Lifestyle

Belanja Kini Juga Menjadi Daya Tarik Wisata

SUMBER: 123RF

Berbelanja menjadi aktivitas yang tidak bisa terlepaskan dari industri pariwisata. Riset Pacific Asia Travel Association (PATA) pada tahun 2018 menyebutkan, ada tiga kategori turis dalam berbelanja.

Pertama, souvenir shopper. Mereka yang berbelanja hanya untuk membeli cinderamata bagi keluarga atau temannya ketika kembali dari perjalanan. Kedua, journey shopper. Mereka yang berencana melihat-lihat ke suatu tempat perbelanjaan ketika tengah berwisata kemudian berbelanja.

Terakhir, list shopper. Mereka yang sengaja pergi ke suatu tempat dan berbelanja. Para list shopper biasanya telah memiliki daftar barang yang akan dibelanjakan. Di Indonesia, kalangan list shopper ini dikenal juga sebagai penyedia jastip alias jasa titip. Negara seperti Korea Selatan, Thailand, dan Singapura menjadi destinasi utama para kalangan list shopper.

Biro Pusat Statistik (BPS) Indonesia menyebutkan, pada tahun 2018, rata-rata pengeluaran turis domestik ketika berwisata mencapai angka Rp 959.000 dalam satu kunjungan. Untuk turis mancanegara, rata-rata mereka menghabiskan US$ 1.100- US$ 1.200 dalam satu kunjungan wisata. Sementara, Amadeus melalui riset The Future of Retail Travel in Asia Pacific pada tahun 2019 menemukan, total pengeluaran wisatawan Indonesia selama tahun 2019 mencapai US$ 26 miliar. Angka ini tergolong kecil bila dibandingkan dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand.

Sebagai perbandingan, data Tourism Authority Thailand (TAT) pada tahun 2016 mencatat, pemasukan industri perbelanjaan Thailand mencapai ฿ 3,42 miliar, atau sekitar Rp 1,5 triliun. Dari keseluruhan pendapatan tersebut, sekitar ฿ 2,77 miliar atau sekitar Rp 1,2 triliun merupakan pendapatan yang diterima dari sektor pariwisata.

Namun, riset Amadeus meyakini nilai belanja wisatawan Indonesia akan tumbuh signifikan pada tahun 2025. Penyebabnya karena Indonesia memiliki generasi muda yang potensial. Sebanyak 35% dari penduduk Indonesia saat ini berada di bawah usia 20 tahun. Sebentar lagi, mereka akan memiliki penghasilan yang dapat dihabiskan untuk berwisata.

Hal ini juga didukung oleh data Booking.com terkait preferensi pengeluaran kalangan Gen Z di Indonesia dalam lima tahun mendatang. Di antara beragam prioritas pengeluaran, seperti uang muka rumah, investasi pendidikan, biaya pernikahan, gadget, dan kebutuhan fesyen, traveling menjadi prioritas utama Gen Z dalam lima tahun mendatang. Di Indonesia, 79% Gen Z ingin traveling dan melihat dunia.

Senior Vice President Credit Cards Bank Mandiri Vira Widiyasari mengungkapkan, travelling menjadi salah satu kategori yang berkembang. Hal ini terlihat dari penggunaan kartu kredit untuk melengkapi kebutuhan bepergian. Setiap tahunnya terjadi peningkatan penggunaan kartu kredit di sektor pariwisata dan pendukungnya sebanyak 25%-30%.

“Sekarang, para milenial dan generasi Z banyak yang sudah memiliki pendapatan sendiri. Sehingga, ekonomi pun membaik. Dampaknya signifikan, utamanya terlihat pada penggunaan kartu kredit oleh pelanggan untuk kebutuhan pariwisata,” imbuh Vira.

Shopping merupakan bagian dari gaya hidup yang sangat dekat dengan masyarakat. Peluang itu tentunya tak ingin dilewatkan oleh para pemain di industri ritel dan destinasi wisata. Dengan permintaan pasar yang besar, penting bagi pihak-pihak terkait untuk menyediakan pengalaman yang menyenangkan bagi para turis.

“Saat ini, adalah momentum untuk perubahan. Konsep new retail adalah masa depan, yang mana toko fisik akan digunakan untuk menginspirasi konsumen. Terlepas dari apakah mereka melihat atau memesannya secara online atau offline,” kata Karun Budhraja, Vice President Corporate Marketing & Communications Asia Pacific Amadeus.

Most Popular








To Top