah hari di mana Disc Jockey (DJ) Avicii menghembuskan nafas terakhir. Pria kelahiran Swedia ditemukan tewas di kamar hotelnya di Muscat, Oman. Sampai saat ini, belum diketahui penyebab pasti kematian penyanyi kelahiran 8 September 1989 itu. Manajemen Avicii hanya menyatakan Avicii ‘ditemukan tewas’.

Tim Bergling, Avicii kecil, berlatih kemampuan memainkan turn table dan piringan hitam dari kamarnya di Stockholm. Ia pun tak menyangka bahwa genre Electronic Dance Music (EDM) berhasil membius puluhan juta remaja di seluruh dunia.

Rekam jejak awal Avicii cukup mengesankan. Lima juta keping CD terjual dan berhasil menjalin kontrak dengan label besar Universal Music. Dia juga bekerja sama dengan beberapa musisi EDM dan nama-nama besar di industri musik, dari “Queen of Clubs” Nadia Ali, veteran DJ Prancis David Guetta, Mac Davis, hingga Madonna.

Lebih dari 610 juta kali lagu Wake Me Up diputar di platform Spotify di seluruh dunia, menjadikannya sebagai lagu kedua paling banyak diputar pada tahun 2013. Avicii berhasil memenangkan beberapa penghargaan, salah satunya  Artis Musik EDM terbaik versi American Music Award (AMA).

Kehadiran musik EDM yang dilantunkan Avicii telah mengubah peta industri musik. Berawal dari klub malam dan pesta privat di gedung-gedung kosong, musik EDM berkembang menjadi sebuah konser akbar yang membutuhkan arena lapang, bahkan seluas lapangan sepakbola. Dengan harga tiket yang lebih murah ketimbang menengok konser Elton John atau Celine Dion, EDM membuat musik semakin lebih inklusif.

Dengan basis pendengar anak muda, tak heran Avicii kerap diajak bermitra dengan berbagai merek yang selama ini sulit menjangkau kalangan tersebut. Salah satunya, merek fesyen legendaris Ralph Lauren yang meluncurkan lini fesyen Denim & Supply. Lewat Avicii, merek desainer kondang itu berhasil menciptakan imej affordable di benak anak muda.

Meski engagement-nya tinggi kepada milelnnials, Avicii bukanlah DJ dengan bayaran tertinggi. Menurut Forbes, ia malah tak berada di posisi sepuluh besar DJ termahal. Avicii berada di bawah nama-nama besar DJ lain seperti, Swedish House Mafia, David Guetta, Tiesto, dan Calvin Harris yang pendapatan panggungnya bisa menembus US$ 20-40 juta setahun.

Pada gelaran Jakarta Marketing Week 2018, MarkPlus, Inc memainkan tembang Avicii dalam balutan acara Tribute to Avicii: The Sound of Millennials. Selamat jalan Avicii!

MARKETEERS X








To Top