Finance

Beradaptasi Saat Pandemi, Jasa Raharja Terapkan Transformasi Digital

PHOTO CREDIT: 123RF

Tranformasi digital menjadi salah satu strategi Jasa Raharja mencoba bertahan ditengah pandemi. Caranya dengan memaksimalkan proses operasional secara digital menggunakan infrastruktur yang telah dikembangkan,

“Sebetulnya sebelum COVID-19, Jasa Raharja telah mempersiapkan infrastruktur untuk digitalisasi. Sehingga, ketika kondisi kita tidak bisa bertemu, pelayanan pun masih terjamin,” ujar Wahyu Wibowo, Direktur Manajemen Risiko dan Teknologi Informasi Jasa Raharja dalam acara Industry Roundtable: Surviving The COVID-19, Preparing The Post Insurance Industry Perspective, pada Selasa (05/05/2020).

Tranformasi digital dilakukan dengan pengembangan produk aplikasi oleh unit perusahaan untuk mendukung operasional dan performa internal, seperti HRIS dan aplikasi JRku. Melalui aplikasi JRku, nasabah bisa mendapatkan klaim melalui e-money atau uang digital. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat proses pengklaiman

“Pengklaiman dapat dilakukan secara cepat bahkan hanya sehari. Misal seperti minggu lalu ada kecelakaan pada hari Sabtu, hari Minggu pun sudah dapat mengklaim. Padahal dalam undang-undang proses pengklaiman boleh memakan waktu sampai 30 hari,” jelas Wahyu.

Wahyu menegaskan, dalam tranformasi digital yang perlu diperhatikan adalah governance. Artinya, diperlukan manajemen atau arahan yang jelas dalam mempermudah proses digitalisasi sehingga membangun kepercayaan baik bagi nasabah maupun karyawan kepada perusahaan.

“Dalam masa pandemi ini, kami terus memprioritaskan keamanan dari SDM kami. Jangan sampai ada ketakutan, sehingga diperlukannya alat-alat untuk mendukung tranformasi digitalisasi baik bagi pelayanan maupun kinerja karyawan,” kata Wahyu.

Setidaknya terdapat tiga peluang tranformasi digital dalam masa COVID-19. Pertama, business intelligence dengan melakukan big data analytics untuk membantu top management dalam mengambil keputusan dan membuat strategi bisnis serta pengembangan produk inovatif yang akurat berdasarkan data.

Kedua, tranformasi kerja ke arah digital dan pemanfaatan hasil big data analytics sehingga nantinya akan siap sebagai perusahaan yang berbasis pada data dan teknologi. Dengan mempersiapkan infrastruktur seperti penguatan disaster recovery center dan mengubah sistem keamanan operasional kerja berbasis teknologi informasi.

Ketiga, pengembangan budaya digital melalui penguatan kompetensi data analytics di semua fungsi baik di kantor pusat, kantor cabang, dan sinergi yang dijalin dengan mitra kerja berbasis teknologi.

Editor: Ramadhan Triwijanarko

MARKETEERS X








To Top