Transportation & Logistic

Ambisi BGR Logistics Menjadi Lebih dari Sekadar Perusahaan Logistik

Tahun 2019, bukanlah masa yang menguntungkan bagi beragam industri, termasuk industri logistik. Beragam isu mulai dari tahun politik hingga perekonomian yang naik turun membuat banyak pelaku bisnis dan konsumen lebih banyak menahan konsumsi.

Hal tersebut dirasakan betul oleh perusahaan logistik milik negara, BGR Logistics. Selama satu semester, BGR harus bersabar dengan kondisi yang terjadi pada tahun ini. Hal yang dialami BGR juga dirasakan oleh rekan-rekannya di sesama industri ini.

“Banyak klien kami yang menahan. Kami sendiri tidak tahu sebab pastinya mengapa mereka menahan,” ujar M. Kuncoro Wibowo, Direktur Utama PT Bhanda Ghara Reksa (Persero) atau dikenal dengan BGR Logistics.

Kuncoro sadar bahwa, perusahaan yang ia pimpin tidak boleh mengikuti arus. Ia meyakini harus segera melakukan sesuatu ketika pasar dirasakan sudah tidak bersahabat. Menunggu pasar pulih tentunya terlalu berisiko bagi kesehatan finansial perusahaan.

Karenanya, Kuncoro memutuskan bergerak dan mencari segmen baru di luar pasar utama mereka. Beragam pasar baru mereka sasar. Mulai dari segmen non-BUMN, pasar fast-moving consumer goods (FMCG), hingga masuk ke pasar limbah.

“Itu strategi kami dan terbukti tepat. Kami mencoba masuk ke pasar yang tidak ada kaitannya dengan klien kami sebelumnya, yakni limbah,” kata peraih Best Industry Marketing Champion 2019 dari sektor logistik ini.

Keputusan masuk ke pasar limbah berhasil mengurangi defisit yang dialami BGR Logistics sebelumnya. Baginya, segmen ini tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Dan ternyata, pemerintah membutuhkan institusi yang mau masuk ke sana. “Harus diakui segmen limbah ini sangat seksi dan secara ekonomi sangat scalable,” tambahnya.

Menurutnya, di DKI Jakarta saja setidaknya ada sekitar 1,2 juta ton limbah. Mayoritas limbah ini berasal dari segmen rumah tangga. Saking seksinya, Kuncoro menjelaskan bahwa penetrasi BGR Logistics di pasar limbah akan diperluas pada tahun 2020 mendatang. Selain limbah elektronik, ke depannya perusahaan ini siap menyasar limbah minyak jelantah dan oli bekas untuk diolah menjadi bahan biodiesel.

BGR Logistics juga berencana menyasar kalangan ritel agar bisa memperluas segmen limbah elektronik rumah tangga. Salah satu kemitraan sudah mereka jalin dengan startup decacorn, Grab. Nantinya konsumen ritel bisa membuang limbah elektroniknya yang akan diambil oleh mitra pengemudi Grab. Setelahnya limbah tersebut akan dibawa ke pengepul yang akan dipilah, kemudian diambil oleh armada BGR Logistics menuju tempat daur ulang. Di tempat terakhir, proses daur ulang dilakukan. Limbah elektronik akan ‘dipreteli’ untuk mengambil material timah dan tembaga.

Langkah-langkah inovatif ini harus dilakukan oleh perusahaan agar bisa meningkatkan bisnis. Tidak hanya bermain di segmen limbah, Kuncoro telah mempersiapkan beragam sistem yang sekiranya menjadi peran penting dalam industri logistik di masa depan. “Saat ini, kami tidak hanya bicara logistik lagi. Kami sedang menuju perusahaan beyond logistic,” tambahnya.

Kuncoro memiliki alasan logis mengapa BGR Logistics melakukan serangkaian inovasi sistem. Sebagai seseorang yang memiliki latar belakang industri teknologi, Ia yakin bahwa di masa depan, industri logistik adalah persoalan sistem. Konsep gudang dan armada logistik adalah konsep tradisional dari industri logistik. Maklum, margin yang mereka dapatkan dalam bisnis pergudangan dan armada cenderung tipis. Terlebih, semua pemain logistik memiliki gudang dan armada. Sehingga, kompetisinya semakin berdarah-darah. “Yang kami tawarkan adalah sistem yang kami bangun. Armada dan gudang itu hanya pelengkap,” ujarnya.

Semenjak Kuncoro menduduki kursi nomor satu di BGR, ia membangun beragam sistem yang fokus pada efektivitas dan efisiensi bisnis, baik internal dan eksternal. Beberapa sistem seperti Warehouse IIntegrated Apllication (WINA) dan Fleet Integrated and Monitoring Application (FIONA) diluncurkan. Sistem FIONA misalnya, memungkinkan BGR Logistics memantau seluruh aktivitas bisnis secara 24 jam penuh, mulai dari gudang hingga armada.

Sistem ini memungkin klien bisa memantau segala aktivitas pendistribusian barang. Mulai dari pencatatan SKU hingga puluhan ribu item, tracking dan laporan estimasi waktu serta lokasi secara real-time. Ketika mereka menggunakan sistem yang dibangun oleh BGR, maka klien bisa mendapatkan fasilitas armada dan gudang.

“Sistem ini yang sebenarnya dibutuhkan mereka. Banyak dari klien yang datang dan tertarik menggunakan sistem yang kami bangun,” jelas Kuncoro.

Digitalisasi sistem ini menjadi pembeda BGR Logistics dibanding perusahaan logistik lainnya. Bagi Kuncoro, kalau BGR Logistics tidak menerapkan ini, maka akan habis dilibas oleh pemain-pemain lain yang sudah memiliki nama besar.

Pada tahun 2020, BGR Logistics juga berencana membangun sebuah gudang modern terintegrasi di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Gudang ini akan dilengkapi dengan sistem canggih yang semakin memperluas efisiensi bisnis bagi perusahaan.

BGR Logistics akan berinvestasi sekitar Rp 500 miliar untuk pembangunan gudang modern, pembelian truk khusus, dan kapal tongkang. Truk khusus diperlukan untuk mengangkut beragam peralatan dan perlengkapan proyek infrastruktur yang sedang dibangun. Sementara, kapal tongkang dirasakan lebih hemat ketimbang menyewanya. BGR Logistics juga berencana masuk ke beragam peluang bisnis, setelah pemerintah memastikan akan memindahkan Ibu Kota ke Kalimantan.

Selain masuk ke segmen baru dan membangun sistem, BGR Logistics juga melakukan rebranding dan repositioning. Proses rebranding ini dilakukan agar BGR Logistics semakin fokus pada bisnisnya. Dengan penambahan kata ‘Logistic’ dan posisi sebagai digital logistics company membuat nama BGR Logistics kian diperhitungkan dalam industrinya. “Hasilnya orang tahu bahwa BGR Logistics bukanlah singkatan dari Bogor. Tapi, adalah perusahaan logistik berbasis digital,” tutup Kuncoro.

 








To Top