Opinion

Apa yang Perlu Anda Lakukan Bila Ingin Menjadi Pemimpin?

Tentu Anda pernah mendengar nama mendiang Bob Sadino, Ciputra, Richard Branson, dan Jack Ma. Nama mereka seolah menjadi nama yang wajib disebutkan bila merujuk pada nama panutan pengusaha sukses.

Keempat nama ini memiliki latar belakang dan kisah yang berbeda. Mendiang Bob Sadino terkenal karena membangun bisnisnya dengan modal nekat. Jack Ma dikisahkan pernah mendaftar kerja di KFC, dari 24 pelamar hanya dirinya yang tidak diterima. Richard Branson kecil adalah seorang disleksia dan pernah dikeluarkan dari sekolah. Sedangkan Ciputra harus berjalan kaki tanpa alas kaki sejauh tujuh kilometer ke sekolah setiap harinya.

Nama-nama tersebut menjadi sukses bukan karena pahit dan kerasnya kehidupan mereka. Namun, kegigihan dan integritas mereka dalam memimpin organisasi bisnis mereka hingga saat ini. Meskipun masing-masing memiliki gaya kepemimpinan yang berbeda, kita sepakat bahwa mereka adalah pemimpin sukses. Dan, sebelum memiliki perusahaan raksasa, para pemimpin itu memulai bisnisnya pada skala Mikro, Kecil dan Menengah (UKM).

Seorang pemimpin harus bisa menggerakkan pikiran dan perasaan. Sering kita dengar bahwa seorang pemimpin yang hebat, selain harus punya keahlian atau ilmu yang tinggi, juga harus menguasai emosi dirinya sendiri. Artinya, Intelligence Quotient (IQ) dan Emotional Quotient (EQ) harusnya tinggi dan seimbang.

Dari sisi IQ, seorang pemimpin harus memiliki logical thinking, creative thinking, dan practical thinking. Logical thinking meliputi kemampuan untuk berpikir secara logis dan sistematis. Creative Thinking dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk berpikir dengan perspektif yang baru dan berbeda. Sedangkan practical thinking adalah kemampuan untuk berpikir sesuai dengan konteks yang ada.

Ketiga kemampuan intelektual ini saling melengkapi. Kasarnya seperti ini. Logical thinking tanpa kedua kemampuan lainnya, hasilnya adalah ide yang sistematis dan mudah dipahami. Namun, nantinya akan sulit mendapatkan penyegaran akan hal-hal baru serta mengawang-awang karena sulit diimplementasikan.

Sementara Creative Thinking tanpa Logical dan Practical Thinking hasilnya adalah ide yang baru namun tidak sistematis karena konsepnya absurd. Sementara Practical Thinking tanpa keduanya hanya menghasilkan ide yang mudah diterima dan diimplementasikan, tanpa ada argumentasi logis dan perspektif baru. Istilah zaman sekarangnya ‘Ya, B aja’.

Sebuah ide harus bisa disampaikan dengan jelas. Ide-ide yang disampaikan dengan sistematis akan lebih mudah dipahami dibandingkan ide yang disampaikan secara acak dan asal-asalan. Sedangkan logis dikelompokkan berdasarkan alasan yang masuk akal, dan tidak asal.

Pemimpin yang hebat tidak hanya diartikan seseorang yang pintar. Hal ini tidak akan ada artinya bila Anda tidak dapat mengendalikan dan mengelola emosi. Tentunya Anda sering mendengar cerita tentang sosok yang terlihat bijaksana dari luar. Namun, setelah Anda mengenalnya lebih jauh, ternyata sosok pemimpin yang bijaksana tadi memiliki masalah dengan emosinya sendiri. Tidak peduli apa pun gelar akademis Anda atau seberapa banyak perusahaan yang telah Anda dirikan, setiap pemimpin harus memiliki kemampuan dalam mengelola emosinya.

Sama seperti IQ, dalam mengelola emosi terdapat tiga tahapan. Pertama, recognition of emotion atau yang diartikan dengan kemampuan untuk mengenali kondisi emosi diri sendiri. Hal ini untuk memperbaiki diri jika Anda sendiri. Kita bisa memulai dengan pertanyaan, seperti sosok pemimpin seperti apa yang Anda inginkan? Sosok pemimpin seperti apa Anda saat ini? Bagaimana Anda bisa berubah menjadi sosok pemimpin seperti yang Anda dambakan?

Kedua, expression of emotion, yakni kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara tepat. Anda pasti kenal sosok Oprah Winfrey atau Andy F. Noya. Keduanya terkenal bisa menguasai emosi dari setiap narasumber di acaranya. Tidak hanya narasumber, bahkan penonton di layar kaca pun turut meneteskan air mata.

Apalagi tidak semua orang paham dengan apa yang ada di otak Anda. Seorang pemimpin adalah mereka yang bisa memengaruhi orang lain lewat ucapan dan tindakan. Ekspresi emosi akan menjadikan kalimat menjadi bernyawa. Ekspresikan emosi Anda dengan elegan.

Terakhir, management of emotion atau kemampuan untuk memengaruhi dan mengubah emosi orang lain. Contoh mudahnya adalah Bung Karno. Sosok legendaris ini terkenal sebagai orator dan kemampuannya dalam membangun emosi melalui kata-kata. Keahliannya menginspirasi banyak orang. Bahkan banyak politikus dalam negeri yang mencoba menjadi seperti beliau.

Untuk menyentuh emosi orang lain, Anda bisa menggunakan kecakapan dalam hal berbicara dan mengolah kata. Tenang saja, kami yakin tidak semua orang ahli dalam hal ini, apalagi untuk menjadi sehebat Bung Karno dalam berorasi. Sebab itu, Anda bisa menggunakan medium nonverbal untuk memengaruhi emosi orang lain. Misalnya melalui medium gambar, video, film, musik, hingga cerita.

Ketika Anda menjadi seorang pemimpin, tentunya Anda tidak sedang memimpin diri Anda sendiri. Ada beberapa orang mulai dari belasan, puluhan, ratusan, hingga ribuan kepala yang harus Anda pimpin. Itulah kenapa seorang pemimpin harus bisa bersosialiasi dengan orang lain.  Agar seorang pemimpin dapat dengan mudah melebur di lingkungan, baik kantor dan lingkungan di luar, mereka harus bisa menguasai tiga hal. Yaitu social awareness, social relationship management, dan social problem solving.

Social Awareness dapat diartikan sebagai kemampuan untuk memahami konteks dan situasi sosial yang sedang terjadi. Social Awareness adalah kemampuan dalam memahami apa yang dirasakan orang lain atau dikenal dengan empati. Dengan memiliki social awareness, Anda bisa memiliki pengaruh lebih besar terhadap orang-orang di lingkungan Anda. Ini lantaran Anda memahami kondisi orang tersebut sehingga Anda bisa nyambung ketika membicarakan banyak hal.

Sementara, social relationship management merupakan kemampuan menjalin hubungan dengan berbagai pihak. Anda pasti pernah mengalami situasi seperti ini. Ketika berada di sebuah seminar, kemudian berkenalan dengan satu orang, lantas mengucapkan ‘Oh, kerja di perusahaan A. Kenal sama dengan si X dong.” Atau ketika Anda akhirnya berhasil kopi darat dengan seseorang yang Anda temukan di Tinder, “Loh, kamu lulusan dari Kampus B? Aku punya teman di situ namanya si X, kenal dong ya.”

Tentunya Anda akan berpikir, ‘Teman saya yang satu ini, kok, terkenal banget ya. Di mana-mana, ada aja yang kenal.’ Anda mungkin perlu berpikir ulang tentang lingkungan Anda sehari-hari. Bisa jadi, Anda cenderung mencari teman atas dasar kesamaan, baik sifat, pengalaman, dan asal daerah. Hal itu memang tidak salah. Sebab, kumpul dengan orang yang satu latar memang membuat kita nyaman dan nyambung.

Di sisi sebaliknya, hal seperti ini lumayan bahaya. Berkumpul hanya dengan orang yang satu ide dan latar bisa mengurangi kemampuan Anda dalam menghadirkan ide dan gagasan baru. Seorang pemimpin harus bisa menerima gagasan dari beragam latar. Karenanya, kita perlu melebarkan jaringan pertemanan melampaui faktor kesamaan dan kedekatan.

Sementara, Social Problem Solving adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah sosial. Mungkin ini adalah tahapan yang sulit. Kemampuan untuk menyelesaikan masalah sosial membutuhkan level tingkat dewa, karena ini bukan hanya perkara pribadi. Butuh kematangan emosi dan kemampuan komunikasi untuk menyelesaikannya.

Dari beragam penjelasan itu, yang terpenting dari menjadi seorang pemimpin adalah kesadaran akan visi dan misi pribadi. Menurut Ricky J. Pesik, Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, pemimpin adalah salah satu sosok yang menentukan sukses tidaknya sebuah bisnis. Bahkan, tidak sedikit investor yang menanamkan modal ke sebuah perusahaan karena faktor pemimpinnya memiliki visi yang jelas.

“Industri kreatif ini sangat bergantung pada visi dari setiap founder-nya. Karena dalam industri kreatif itu basisnya adalah kreasi. Dan dalam menciptakan sebuah kreasi sangat diperlukan vision dari seorang leader,” terang Ricky.

Selain masalah visi dan misi, hal lainnya adalah kepercayaan pada diri sendiri, serta kemampuan memotivasi diri sendiri. Bayangkan bila Anda tidak yakin dengan usaha yang Anda bangun saat ini. Apakah hal tersebut akan membuat bawahan Anda yakin dengan instruksi yang Anda berikan?

Dan, di luar itu, tentunya ada hal mendasar yang harus dimiliki seorang pemimpin. Yakni sikap jujur, konsisten, bertanggung jawab, dan murah hati.

Editor: Sigit Kurniawan








To Top