Government & Public Services

Akankah Indonesia Punah Akibat Industri 4.0?

Photo Credits: 123rf

Peta Jalan Making Indonesia 4.0 menjadi strategi pemerintah dalam upaya membangkitkan perekonomian nasional. Aspirasi besarnya, Indonesia bisa  masuk sebagai 10 negara dengan perekonomian terkuat di dunia tahun 2030. Di sisi lain, timbul anggapan Industri 4.0 yang berbasis teknologi dikhawatirkan menggeser eksistensi manusia dan membuat Indonesia punah. Lantas, apa tanggapan pemerintah?

“Pondasi yang kita siapkan saat ini bisa menjadi dasar untuk percepatan pertumbuhan ekonomi kita di masa depan. Jadi tidak akan punah, justru jauh lebih maju,” tegas Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Ia justru meyakini implementasi Making Indonesia 4.0 akan mengantarkan Indonesia pada masa keemasan di tahun 2045 atau momentum 100 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Dengan roadmap tersebut, pemerintah ingin mengembalikan industri manufaktur jadi sektor andalan atau mainstream dalam pembangunan ekonomi. Selama ini industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi terbesar bagi produk domestik bruto (PDB),” kata Airlangga.

Berdasarkan catatan Kementerian Perindustrian, hingga jelang akhir tahun 2018, industri pengolahan masih sebagai penyumbang tertinggi terhadap PDB nasional yang mencapai 19,89%. Perolehan ini ditopang oleh sejumlah industri yang memiliki rata-rata pertumbuhan tertinggi pada periode 2015-2018.

Sektor tersebut, meliputi industri makanan dan minuman yang tumbuh hingga 8,71%, kemudian disusul industri barang logam, komputer, barang elektronika, mesin dan perlengkapan 4,02%, industri alat angkutan 3,67%, industri kimia 3,40%, serta industri tekstil dan pakaian 1,64%.

“Sektor-sektor itu terus memiliki kinerja yang positif. Apalagi saat ini mendapat prioritas pengembangan karena akan menjadi sektor pionir yang menerapkan industri 4.0 sesuai Making Indonesia 4.0,” tutur Airlangga.

Dengan potensi tersebut, Menperin meyakini Indonesia tidak akan punah pada 2030. Apalagi, adanya bonus demografi atau dominasi jumlah penduduk berusia produktif yang akan dinikmati Indonesia sampai 15 tahun ke depan, diyakini juga membawa pertumbuhan ekonomi nasional hingga 1%-2%. Hal ini berdasarkan pengalaman sebelumnya oleh Jepang, China, Singapura, dan Thailand.

“Saat ini income per kapita kita sekitar US$3.877 dan ditargetkan pada tahun 2045 sebesar US$23.199,” ungkapnya. Guna menembus sasaran tersebut, diperlukan komponen pertumbuhan industri manufaktur sebesar 6,3 % dengan kontribusi ke PDB mencapai 26 %. Jika target itu tercapai, petumbuhan ekonomi nasional mampu berada di angka 5,7 %.

“Jadi, kita sudah punya sasaran jangka pendek, menengah melalui Making Indonesa 4.0 (tahun 2030), dan panjang (2045). Bersama Bappenas, kami menetapkan target pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4%-6% pada periode 2020-2024,” imbuhnya. Menperin mengemukakan, era industri 4,0 atau ekonomi digital pun berpotensi membuka peluang terhadap peningkatan nilai tambah terhadap PDB nasional sebesarUSD150 miliar dollar pada tahun 2025.

“Selain itu, menciptakan kebutuhan tenaga kerja yang melek teknologi digital 17 juta orang. Rinciannya, sebanyak 4,5 juta orang adalah talenta di industri manufaktur dan 12,5 juta orang terkait jasa sektor manufaktur. Hal ini dinilai menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk merebutnya,” ujar Airlangga.








To Top