Consumer Goods

AP2LI Menargetkan Perusahaan MLM Indonesia Masuk Pasar Global

AP2LI

Bisnis penjualan langsung atau yang jamak dikenal multilevel marketing (MLM) tumbuh positif di Indonesia. Asosiasi Perusahaan Penjualan Langsung Indonesia (AP2LI) mencatat, terdapat perputaran uang hingga Rp 14 triliun setiap bulan dari industri ini. Meski tumbuh subur di dalam negeri, para pemain lokal belum mampu menunjukkan tajinya di pasar internasional.

“Industri penjualan langsung diawali dari masuknya perusahaan asing sejak tahun 1980. Hingga kini, 10% dari anggota kami merupakan pemain asing. Sisanya, pelaku bisnis lokal yang mendominasi,” jelas Andrew Susanto, Ketua Umum AP2LI di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Lebih dari itu, AP2LI memiliki visi untuk membawa 2-3 perusahaan lokal ini bisa menggapai pasar internasional. Terkait isu atau anggapan miring mengenai MLM, AP2LI selalu melakukan monitoring dan menjaga bersama pemerintah. Keduanya, terus menjaga agar bisnis yang berkedok MLM namun melakukan money game agar tidak tumbuh. Usaha-usaha yang merugikan masyarakat ini tidak akan dibiarkan hidup.

“Kami selalu memisahkan perusahaan MLM yang benar dengan yang menipu. Dalam sebulan, kami mengeluarkan delapan hingga 10 Surat Ijin Usaha Penjualan Langsung (SIUPL). Sepanjang tahun 2019, 60 perusahaan sudah mendapatkan SIUPL,” lanjut Andrew.

Selain menjaga, AP2LI juga menggairahkan para pemain dengan menggelar ajang penghargaan. Bertajuk Helmy Attamimi Award 2020, penghargaan yang diberikan bagi anggota AP2LI ini diharapkan mampu memacu motivasi dalam persaingan bisnis yang sehat.

Helmy Attamimi sendiri merupakan legenda di dunia penjualan langsung Indonesia. Salah satu jasanya adalah memberikan payung hukum dan diakui pemerintah dengan legalitas dan payung hukum yang jelas. Akhirnya pada tahun 2008, upayanya membuahkan hasil positif.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menerbitkan Peraturan Menteri Perdagangan no 32 tahun 2008. Lewat Permendag inilah industri Penjualan Langsung dapat dibedakan dengan Skema Piramida untuk kali pertama.

“Kini, peraturan tersebut diperbarui melalui Permendag no 70 tahun 2019. Kami yakin, bisnis akan terus tumbuh meski ekonomi sedang lesu,” tutup Andrew.

MARKETEERS X








To Top