Finance

Allianz Optimistis Tahun Ini Pasar Asuransi Asia Bisa Lebih Baik

www.123rf.com

Tahun 2018, pertumbuhan asuransi di Asia, tidak termasuk Jepang,  hanya tipis, sekitar 2,3%. Ini merupakan kedua kalinya Asia tertinggal di belakang pertumbuhan global sejak pergantian milenium. Bahkan, dengan kenaikan 4,0% ini, Jepang masih tumbuh lebih cepat. Hasilnya, pada tahun 2018, Asia hanya menyumbang 16% dari pertumbuhan global. Padahal, pernah mencapai 81% pada 2017. Mesin pertumbuhan global untuk 2018 adalah dua pemain lama AS (42%) dan Jepang (11%).

Penyebab kinerja yang kurang maksimal ini mudah ditentukan. Menyusutnya pasar asuransi jiwa di Tiongkok dan Korea pada 2018. Keduanya menyumbang 40% dari total kumpulan premi regional, tidak termasuk Jepang. Di China, ini terutama disebabkan oleh penegakan peraturan terhadap perantara asuransi yang menjual produk wealth management.

“Tahun 2018 tidak menandai akhir dari kisah pertumbuhan Asia. Sebaliknya, pengawasan yang lebih ketat di China disambut baik, menandakan fase selanjutnya dari pembangunan yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Ditambah dengan kemajuan teknologi yang menakjubkan, China adalah pasar yang harus diperhatikan. Ini adalah tempat terbaik untuk belajar tentang masa depan industri kita,” kata Michaela Grimm, ekonom di Allianz Research dalam keterangan persnya.

Oleh karena itu, Allianz Research memperkirakan tahun ini akan terjadi rebound di Asia, di luar Jepang.  Mendorong pertumbuhan premi hingga hampir 11%. Bagaimana dengan Indonesia?

Joos Louwerier, Country Manager dan Direktur Utama Allianz Life Indonesia mengatakan saat memulai tahun 2018 kondisi cukup bagus. Namun,  sepanjang tahun beberapa peristiwa berdampak pada pasar, seperti perang dagang antara AS dan Cina, kenaikan harga minyak dan kenaikan suku bunga AS.

“Ini berdampak pada pasar asuransi jiwa pada tahun 2018.  Namun, kami dapat mengatasi tantangan ini dengan pertumbuhan positif dengan memberikan solusi perlindungan yang inovatif dan layanan yang sangat baik. Allianz juga berkomitmen untuk mendukung pemerintah meningkatkan penetrasi keuangan dan memberikan perlindungan kepada lebih banyak masyarakat Indonesia,” tambahnya.

Premi market di Indonesia tumbuh rendah pada 2018. Ini disebabkan oleh adanya penurunan pada pertumbuhan premi asuransi jiwa. Sebaliknya, premi Property & Casualty (P&C) tumbuh baik dan meningkat dua kali lipat dalam dua tahun terakhir. Meskipun demikian, segmen P&C,  menyumbang hanya seperempat dari total kumpulan premi di luar asuransi kesehatan.

Untuk tahun ini, Allianz Research mengharapkan pertumbuhan yang lebih tinggi, dengan pertumbuhan premi sekitar 9% secara keseluruhan. Pasar asuransi Indonesia masih  memiliki banyak ruang untuk mengejar ketinggalan. Premi per kapita mencapai EUR 50 pada tahun 2018, setara dengan India. Di sisi lain,  penetrasi hanya 1,5%. Sebagai perbandingan, penetrasi di China sudah mencapai 3,7%.

Allianz Research berharap pasar asuransi akan terus pulih, dengan perkiraan pertumbuhan premi global yang akan mencapai sekitar 5% dalam dekade mendatang. Ekspektasi  pertumbuhan untuk Asia, tidak termasuk Jepang, lebih tinggi. Kawasan ini dapat tumbuh sebesar 9,4% per tahun selama dekade mendatang.

Di Indonesia, pertumbuhan pasar total diprediksi sebesar 12,5%. Secara rinci, 13,0% untuk asuransi jiwa dan 10,7% untuk P&C. Secara keseluruhan, sekitar 60% dari premi tambahan akan dihasilkan di Asia, tidak termasuk  Jepang.








To Top